TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Konsep Dasar Kasus
1.
Kehamilan
a.
Pengertian Kehamilan
Kehamilan adalah fertilitas atau penyatuan dri
spermatozoa dan ovum dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung
dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung
dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan atau 9 bulan menurut kalender
internasional. Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, dimana trimester pertama
berlangsung 12 minggu, trimester kedua 15 minggu (minggu ke 13-27 minggu) dan
trimester ke tiga 13 minggu (minggu ke 28-40 minggu).
(Prawiroharjo, 2014:213)
b.
Tujuan Asuhan Kehamilan
1) Memantau kemajuan kehamilan, memastikan kesejahteraan ibu dan
tumbuh kembang janin.
2) Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, serta sosial
ibu dan bayi.
3) Menemukan secara dini adanya masalah/gangguan dan kemungkinan
komplikasi yang terjadi selama masa kehamilan.
4) Mempersiapkan kehamilan dan persalinan dengan selamat, baik ibu
maupun bayi, dengan trauma seminimal mungkin.
5) Mempersiapkan ibu agar masa nifas dan pemberian ASI eksklusif
bejalan normal.
6) Mempersiapkan ibu dan keluarga dapat berperan dengan baik dalam
memelihara bayi agar dapat tumbuh dan berkembang secara normal.
(Sulistyawati, 2013)
c.
Standar Asuhan Kehamilan
Kunjungan
Ante-natal care (ANC) Minimal :
a) Satu kali pada trimester I (usia kehamilan 0-13 minggu)
b) Satu kali pada trimester II (usia kehamilan 14-27 minggu)
c) Dua kali pada trimester III (usia kehamilan 28-40 minggu)
(Sulistiyawati,
2016)
Pelayanan
Antenatal Terpadu
Pelayanan
antenatal sesuai standar meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik (umum dan
kebidanan).Pemeriksaan laboratorium rutin dan khusus (sesuai resiko yang
ditemukan dalam pemeriksaan). Dalam penerapannya terdiri atas 10 T yaitu:
a) Menimbang Berat badan
b) Mengukur lingkar lengan atas (LILA)
c) Mengukur tekanan darah
d) Mengukur Tinggi Fundus uteri (TFU)
e) Menghitung Denyut Jantung Janin (DJJ)
f) Menentukan Presentasi Janin
g) Memberikan Imunisasi Toksoid (TT)
h) Memberikan Tablet fe
i) Pemeriksaan Laboratorium
j) Tata laksana
(Astuti,
2017, h. 124).
d.
Perubahan Anatomi dan Fisiologi Ibu Hamil
1)
Sistem reproduksi
a)
Uterus
Uterus
akan membesar pada bulan-bulan pertama di bawah pengaruh estrogen dan
progesteron.
(1) Peningkatan vaskularisasi dan dilatasi pembuluh darah,
(2) Hyperplasia dan Hipertrofi,
(3) Perkembangan desidua.
Tabel 2.1
(TFU Menurut Penambahan Pertiga jari)
|
Usia
kehamilan (minggu)
|
Tinggi Fundus
Uteri
(TFU)
|
|
12
|
3
jari diatas simpisis
|
|
16
|
Pertengahan
pusat dan simpisis
|
|
20
|
3
jari dibawah pusat
|
|
24
|
Sepusat
|
|
28
|
3
jari di atas pusat
|
|
32
|
Pertengahan
pusat dan simpisis
|
|
36
|
3
jari di atas dibawah px
|
|
40
|
Pertengahan
pusat dan px
|
Sumber: (Sulistiyawati, 2016, h. 60)
Tabel 2.2
Bentuk uterus berdasarkan usia kehamilan
|
Usia
kehamilan
|
Bentuk dan
konsistensi uterus
|
|
Bulan
pertama
|
Seperti
buah alpukat isthmus rahim menjadi hipertropu dan bertambah panjang, sehingga
bila diraba terasa lebih lunak, keadaan ini yang disebut dengan tanda Hegar
|
|
2
bulan
|
Sebesar
telur bebek
|
|
3
bulan
|
Sebesar
telur angsa
|
|
4
bulan
|
Berbentuk
bulat
|
|
5
bulan
|
Rahim
yeraba seperet berisi cairan ketuban, rahim terasa tipis, itulah sebabnya menggapa bagian-bagian
jainin ini akan dapat dirasakan melalui peradabaan dinding perut
|
(Sulistiyawati,
2016, h. 60).
b)
Ovarium
Ovulasi
berhenti namun masih terdapat korpus luteum graviditas sampai terbentuknya
plasenta yang akan mengambil alih pengeluran estrogen dan progesterone.
c)
Vagina
dan Vulva
Oleh
karena pengaruh estrogen, terjadi hipervaskularisai pada vagina dan vulva,
sehingga pada bagian tersebut terlihat lebih merah atau kebiruan, kondisi ini
disebut dengan tanda Chadwick.(Sulistiyawati,
2016, h. 61).
2)
Sistem kardiovaskuler
Setelah
mencapai kehamilan 30 minggu, curah jantung agak menurun karena batas
pembesaran rahim menekan vena yang membawa darah dari tungkai ke jantung.Curah
jantung meningkat sebesar 30% setelah persalinan curah jantung menurun sampai
15-25% di atas batas kehamilan, lalu secara perlahan kembali ke batas kehamilan.(Sulistiyawati,
2016, h. 61).
3)
Sistem Urinaria
Pada
akhir kehamilan, peningkatan aktivitas ginjal yang lebih besar terjadi sarat
wanita hamil yang tidur miring. Tidur miring mengurangi tekanan dari rahim pada
vena yang membawa darah dari tungkai sehingga terjadi perbaikan aliran darah
yang selanjutnya akan meningkat aktivitas ginajal dan curah jantung
(Sulistiyawati, 2016, h. 62).
4)
Sistem Gastrointenstinal
Wanita hamil sering mengalami rasa panas di dada (heartburn)
dan sendawa, yang kemungkinan terjadi karena makanan yang lebih lama berada di
dalam lambung dan karena relaksasi sftingter di kerongkongan bagian bawah yang
memungkinkan isi lambung mengalir kembali ke kerongkongan. (Sulistiyawati,
2016, h. 63)
5)
Sistem Metabolisme
Kebutuhan
zat besi wanita hamil kurang lebih dari 1.000 mg, 500 mg dibutuhkan untuk
meningkatkan masa sel darah merah dan memasuki 300 mg un tuk ditransportasi ke
fetus ketika kehamilan memasuki usia 12 minggu, 200 mg sisanya untuk menggantikan
cairan yang keluar dari tubuh. Pada metabolisme mineral yang terjadi adalah
sebagai berikut:
a)
Kalsium.
Dibutuhkan rata-rata 1,5 gram sehari, sedangkan untuk pembentukan tulang
terutama di trimester akhir dibutuhkan 30-40 gram.
b)
Fosfor.
Dibutuhkan rata-rata 2gr/hari.
c)
Air.
Wanita hamil cenderung mengalami retensi air (Sulistiyawati, 2016: 63)
6)
Sistem Muskuloskeletal
Adanya
sakit punggung ligament pada kehamilan tua disebabkan oleh meningkatnya
pergerakan pelvis akibat pembesar uterus.(Sulistiyawati, 2016, h. 64).
7)
Kulit
Topeng
kehamilan (closma gravdarum) adalah
bintik-bintik pigmen kecoklatan yang tampak di kulit kening dan pipi.Pembesaran
rahim menimbulkan peregangan dan menyebabkan robeknya serabut elastis dibawah
kulit, sehingga menimbulkan Striae gravidarum/Striae
lividae. Kulit perut pada linea alba bertambah pigmentasinya dan disebut
sebagai linea nigra. (Sulistiyawati,
2016, h. 65).
8)
Payudara
a)
Selama
kehamilan payudara bertambah besar, tegang, dan berat
b)
Dapat
teraba nodul-nodul, akibat hipertropu kelenjar alveolu
c)
Bayangan
vena-vena lebih membiru
d)
Hiperpigmentasi
pada areola pada putting susu
e)
Kalau
diperas akan air susu jolong (kolostrum) berwarna kuning
(Sulistiyawati,
2016, h. 65).
9)
Sistem endrokin
Selama
siklus menstruasi normal, hipofisis anterior memproduksi LH dan FSH (follicle stimulating hormone) merangsang
folikel de graff untuk menjadi matang dan berpindah ke permukaan ovarium di
mana ia dilepaskan. Folikel yang kosong dikenal sebagai korpus leteum
dirangsang LH untuk memproduksi
progesteron. (Sulistiyawati, 2016, h.
66).
10)
Indeks Massa Tubuh (IMT) dan
Berat Badan
Cara
yang dengan dipakai untuk menenrukan
berat badan menurut tinggi badan adalah dengan menggunakan indeks massa indeks
massa tubuh (IMT) dengan rumus berat badan dibagi tinggi badan pangkat 2
19,8-26,6
: Normal
<19,8 :
Underweight
26,6-29,0
: Overweight
>29,0
: Obese
Disarankan
pada ibu haml primigravida untuk tidak menaikan untuk tidak menaikan berat
badannya lebih dari 1 kg/bulan
Perkiraan
peningkatan berat badan yang dianjurkan 4 kg
pada kehamilan trimester I, 0,5 kg/ minggu
pada kehamilan trimester II adan sampai
III, Totalnya
sekitar 15-16 kg.
(Sulistiyawati,
2016, h. 69).
11)
Sistem Pernapasan
Ruang
abdomen yang membesar oleh karena meningkatnya ruang rahim dan pembentukan
hormone progesteron menyebabkan paru-paru berfungsi sedikit berbeda dari
biasanya.
(Sulistiyawati,
2016, h. 69).
a) Perubahan dan Adaptasi Psikologi dalam Masa Kehamilan
b) Perubahan peran selama kehamilan
c) Tahapan antisipasi
Dalam
tahapan ini wanita akan mengalami adaptasi perannya dengan merubah peran
sosialnya melalui latihan formal (misalnya kelas-kelas khususnya kehamilan) dan
informal melalui model peran (Role model)
a)
Tahapan
honeymoon
Pada tahapan ini wanitra
sudah mulai mecoba memenerima peran baruya dengan cara mencoba menyesuaikan
diri.
b)
Tahapan
stabil
Tahapaan sebelumnya
mengalami peningkatan samapai ia mengalami satu titik stabil danpenerimaan
peran barunnya. Ia akan melakukan aktivitas-aktivitas yang bersifat positif dan
berfokus untuk kehamilannya, seperti mencari tahu tentang informasi seputar
persiapan kelahiran, cara mendidik dan merawata anak, serta hal yang berguna
untuk menjaga kondisi kesehatan keluarga.
c)
Tahapan
akhir (Perjanjian)
Meskipun ia sudah cukup
stabil dalam menerima perannya, namun ia tetap mengadakan “perjanjian” dengan
dirinya sendiri untuk dapat mungkin “menepati janji” mengenai
kesepakatan-kesepakatan internal yang telah ia buat brkaitan dengan apa yang
akan ia perankan sejak saat ini sampai bayinya lahir kelak.
e.
Perubahan psikologi Trimester I
(Periode Penyesuaian)
1)
Ibu
merasa tidak sehat dan kadang merasa benci dengan kehamilannya,
2)
Kadang
muncul penolakan, kekecawaan, kecemasan, dan kesedihan. Bahkan kadang ibu
berharap agar dirinya tidak hamil saja.
3)
Ibu
akan selalu mencari tanda-tanda ia apakah ia benar hamil
4)
Setiap
perubahan yang terjadi dalam dirinya akan selalu mendapat perhatian dengan
seksama
5)
Oleh
karena perutnya masih kecil, kehamilan merupakan rahasia seorang ibu yang
mungkin akan diberitahukannya kepada orang lain atau masalah mungkin
dirahasiakannya.
6)
Hasrata
untuk melakukan hubungan seks berbeda-beda pada tiap wanita, tetapi kebanyakan
akan mengalami penurunan.
f.
Perubahan Psikologi Trimester II (Periode
Kesehatan yang Baik)
1)
Ibu
merasa sehat, tubuh ibu sudah terbiasa dengan kadar hormone yang tinggi.
2)
Ibu
sudah bisa menerima kehamilannya
3)
Merasakan
gerakan anak
4)
Merasa
lepas dari ketidaknyamanan dan kehawatiran
5)
Libido
meningkat
6)
Menuntut
perhatian dan cinta
7)
Merasa
bahwa bayinya sebagai individu yang merupakan bagian dari dirinya.
8)
Hubungan
sosial meningkat dengan wanita hamil lainnyaa atau pada orang lain yang baru
menjadi ibu.
9)
Keterkaitan
dan aktivitas terfokus pada kehamilan, kelaahiran, dan persiapan untuk peran
baru.
g.
Perubahan Psikologi Trimester III
(Periode Penantian dengan Penuh Kewaspadaan)
1)
Rasa
tidak nyaman timbul kembali, merasa dirinya jelek, aneh, dan tidak menarik.
2)
Merasa
tidak menyenangkan ketika bayi tidak lahir tepat waktu
3)
Takut
akan rasa sakit dan bahaya fisik yang timbul pada saat melahirkan, khawatir
akan keselamatannya.
4)
Khawatir
bayi akan dilahirkan dalam keadaan tidak normal, bermimpi yang mencerminkan
perhatian dan kehawatirannya.
5)
Merasa
sedih karena akan terpisah dari bayinya
6)
Merasa
kehilanan mudah kehilagan perhatian
7)
Perasasaan
mudah terluka (Sensitif)
8)
Libido
menurun.
(Sulistiyawati,
2016, h. 75-77).
h.
Kebutuhan Ibu Hamil
1)
Diet makan
Kebutuhan
makanan pada ibu hamil mutlak harus dipenuhi. Kekurangan nutrisi dapat
menyebabkan anemia, abortus, IUGR, inersia uteri, perdarahan pasca persalinan,
sepsis puerperalis, dan lain-lain. Sedangkan kelebihan makanan karena
beranggapan pemenuhan makan untuk dua orang akan berakibat kegemukan,
pre-eklampsi, janin terlalu besar, dan sebagainya. Hal penting yang harus
diperhatikan sebenarnya adalah cara mengatur menu dan pengolahan menu tersebut
dengan berpedoman pada pedoman umum gizi seimbang. Bidan sebagai pengawas
kecukupan gizinya dapat melakukan pemantauan terhadap kenaikan berat badan
selama kehamilan.
Status
gizi ibu yang kurang baik sebelum dan selama kehamilan merupakan penyebab utama
dari berbagai persoalan kesehatan yang serius pada ibu dan bayi, yang berakibat terjadinya bayi lahir dengan
berat badan rendah, kelahiran prematur, serta kematian neonatal dan prenatal.
Padahal usaha perbaikan status gizi ibu hamil telah banyak dilakukan di
berbagai Negara.
2)
Oksigen
Kebutuhan
oksigen berhubungan dengan perubahan sistem pernafasan pada masa kehamilan.
Kebutuhan
oksigen selama kehamilan meningkat sebagai respon tubuh terhadap akselerasi
metabolisme rate perlu untuk menambah jaringan pada payudara, hasil konsepsi
dan masa uterus dll, akibat terjadi perubahan anatomi paru, diameter thoraks
meningkat ± 2 cm lingkaran dada akan meningkat 5-7 cm, sudut costa ± 68º
sebelum kehamilan menjadi 103º pada kehamilan trimester ketiga.
3)
Nutrisi
Nutrisi
berkaitan dengan pemenuhan kalori yang digunakan oleh tubuh sebagai pengelola :
a)
Proses
physic 66% digunakan tubuh untuk kebutuhan: (pernafasan + sirkulasi +
pencernaan + sekresi + temperature tubuh) ditambah untuk pertumbuhan dan
perbaikan = 1,440 kcal/Dag.
b)
Aktivitas/
hari seperti jalan, posisi tubuh, bicara perpindah-pindahan dari satu tempat
kesatu tempat yang lain, makan membutuhkan energy 17% total tidak hamil.
Bekerja rata-rata 7-10% = 150-200 Kcal.
c)
Metabolisme 7% 144 Kcal dengan pembagian: kondisi
tidak hamil = 2100 Kcal/hari, Hamil = 2500 Kcal/hari (fetus, plasenta, uterus,
mammae), lactasi = 3000 kcal/hari.
(Ai yeyeh, 2014, h. 77-78).
4)
Personal hygiene
Personal
hygiene ini berkaitan dengan perubahan sistem pada tubuh ibu hamil, hal ini
disebabkan, selama kehamilan PH vagina menjadi asam berubah dari 4-3 menjadi
5-6,5 akibat vagina mudah terkena infeksi, stimulus oestrogen menyebabkan
adanya fluor albus (keputihan), peningkatan vaskularisasi di perifer
mengakibatkan wanita hamil sering berkeringat, uterus yang membesar menekan
kandung kemih, mengakibatkan keinganan wanita hamil untuk erring berkemih,
mandi teratur mencegah iritasi vagina, teknik pencucian perianal dari depan kebelakang,
pada triwulan pertama wanita hamil mengalami enek dan muntah (morning
sickness). Keadaan ini menyebabkan perawatan gigi tidak diperhatikan dengan
baik, sehingga timbul karies, gingivitis, dan sebagainya.
5)
Pakaian
Baju
hamil yang praktis selama enam bulan kehamilan menggunakan baju biasa yang
longgar, pilihlah bahan yang tidak panas dan mudah menyerap keringat, bagian
dada harus longgar karena payudara akan membesar, bagian pinggang harus longgar
kalau perlu terdapat tali untuk menyesuaikan perut yang terus membesar, brach
disiapkan paling sedikit dua buah dengan bukaan didepan untuk memudahkan
menyusui, sepatu kenakan yang bertumit tetapi jangan yang rata dan hindari
sepatu yang bertali karena akan merepotkan.
6)
Eliminasi
Kebutuhan
fisik ibu hamil akan eliminasi berkaitan dengan adaptasi gastrointestinal
sehingga menyebabkan penurunan tonus dan motiliti lambung dan usus terjadi
reabsorbsi zat makanan peristaltic usus lebih lambat sehingga menyebabkan
konstipasi.
Ibu
hamil sering mengalami gangguan eliminasi misalkan susah buang air besar
berkaitan juga dengan perubahan hormone progesteron, yang sifatnya membuat
relaksasi otot-otot polos sehingga usus mengalami gangguan peristaltic yang
fungsinya untuk mendorong feses keluar dan semakin ibu sulit BAB, faeses
semakin menumpuk dan akhirnya mengeras.
7)
Seksual
Meningkatnya vaskularisasi pada vagina dan visera pelvis dapat
mengakibatkan meningkatnya sensitifitas seksual sehingga meningkatkan hubungan
intercourse sebaiknya ketakutan akan injuri pada ibu ataupun janin akan
mengakibatkan menurunya pola seksualitas, anjuran yang diberikan yaitu jangan
melakukan hubungan intercourse sesudah buang air kecil.
8)
Mobilisasi, body mekanik
Berhubungan dengan
sistem muskuloskeletal, persendian sakroiliaka, sakro-koksigis dan
pubik yang akan menyebabkan adanya keretakan, pusat gravitasi berubah sehingga
postur tubuh berubah, terjadi perubahan fostur tubuh menjadi lordosis
fisiologis. Penekanan pada ligament dan pelvic, cara baring, duduk, berjalan
dan berdiri dihindari jangan sampai
mengakibatkan injuri karena jatuh.
9)
Exercise/Senam hamil
Berhubungan dengan adanya peregangan otot-otot, perlunakan
ligament-ligament dan pelonggaran
persendian sehingga area yang paling bawah terpengaruh adalah tulang belakang
(curva lumbar yang berlebihan), otot-otot abdominal (meregang diatas uterus),
otot dasar panggul (menahan berat badan dan tekanan uterus).
Tujuannya menyangga dan menyesuaikan tubuh agar lebih baik dalam
menyangga beban kehamilan, memperkuat otot untuk menopang tekanan tambahan,
membangun daya tahan tubuh, memperbaiki sirkulasi dan respirasi, menyesuaikan
dengan adanya pertambahan berat badan dan perubahan keseimbangan, meredakan
ketegangan dan membangun relaksasi, membentuk kebiasaan bernafas yang baik,
memperoleh kepercayaan sikap mental yang baik
10)
Istirahat dan Tidur
Berhubungan dengan kebutuhan kalori pada, pada masa kehamilan,
mandi air hangat sebelum tidur, tidur dalam posisi miring kekiri, letakan
beberapa bantal untuk menyangga, pada ibu hamil sebaiknya banyak menggunakan
waktu luangnya untuk banyak istirahat atau tidur walau bukan tidur betulan
hanya baringkan badan untuk memperbaiki sirkulasi darah, jangan bekerja terlalu
capek dan berlebihan.
11) Imunisasi
Kehamilan bukan saat untuk memakai program imunisasi terhadap
berbagai penyakit yang dapat dicegah, hal ini karena kemungkinan adanya akibat
yang membahayakan janin.Imunisasi harus diberikan pada wanita hamil hanya
vaksin tetanus untuk mencegah kemungkinan tetanus neonatorum.
Tabel 2.3
Imunisasi TT
|
Antigen
|
Interval
(selang waktu minimal
|
Lama
Perlindungan
|
%
perlindungan
|
|
TT1
|
Pada kunjungan antenatal pertama
|
-
|
-
|
|
TT2
|
4 minggu setelah TT1
|
3 tahun
|
80
|
|
TT3
|
6 bulan setelah TT2
|
5 tahun
|
95
|
|
TT4
|
1 tahun setelah TT3
|
10 tahun
|
99
|
|
TT5
|
1 tahun setelah TT4
|
25 tahun/seumur hidup
|
99
|
12) Persiapan
persalinan
Meskipun hari perkiraan persalinan masih lama tidak ada salahnya
jika ibu dan keluarga mempersiapkan persalinan sejak jauh hari sebelumnya.Ini
dimaksudkan agar jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan atau persalinan
maju dari hari perkiraan semua perlengkapan yang dibutuhkan sudah siap.
Beberapa hal yang harus dipersiapkan untuk perslinan adalah:
a)
Biaya
dan penentuan tempat serta penolong persalinan
b)
Anggota
keluarga yang dijadikan sebagai pengambil keputusan jika terjadi suatu
komplikasi yang membutuhkan rujukan
c)
Baju
ibu dan bayi beserta perlengkapan lainnya
d)
Surat-surat
fasilitas kesehatan (misalnya Askes, jaminan kesehatan dari tempat kerja kartu
sehat dan lain-lain )
e)
Pembagian
peran ketika ibu berada di RS (ibu dan mertua, yang menjaga anak lainnya jika
bukan persalinan yang pertama.
13) Memantau
kesejahteraan janin
Kesejahteraan janin dalam kandungan perlu dipantau secara
terus-menerus agar jika ada gangguan janin dalam kandungan akan dapat segera
terdeteksi dan ditangani. Salah satu indikator kesejahteraan janin yang dapat
dipantau sendiri oleh ibu adalah gerakannya dalam 24 jam.
Gerakan janin dalam 24 jam minimal 10 kali. Gerakan ini dirasakan
dan dihitung oleh ibu sendiri yang dikenal dengan menghitung “gerak sepuluh”.
(Sulistyawati, 2016, h. 122-123)
14) Travelling/perjalanan
Wanita hamil harus berhati-hati melakukan perjalanan yang cenderung
lama dan melelahkan, karena dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan mengakibatkan
gangguan sirkulasi serta oedema tungkai karena kaki tergantung jika duduk
terlalu lama.Sabuk pengaman yang dikenakan dikendaraan jangan sampai menekan
perut yang menonjol.(Ai yeyeh, 2014, h 82-89).
i.
Ketidaknyamanan dan cara mengatasi
1) Morning
sickness (mual dan muntah)
Biasanya dirasakan pada saat kehamilan dini.Disebabkan oleh respons
terhadap hormone dan merupakan pengaruh fisiologi.Untuk penatalaksanaan khusus
bisa dengan diet, namun jika vomitus uterus terjadi maka obat-obat antimeti
dapat diberikan. Untuk asuhannya berikan nasihat tentang gizi, makan sedikit
tapi sering, makan makanan padat sebelum bangkit dari berbaring, segera
melaporkannya jika gejala vomitus menetap atau bertambah parah, serta mengingatkan pasien bahwa obat
antivomitus dapat membuatnya mengantuk.
2) Mengidam
Terjadi setiap saat, disebabkan karena respons papilla pengecap
pada hormone sedangkan pada sebagian wanita,mungkin untuk mendapatkan
perhatian. Untuk penatalaksanaan khusus yaitu dengan nasihat dan menentramkan
perasaan pasien. Berikan asuhan dengan meyakinkan bahwa diet yang baik tidak
akan terpengaruh oleh makanan yang salah.
3) Nyeri
ulu hati
Dirasakan pada bulan-bulan terakhir, disebabkan karena adanya
progesterone serta tekanan dari uterus.Untuk penatalaksanaan khusus biasanya
dengan diet dan kadang-kadang pemberian antacid. Asuhan yang dapat dilakukan
dengan memberikan nasihat tentang gizi, makan sedikit-sedikit, minum susu,
hindari makanan yang pedas, gorengan atau berminyak, tinggikan bagian kepala
tempat tidur.
4) Konstipasi
Terjadi pada bulan-bulan terakhir, dan disebabkan karena progeteron
dan usus yang terdesak oleh rahim yang membesar, atau bisa juga dikarena efek
dari terapi tablet zat besi.Penatalaksanaan khusus yaitu dengan diet atau
kadang-kadang dapat diberikan yaitu dengan nasihat makanan tinggi serat, buah
dan sayuran, ekstra cairan, hindari makanan berminyak, dan anjurkan olahraga
tanpa dipaksa.
5) Hemoroid
Dirasakan pada bulan-bulan terakhir, dan disebabkan karena
progeteron serta adanya hambatan arus balik vena.Penatalaksanaan khusus dengan
diet, pemberian krim atau supositoria hemoroid, reposisi digital, kadang
operasi jika terdapat thrombosis (kolaborasi dengan dokter).Asuhan yang dapat
diberikan dengan nasihat untuk mencegah konstipasi.
6) Vena
varikosa
Terasa pada bulan-bulan pertengahan hingga terakhir. Disebabkan
karena pengaruh progesterone dan venous return yang terhalang, atau peningkatan
volume darah dan alirannya selama kehamilan serta adanya perubahan elastisitas
pembuluh darah yang menyebabkan dinding vena menonjol. Atau juga diakhiri
kehamilan dikarenakan tekanan kepala janin pada vena daerah
panggul.Penatalaksanaan khusus dengan menggunakan stocking elastis. Adapun
asuhannya dengam memberikan nasihat untuk menghindari berdiri atau duduk
terlalu lama, meninggikan tungkai jika sedang beristirahat atau berbaring,
menganjurkan penggunaan stocking elastis tapi hindari penggunaan pakaian
terlalu ketat setinggi lutut yang akan menurunkan sirkulasi darah ke kaki,
olahraga secara rutin (berjalan atau berenang). Dan pada saat duduk jangan
menyilangkan kaki karena akan menurunkan sirkulasi darah ke kaki.
7) Vena
varikosa dan vulva
Dirasakan pada bulan-bulan terakhir dan disebabkan oleh progesteron
dan hambatan arus balik vena.Jika sangat nyeri dapat disuntik, kalau tidak bisa
dengan berikan tekanan pada daerah tersebut.Adapun kelahiran harus dilakukan
dengan hati-hati (hi dari episiotomi di dekat vena varikosa). Nasihat untuk
memasang tampon/bantalan yang menekan kuat perineum, gunakan celana yang
stretching.
8) Gejala
pingsan
Umum dirasakan pada kehamilan dini dan lanjut.Disebabkan karena
vasodilatasi hipotensi atau hemodilusi. Yang harus dilakukan adalah dengan
menentramkan perasaan pasien, kadang dapat diberikan suplemen zat besi,
berbaring jika terasa pening dan singkirkan sebab-sebab yang serius, seperti
kelainan jantung preeklampsi, hipoglikemia, anemia,.Asuhan yang dapat diberikan
dengan nasihat untuk menghindari situasi yang membuat keadaan ini bertambah
parah (misalnya panas), menjelaskan penyebabnya menghindari interval waktu
makan yang terlalu lama, menghindari pemakaian pakaian yang terlalu ketat.
9) Insomnia
Dirasakan ketika kehamilan dini dan lanjut. Karena tekanan pada
kandung kemih, pruritis, kekhawatiran, gerakan janin yag sering menendanng,
kram, heartburn. Yang harus dilakukan adalah penyelidikan dan penanganan
penyebab, kadang-kadang diperlukan preparat sedativ, dan minum susu sebelum
tidur dapat membantu.mengingatkan kembali nasihat yang diberikan dokter,
memastikan bahwa cara-cara sederhana untuk menanggulangi insomnia seperti
mengubah suhu dan suasana kamar menjadi lebih sejuk dengan mengurangi sinar
yang masuk atau mengurangi kegaduhan. Sebaiknya tidur mirin ke kiri atau ke
kanan dan beri ganjalan pada kaki, serta mandilah dengan air hangat sebelum
tidur yang akan menjadikan ibu ebih santai dan mengantuk, dan merujukkan pasien
kepada petugas psikologis jika diperlukan.
10) Kram
otot betis
Umum dirasakan saat kehamilan lanjut. Untuk penyebab tidak jelas,
bisa karenakan iskemia transient setempat, kebutuhan akan kalsium (kadar
rendahnya rendah dalam tubuh) atau perubahan sirkulasi darah, tekanan pada
syaraf di kaki. Kalsium dan vitamin kadang-kadang diperlukan, khasiat kedua
preparat ini masih belum dapat dipastikan.Nasihati untuk jangan menggunakan
sembarangan obat tanpa seizin dokter, perbanyak makan-makanan yang mengandung
kalsium, menaikan kaki ke atas, pengobatan simpotomatik dengan kompres hangat,
massase, menarik jari kaki ke atas.
11) Buang
air kecil yang sering
Keluhan dirasakan saat kehamilan dini, kemudian kehamilan
lanjut.Disebabkan karena progesterone dan tekanan pada kandung kemih karena
pembesaran rahim atau kepala bayi yang turun ke rongga panggul.Yang harus
dilakukan adalah dengan menyingkirkan kemungkinan infeksi. Beri nasihat untuk
mengurngi minum setelah makan malam atau minimal 2 jam sebelum tidur,
menghindari minum yang mengandung kafein, jangan mengurangi kebutuhan air minum
(minimal 8 gelas/hari) perbanyak disiang hari dan lakukan senam kegel.
12) Stress
inkontinensia
Terasa pada bulan-bulan terakhir dan disebabkan karena progesterone
dan adanya tekanan.Bisa diatasi dengan fisioterapi sperti peninjauan kembali
setelah melahirkan. Berikan nasihat untuk melakukan latihan dasar panggul,
perhatikan juga hygiene dan penggunaan tampon pelindung serta perawatan kulit
jika diperlukan.
13) Secret
dari vagina
Bisa dirasakan setiap saat. Merupakan hal yang fisiologis (karena
pengaruh estrogen), atau karena kandidiasis (sering), glikosuria, antibiotic,
infeksi, trikomonas, gonore mencoba untuk menentramkan perasaan pasin dan
menyingkirkan kemungkin infeksi (atau mengobatinya) yaitu kandidiasis obat anti
fungus, krim atau supositoria, preparat oral anti fungsi untuk mencegah
reinfeksi dari usus, penggunaan jeli vagina yang asam, yoghurt, gentian violet
juga dapat dilakukan. Beri nasihat dengan menjelaskan bahwa peningkatan secret
vagina merupakan kejadian fisiologis, anjurkan untuk memperhatikan hygiene
dengan gunakan celana dalam yang terbuat dari bahan katun tipis atau
menghindari celana jins yag ketat dan pakaian dalam sentetik yang akan
meningkatkan kelembaban serta iritasi kulit, jangan menggunakan sabun dan basuh
dari arah depan ke belakang serta keringkan dengan handuk atau tisu yang bersih
serta penangangan pruritus.
14) Pruritus
Dirasakan setiap saat disebabkan oleh generalisasi obat-obatan,
disfungsi hepar, vulva hygiene yang buruk, kandidiasis atau trikomonas, serta
diabetes.bila diatasi dengan pemberian salep kulit antipruritus, sedasi jika
disertai insomnia yang serius. Berikan nasihat untuk mandi berendam dalam air
dingin (jangan dalam air hangat) jangan memakai sabun, gunakan celana dalam
katun yang tipis, perhatian hyangiene, hindari pemakaian sembarang obat tanpa
ijin dokter.
15) Nyeri
punggung
Umum dirasakan ketika kehamilan lanjut.Disebabkan oleh progesterone
dan relaksasi (yang melunakan jaringan ikat) dan postur tubuh yang berubah
serta meningkatnya beba berat yang dibawa dalam rahim.Yang harus dilakukan
adalah dengan menyingkirkan kemungkinan penyebab yang serius, fisoterapi,
pemanasan pada bagian yang sakit, analgesia, dan istirahat. Berikan nasihat untuk
memperhatikan postur tubuh (jangan terlalu sering membungkuk dan berdiri serta
berjalan dengan punggug dan bahu yang tegak, menggunaka sepatu tumit rendah,
hindari mengangkat benda yang berat, memberitahukan cara-cara untuk
mengistirahatkan otot punggung, menjelaskan keuntungan untuk mengenakan korset
khusus bagi ibu hamil, tidur pada kasur tipis yang di bawanya ditaruh papan
jika diperlukan (atau yang nyaman).
16) Bengkak
pada kaki
Dikarenakan adanya perubahan hormone yang menyebabkan retensi
cairan.Yang harus dilakukan adalah dengan segera berkonsultasi dengan dokter
jika bengkak yang dialami pada kelopak mata, wajah dan jari yang disertai
tekanan darah tinggi, sakit kepala, pandangan kabur (tanda pre
eklampsia).Kurangi asupan makanan yang mengandung garam, hindari duduk dengan
kaki bersilang, gunakan bangku kecil untuk menopang kaki ketika duduk, memutar
pergelangan kaki juga perlu dilakukan.
17) Sesak
nafas
Terasa pada saat usia kehamilan lanjut (33-36 minggu). Disebabkan
oleh pembesaran rahim yang menekan daerah dada. Dapat diatasi dengan senam
hamil (latihan pernafasan), pegang kedua tangan di atas kepala yang akan member
ruang bernafas yang lebih luas.
18) Mudah
lelah
Umum dirasakan setiap saat dan disebabkan karena perubahan
emosional maupun fisik.Yang harus dilakukan adalah dengan mencari waktu untuk
beristirahat, jika merasa lelah pada siang hari maka segera tidurlah, hindari
tugas rumah tangga yang terlalu berat, cukup mengkonsumsi kalori, zat besi dan
asam folat. (Ai yeyeh, 2014, h. 93-98)
j.
Tanda-tanda Bahaya Kehamilan
Selama kehamilan beberapa tanda bahaya yang
dialami dapat dijadikan sebagai data dalam deteksi dini komplikasi akibat
kehamilan. Jika pasien mengalami tanda-tanda bahaya ini maka sebaiknya segera
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan tindakan antisioasi untuk mencegah
terjadinya kematian ibu dan janin.
Beberapa tanda bahaya yang penting untuk disampaikan kepada pasien
dan keluarga adalah sebagai berikut.
1)
Perdarahan
per vagina
2)
Sakit
kepala hebat
3)
Masalah
penglihatan
4)
Bengkak
pada muka atau tangan
5)
Nyeri
abdomen yang hebat
6)
Bayi
kurang bergerak seperti biasa
(Sulistyawati, 2016, h.
143)
k.
Pre-eklampsia
Preeklampsia merupakan penyulit kehamilan yang akut dan dapat
terjadi ante, intra, dan postpartum. Dari gejala-gejala klinik preeklampsia
dapat dibagi menjadi preeklampsia ringan dan preeklampsia berat.
Pembagian preeklampsia menjadi berat dan ringan tidaklah berarti
adanya dua penyakit yang jelas berbeda, sebab seringkali ditemukan penderita
dengan preeklampsia ringan dapat mendadak mengalami kejang dan jatuh dalam
koma. Gambaran klinik preeklampsia bervariasi luas dan sangat individual,
kadang-kadang sukar untuk menentukan gejala preeklampsia mana yang timbul lebih
dahulu. Secara teoritik, urutan-urutan gejala
yang timbul pada preeklampsia ialah edema, hipertensi, dan terakhir protein
urine, sehingga bila gejala-gejala ini timbul tidak dalam urutan diatas, dapat
di anggap bukan preeklampsia.
Preeklampsia ringan:
Definisi: adalah suatu sindroma spesifik kehamilan dengan
menurunnya perfusi organ yang berakibat terjadinya vasospasme pembuluh darah
dan aktivasi endotel.
Diagnosis: diagnosis preeklampsia ringan ditegakkan
berdasarkan atas timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan / atau edema
setelah kehamilan 20 minggu.
1) Hipertensi sistolik atau diastolik ≥140/90 mmHg.
2) Proteinuria ≥300 mg/24 jam atau ≥1 + dipstik.
3) Edema: edema lokal
tidak dimasukkan dalam kriteria preeklampsia, kecuali edema pada edema lengan,
muka dan perut, edema generalisata.
Preeklampsia Berat
Definisi: Preeklampsia berat ialah preeklampsia dengan
tekanan darah sistolik ≥160 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥110 mmHg disertai
proteinuria >5g/24 jam
Diagnosis: di tegakkan berdasarkan kriteria preeklampsia
berat sebagaimana tercantum di bawah ini.
Preeklampsia digolongkan preeklampsia berat bila ditemukan
satu atau lebih gejala sebagai berikut
1) Tekanan darah sistolik & gt;160mmHg dan tekanan darah
diastolik >110mmHg. Tekanan darah ini tidak menurun meskipun ibu hamil
sudah dirawat di rumah sakit dan sudah menjalani tirah baring
2) Proteinuria & gt;5g/24jam
atau 4+ dalam pemeriksaan kualitatif
3) Oligouria, yaitu produksi urine <500 cc dalam 24 jam
4) Kenaikan kadar kreatinin plasma
5) Gangguan fisus dan cerebral: penurunan kesadaran, nyeri
kepala, dan pandangan kabur
6) Nyeri epigastrium atau nyeri pada kuadran kanan atas abdomen
(akibat teregangnya kapsula Glisson)
7) Edema paru-paru dan sianosis
8) Hemolisis mikro angiopatik
9) Trombositopenia berat: <100.000 sel/mm 3 atau
penurunan trombosit dengan cepat.
10) Gangguan fungsi hepar (kerusakan hepatoselular): peningkatan
kadar alanin dan aspartate amino transferase
11) Pertumbuhan jaringan intra uterin yang terhambat
12) Sindrome HELLP.
Pembagian
preeklampsia berat
1) Preeklampsia berat tanpa impending eclampsia
2) Preeklampsia berat dengan impending eclampsia. Di sebut
impending eclampsia bila preeklampsia berat disertai gejala-gejala subjektif
berupa nyeri kepala hebat, gangguan visus, muntah-muntah, nyeri epigastrium,
dan kenaikan progresif tekanan darah. Perawatan dan pengobatan preeklampsia
berat Pengelolaan preeklampsia berat mencakup pencegahan kejang, pengobatan
hipertensi, pengelolaan cairan, pelayanan supprtif terhadap penyulit organ yang
terlibat, dan saat yang tepat untuk persalinan. Monitoring selama di rumah
sakit pemeriksaan sangat teliti diikuti dengan observasi harian tentang
tanda-tanda klinik berupa: nyeri kepala, gangguan visus, nyeri epigastrium, dan
kenaikan cepat berat badan. Selain itu, perlu dilakukan penimbangan berat
badan, pengukuran proteinuria, pengukuran tekanan darah, pemeriksaan
labolatorium dan pemeriksaan USG Pengobatan medikamentosa penderita
preeklampsia berat harus segera masuk rumah sakit untuk rawat inap dan di anjurkan
tirah baring miring ke satu sisi (kiri) Perawatan yang penting pada
preeklampsia berat adalah pengelolaan cairan karena penderita preeklampsia
mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya edema paru dan oligouria. Sebab terjadinya
keaadaan tersebut belum jelas, tetapi faktor yang sangat terjadinya edema paru
dan oligouria adalah hipvolimia, vasospasme, kerusakan sel endotel, penurunan
gradien tekanan onkotik koloid/pulmonary capillary wedge preesure. bila terjadi
tanda-tanda edema paru, segera dilakukan tindakan koreksi.
Cairan yang
diberikan dapat berupa:
1) 5% Ringer-dekstrose atau cairan garam faali jumlah tetesan : <
125cc/ jam, atau
2) Infus Dekstrose 5% yang tiap 1 liternya di selingi dengan
infus Ringer laktat (60-125cc/jam) 500cc. Di pasang Foley catheter untuk
mengukur pengeluaran urine. Oligouria terjadi bila produksi urine dibawah 30cc/
jam dalam 2-3 jam atau dibawah 500cc/24jam. Diberikan antasida untuk
menetralisir asam lambung sehingga bila mendadak kejang, dapat menghindari
resiko aspirasi asam lambung yang sangat asam.
Diet yang
cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam. Pemberian obat antikejang Obat
antikejang adalah MgSO4. Contoh obat-obat lain yang dipakai untuk anti kejang:
1) Diazepam
2) Fenitoin: difenihidantoin obat antikejang untuk epilepsi
telah banyak dicoba pada penderita eklampsia. Fenitoin sodium mempunyai khasiat
stabilisasi membran neuron, cepat masuk jaringan otak dan efek anti kejang
terjadi 3 menit setelah injeksi intravena. Pemberian magnesium sulfat sebagai
anti kejang lebih efektif di banding fenitoin, berdasar Cochrane Review
terhadap 6 uji klinik, yang melibatkan 897 penderita eklampsia. Magnesium
sulfat menghambat atau menurunkan kadar asetilkolin pada rangsangan serat saraf
dengan menghambat transmisi neuromoskular. Transmisi neuromuskular membutuhkan kalsium
pada sinaps. Pada pemberian magnesium sulfat, magnesium akan menggeser kalsium,
sehingga aliran rangsangan tidak terjadi (terjadi kompetitif inhibition antara
ion kalsium dan ion magnesium). Kadar kalsium yang tinggi dalam darah dapat
menghambat kerja magnesium sulfat. Magnesium sulfat sampai saat ini masih
menjadi pilihan pertama untuk anti kejang pada preeklampsia atau eklampsia.
Cara
pemberian:
Magnesium sulfat regimen:
1)
Loading
dose: initial dose 4 gram MgSO 4 : intravena, (40% dalam 10cc) selama 15 menit.
2)
Maintenance
dose
Diberikan infus 6 gram dalam larutan ringer/6 jam; atau
diberikan 4 atau 5 gram i. m. Tiap 4-6 jam.
3)
Syarat-syarat
pemberian MgSO 4 :
a)
Harus
tersedia antidotum MgSO 4 , bila terjadi intoksikasi yaitu kalsium glukonas 10%=
1g (10% dalam 10cc) di berikan i.v. 3 menit
b)
refleks
patella (+) kuat
c)
frekwensi
pernapasan > 16 kali/ menit , tidak ada tanda-tanda distres napas.
4)
Magnesium
sulfat dihentikan bila:
a)
Ada
tanda-tanda intoksikasi
b)
Setelah
24 jam pasca persalinan atau 24 jam setelah kejang terakhir.
5)
Dosis
terapeutik dan toksis MgSO 4 :
a)
Dosis
terapeutik 4-7 mEq/liter 4,8-8,4 mg/dl
b)
Hilangnya
refleks tendon 10 mEq/ liter 12 mg/dl
c)
Terhentinya
pernapasan 15 mEq/liter 18 mg/dl
d)
Terhentinya
jantung >30 mEq/liter >36 mg/dl
Pemberian
Magnesium sulfat dapat menurunkan resiko kematian ibu dan didapatkan 50% dari pemberiannya mnimbulkan efek flushes
(rasa panas).
Diuretikum
tidak diberikan secara rutin, kecuali bila ada edema paru-paru, payah jantung
kongestif atau anasarka. Diuretikum yang dipakai ialah Furosemid. Pemberian
diuretikum dapat merugikan, yaitu memperberat hipovolemia, memperburuk perfusi
utero-plasenta, meningkatkan hemokonsentrasi, menimbulkan dehidrasi pada janin,
dan menurunkan berat janin.
Antihipertensi
1)
Antihipertensi
lini pertama
Nifedipin
Dosis 10-20 mg per oral, diulangi setelah 30 menit; maksimum
120 mg dalam 24 jam
2)
Antihipertensi
lini kedua
Sodium nitroprussi: 0,25 µg i.v/ kg / menit, infus;
ditingkatkan 0,25 µg i.v/kg/5 menit.
Diazokside: 30-60 mg i.v./5 menit; atau i.v. infus 10 mg/
menit/ dititrasi.
Jenis obat anti hipertensi yang diberikan di Indonesia
adalah:
Nifedipin
Dosis 10-20 mg per oral, diulangi setelah 30 menit; maksimum
120 mg dalam 24 jam. Nifedipin tidak boleh diberikan sublingual karena efek
fasodilatasi sangat cepat, sehingga hanya boleh diberikan per oral.
Edema paru
Pada preeklampsia barat dapat terjdai edema paru akibat
kardiogenik (payah jantung ventrikel kiri akibat peningkatan after load) atau
non-kardiogenik (akibat kerusakan sel endotel pembuluh darah kapiler paru).
Prognosis preeklampsia berat menjadi buruk bila edema paru di
sertai oligouria.
Glukokortikoid
Pemberian glukokortikoid untuk pematangan paru janin tidak
merugikan ibu. Diberikan pada kehamilan 32-34 minggu, 2x24 jam. Obat ini di
berikan juga pada syndrom HELLP.
(Prawiroharjo, 2018)
l.
Pengaruh Pemberian Jus Mentimun terhadap Tekanan Darah Sistolik dan
Diastolik
Pemberian jus mentimun dengan dosis 150 ml (kalium 153 mg dan
magnesium 11 mg) setiap hari selama 7 hari berpengaruh secara bermakna terhadap
penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik pada pria dan wanita dengan
hipertensi.
Magnesium mempengaruhi tekanan darah dengan memodulasi reaktivitas
dan pergerakan vaskuler. Selain itu magnesium juga beperan dalam memproduksi
prostasiklin vasodilator dan nitric oxide. Namun mekanisme lebih lanjut
pengaruh magnesium terhadap tekanan darah masih diteliti lebih lanjut karena
pada penelitian yang menguji suplementasi 184 mg magnesium dua kali sehari pada
14 subjek laki-laki normomagnesemik menunjukkan tidak ada penurunan tekanan
darah sistolik dan diastolik yang bermakna. Hasil yang berbeda didapatkan pada
eksperimen suplementasi 450 mg magnesium pada 42 subyek hipertensi dengan
hipomagnesemik dapat menghasilkan penurunan tekanan darah sistolik dan
diastolik yang signifikan (20,4 mmHg dan 8,7 mmHg).28 Penyebab terjadinya
penurunan ini diduga akibat mekanisme calcium channel antagonist dan
penghambatan kerja angiontensi II yang berakibat pada pencegahan sekresi
norepinefrin. Selain itu suplementasi magnesium oral akan bekerja lebih baik
pada peningkatan aktivitas plasma renin. Untuk mengontrol tekanan darah, asupan
magnesium yang disarankan adalah 400
mg/hari.
Homeostasis natrium dan kalium memainkan peran penting dalam
vasodilatasi-terkait-endotelium.15 Keadaan hipertensi menyebabkan peningkatan
sekresi renin dan aktifasi RAS menjadi tidak bisa dikendalikan. Kalium berperan
dalam meningkatkan sensitifitas syaraf simpatetik sehingga pengeluaran renin
dapat dicegah. Selain itu, asupan kalium dalam jumlah cukup dapat mengurangi
retensi natrium dan cairan.
Homeostasis natrium dan kalium memainkan peran penting dalam vasodilatasi-terkait-endotelium.
Keadaan hipertensi menyebabkan peningkatan sekresi renin dan aktifasi RAS
menjadi tidak bisa dikendalikan. Kalium berperan dalam meningkatkan
sensitifitas syaraf simpatetik sehingga pengeluaran renin dapat dicegah. Selain
itu, asupan kalium dalam jumlah cukup dapat mengurangi retensi natrium dan
cairan. (Lovindy, 2016)
2.
Persalinan
a.
Pengertian persalinan
Persalinan adalah proses pengeluaran (kelahiran hasil konsepsi yang dapat
hidup diluar uterus melalui vagina ke dunia luar. Proses tersebut dapat
dikatakan normal atau spontan jika bayi yang dilahirkan berada pada posisi
letak belakang kepala dan berlangsung tanpa bantuan alat-
alat atau pertolongan, serta tidak melukai ibu dan bayi. Pada umumnya
proses ini berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam. (Sondakh, 2013)
b.
Persalinan berdasarkan teknik
1)
Persalinan
spontan, yaitu persalinan berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui
jalan lahir.
2)
Persalinan
buatanyaitu persalinan dengan tenaga dari luardengan ekstraksi forceps,
ekstraksi vakum dan section sesaria.
3)
Persalinan
anjuran yaitu persalinan tidak dimulai dengan sendirinya tetapi baru
berlangsung setelah pemecahan ketuban, pemberian pitocin aprostaglandin. (
Aiyeyeh, dkk, 2014, h. 2)
c.
Sebab mulainya
persalinan
Hal yang menjadi penyebab mulainya persalinan
belum diketahui benar, yang ada hanyalah merupakan teori-teori yang kompleks. Perlu diketahui bahwa ada dua hormone yang dominan saat hamil.
1) Estrogen
a)
Meningkatkan
sensitivitas otot rahim.
b)
Memudahkan
penerimaan rangsangan dari luar seperti rangsangan oksitosin, rangsangan
prostahgalndin, serta rangsangan mekanis.
2) Progesteron
a)
Menurunkan
sensitivitas otot rahim.
b)
Menyulitkan
penerimaan dari luar seperti rangsangan oksitosin , rangsangan prpstaglandin,
serta rangsangan mekanis.
c)
Menyebabkan
otot rahim dan otot polos relaksasi
(Rohani, dkk, 2013, h. 4)
d.
Tanda Mulainya
Persalinan
Terdapat
beberapa teori yang berkaitan dengan mulai terjadinya kekuatan his sehingga
menjadi awal mula terjadinya proses persalinan, di antaranya adalah:
1)
Teori
Penurunan Progesteron
Menurut
Prawirohajo 2007: 181 kadar progesterone akan mulai menurun pada kira-kira 1-2
minggu sebelum persalinan dimulai. (Sondakh, 2013. h. 2)
2)
Teori
Keregangan
Ukuran uterus yang makin membesar dan mengalami penegangan akan
mengakibatkan otot-otot uterus mengalami iskemia sehingga mungkin dapat menjadi
faktor yang dapat mengganggu sirkulasi uteroplasenta yang pada akhirnya membuat
plasenta mengalami degenerasi.ketika uterus berkontraksi dan menimbulkan
tekanan pada selaput ketuban, tekanan hidrostatikkantong amnion akan melebarkan
saluran serviks. (Sondakh,2013.h.3)
3)
Teori
oksitosin interna
Hipofisis
posterior menghasilkan hormone oksitosin. Adanya perubahan keseimabangan antara
estrogen dan progesterone dapat mengubah tingkat sensitivitas otot rahim dan
akan mengakibatkan terjadinya kontraksi uterus uang disebut Braxton Hicks. Penurunan kadar
progesterone karena usia kehamilan yang sudah tua akan mengakibatkan aktivitas
oksitosin meningkat. (Sondakh,2013.h.3).
4)
Teori
Plasenta Menjadi Tua
Sering
matangnya kehamilan vili chorialis dalam plasenta mengalami beberapa perubahan,
hal ini menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesterone yang mengakibatkan
tegangnya pembuluh darah sehingga akan menimbulkan kontraksi (Sulistyawati,
2013, h. 5).
Beberapa
tanda-tanda dimulainya persalinan adalah sebagai berikut.
a)
Terjadinya
His Persalian, Sifat his persalinan adalah:
(1)
Pinggang
terasa sakit dan menjalar kedepan.
(2)
Sifatnya
teratur, anterval makin pendek, dan kekuatan makin besar.
(3)
Makin
beraktivitas (jalan), kekuatan akan makin bertambah (Sondakh,2013.h.3)
b)
Pengeluaran
Lendir dengan Darah
Terjadinya his persalinan mengakibatkan terjadinya perubahan pada
srviks yang akan menimbulkan:
(1)
Pendataran
dan pembukaan.
(2)
Pembukaan
menyebabkan lendir yang terdapat pada kanalis servikalis lepas.
(3)
Terjadi
pendarahan karena kapiler pembuluh darah pecah (Sondakh,2013.h.3)
c)
Pengeluaran
Cairan
Pada
beberapa kasus persalinan akan terjadi pecah ketuban. Sebagian besar, keadaan
ini terjadi menjelang pembukaan lengkap. Setelah adanya pecah ketuban,
diharapkan proses persalinan akan berlangsung kurang dari 24 jam (Sondakh,2013.h.3)
d)
Hasil-Hasil
yang Didapatkan pada Pemeriksaan Dalam
1)
Perlunakan
serviks.
2)
Pendataran
serviks.
3)
Pembukaan
serviks (Sondakh,2013.h.3)
e.
Tahapan Persalinan
Tahapan
dari persalinan terdiri atas kala I (kala pembukaan), kala II (kala pengeluaran
janin), kala III (pelepasan plasenta), dan kala IV (kala
pengawasan/observasi/pemulihan) (Sondakh,, 2013, h. 5).
1)
Kala
I (Kala Pembukaan)
Kala
I dimulai dari saat persalinan mulai (pembukaan nol) sampai pembukaan lengkap
(10 cm).proses ini terbagi dalam 2 fase, yaitu:
a) Fase laten: berlangsung selama 8 jam. Serviks membuka sampai 3 cm.
b) Fase aktif: berlangsung selama 7 jam, serviks membuka dai 4 cm
sampai 10 cm, kontraksi lebih kuat dan sering, dibagi dalam 3 fase:
(1) Fase
akselerasi: dalam waktu 2
jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm.
(2) Fase
dilatasi maksimal:
dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat dari 4 cm menjadi 9 cm.
(3) Fase
deselerasi: pembukaan
menjadi lambat sekali, dalam waktu 2 jam pembukaan 9 cm menjadi lengap.
Proses
diatas terjadi pada primigravida ataupun multigravida, tetapi pada multigravida
memiliki jangka waktu yang lebih pendek. Pada primigravida, kala I berlangsung
±12 jam, sedangkan pada multigravida ±8 jam (Sondakh,2013.h.5).
2)
Kala
II ( kala pengeluaran janin)
Kala
II adalah kala pengeluaran bayi, dimulai dari pembukaan lengkap sampai bayi
lahir. Uterus dengan kekuatan his nya ditambah kekuatan menereran akan
mendorong bayi hingga lahir (Sulistyawati,2013, h. 7).
Gejala utama kala II adalah sebagai berikut:
a) His semakin kuat, dengan interval 2 sampai 3 menit, dengan durasi
50 sampai 100 detik.
b) Menjelang akhir kala I, ketuban pecah yang ditandai dengan
pengeluaran cairan secara mendadak.
c) Ketuban pecah pada pembukaan mendekati lengkap diikuti keinginan
mengejan akibat tertekannya pleksus Frankenhauser.
d) Kedua kekuatan his dan mendorong
kepala bayi sehingga terjadi:
(1) Kepala membuka pintu
(2) Suboociput bertindak sebagai hipomoglion, kemudian secara
berturut-turut lahir ubun-ubun bersar, dahi, hidung dan muka, serta kepala
seluruhnya.
e) Kepala lahir seluruhnya dan diikuti oleh putar paksi luar, yaitu
penyesuaian kepala pada punggung.
f) Setelah putar paksi luar berlangsung, maka persalinan bayi ditolong
dengan cara:
(1) Kepala dipegang pada os occiput dan di bawah dagu, kemudian ditarik
dengan menggunakan cunam kebawah untuk melahirkan bahu depan dan ke belakang
untuk melahirkan bahu belakang.
(2) Setelah kedua bahu lahir, ketiak dikait untuk melahirkan sisa badan
bayi.
(3) Bayi lahir diikuti oleh sisa air ketuban.
g) Lamanya kala II untuk primigravida 1,5-2 jam dan multigravida 1,5-1
jam (Sondakh,2013.h.5-6).
60
LANGKAH ASUHAN PERSALINAN NORMAL.
Melihat tanda gejala kala dua
1.
Mengamati
tanda dan gejala kala dua
a.
ibu
mempunyai keinginan untuk meneran.
b.
Ibu
merasakan tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan/ atau vaginanya.
c.
Perineum
menonjol.
d.
Vulva-vagina
dan sfingter anal membuka.
Menyiapkan Pertolongan Persalinan
2.
Memastikan
perlengkapanm, bahm dan obat-obatan esensial siap digunakan. Mematahkan ampul
oksitosin 10 unti dan menempatkan tabuk suntik steril sekali di dalam partus
set.
3.
Mengenakan
baju penutup atau celemek plastik yang bersih.
4.
Melepaskan
semua perhiasan yang dipakai dibawah siku, mencuci kedua tangan dengan sabun
dan air bersih yang mengalir dan mengeringkan tangan dengan handuk satu kali
pakai/ pribadi bersih.
5.
Memakai
satu sarung dengan DTT atau steril untuk semua pemeriksaan dalam.
6.
Mengisap
oksitosin 10 unit ke dalam tabung suntik (dengan memakai sarung tangan
desinfeksi tingkat tinggi atau steril) dan meletakkan kembali di partus
set/wadah desinfeksi atau steril tanpa mengontaminasi tabung suntik).
Memastikan Pembukaan Lengkap dengan Janin Baik
7.
Membersihkan
vulva dan perineum, menyeka dengan hati-hati dari depan kebelakang dengan
menggunakan kapas atau kaa yang sudah di basahi air desinfeksi tingkat tinggi.
Jika mulut vagina, perineum, atau anus terkontaminasi oleh kotoran ibu,
membersihkannya dengan seksama dengan cara menyeka dari depan klebelakang.
Membuang kapas atau kasa yang terkontaminasi dalam wadah yang benar.
8.
Dengan
menggunakan teknik aseptik, melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan
pembukaan sudah lengkap.
9.
Mendekontaminasi
sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang memakai sarung tangan kotor
ke dalam larutan klorin 0,5%.
10.
Memeriksa
denyut jantung janin (DJJ).
Menyiapkan ibu dan keluarga untuk membantu proses
pimpinanmeneran.
11.
Memebritahu
ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik. Membantu ibu berada dalam
posisi yang nyaman sesuai keinginannya.
12.
Meminta
bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran.
13.
Melakukan
pimpinan meneran saat ibu mempunyai kenginan untuk meneran.
Persiapan pertolongan kelahiran bayi.
14.
Jika
kepala bayi sudahmembuka vulva dengan diameter 5-6 cm, letakkan handuk bersih
diatas perut ibu untuk mengeringkan bayi.
15.
Meletakkan
kain yang bersih dilipat 1/3 bagian, dibawah bokong ibu.
16.
Membuka
pertus set.
17.
Memakai
sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan.
Menolong kelahiran bayi.
Lahirnya kepala
18.
Saat kepala bayi membuka perineum 5-6 cm,
lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi oleh kain.
19.
Dengan
lebut menyeka muka, mulut, dan hidung bayi dengan kain atau kasa bersih.
20.
memeriksa
lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang sesuai.
21.
Menunggu
hingga kepala melakukan putaran paksi luar.
Lahir bahu
22.
Setelah
kepala melalukan putaran paksi luar, tempatkan tangan masing-masing sisi muka
bayi. Menganjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi berikutnya.
23.
Setelah
kedua bahu dilahirkan, menelusurkan tangan mulai kepala bayi yang berada di
bagian bawah ke arah perineum, membiarkan bahu dan lengan posterior lahir ke
tangan tersebut.
24.
Setelah
tubuh bayi dan lengan lahir, menelusurkan tangan yang ada di atas dari punggung
ke arah kaki bayi untuk menyangganya saat punggung jaji lahir. Memegang kedua
mata kaki bayi dengan hati-hati membantu kelahiran kaki.
Penanganan bayi baru lahir
25.
Menilai
bayi dengan cepat(30 detik), kemudian meletakkan bayi di atas perut ibu dengan
posisi kepala bayi sedikit lebih rendah dari tubuhnya.
26.
Segera
membungkus kepala dan badan bayi dengan handuk dan biarkan kontak kulit
ibu-bayi. Lakukan penyuntikan oksitosin/i.m.
27.
Menjepit
tali pusat menggunakan tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat
bayi. Melakukan urutan tali pusat ke arah ibu dan memasang klem 2 cm dari klem
pertama.
28.
Memegang
tali pusat dengan satu tangan,melindungi bayi dari gunting dan memotong tali
pusat antaradua klem.
29.
Mengeringkan
bayi, mengganti handuk yang basah dan menyelimuti bayi dengan kain atau selimut
yang kering dan berish,menutup bagian kepal, membiarkan tali pusat terbuka.
30.
Memberikan
bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan memulai
pemberian ASI jika menghendakinya.
Oksitosin
31.
Meletakkan
kain yang bersih dan kering. Melakukan palpasi abdomen untuk menghilangkan
kemungkinan adanya bayi kedua.
32.
Memberi
tahu kepada ibu bahwa ia akan disuntik.
33.
Dalam
waktu 2 menit setelah kelahiran bayi, berikan suntikan oksitosin10 unit I.M.di
gluteus atau 1∕3 atas paha kanan ibu bagian luar.
Penegangan tali pusat terkendali.
34.
Memindahkan
klem pada tali pusat.
35.
Meletakkan
satu tangan di atas kain yang ada di perut ibu, tepat di atas tulang pubis dan
menggunakan tangan ini untuk melakukan palpasi kontraksi dan menstabilkan
uterus.
36.
Menunggu
uterus berkontraksi dan kemudian melakukan penegangan ke arah bawah pada tali
pusat dengan lembut.
Mengeluarkan plasenta
37.
Setelah
plasenta terlepas, meminta ibu untuk meneran sambil menarik tali pusat ke arah
bawah dan ke arah atas, mengikuti kurva jalan lahir sambil meneruskan tekanan
ke arah berlawanan.
38.
Jika
plasenta sudah berada pada bagian introitus vagina, melanjutkan kelahiran
plasenta dengan menggubnakan kedua tangan.
Pemijatan uterus
39.
Segera
setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, melakukan masase uterus,meletakkan
telapak tangan di fundus dan melakukan masase dengan gerakan melingkar hingga
uterus berkontraksi.
Menilai perdarahan
40.
Memeriksa
kedua sisi plasenta baik menempel ke ibu atau janin.
41.
Mengevaluasi
adanya laserasi.
Melakukan Prosedur Pascapersalinan.
42.
Menilai
ulang uterus dan memastikannya berkontraksi dengan baik.
43.
Mencelupkan
kedua tangan yang memakai sarung tangan kedalam larutan klorin 0,5%.
44.
Menempatkan
klem tali pusat desinfeksi tingkat tinggi atau steril.
45.
Mengikat
satu lagi tali simpul mati di bagian pusat yang bersebrangan dengan simpul mati
yang pertama.
46.
Melepaskan
klem bedah dan meletakkannya dalam larutan klorin 0,5%.
47.
Menyelimuti
bayi kembali bayi dan menutup bagian kepalanya.
48.
Menganjurkan
ibu untuk pemberian ASI.
49.
Melanjutkan
pemantauan kontraksi uterus dan perdarahan pervaginam.
50.
Mengajarkan
pada ibu atau keluarga bagaimana melakukan kontraksi uterus dan memeriksa
kontraksi uterus.
51.
Mengevaluasi
kehilangan darah.
52.
Memeriksa
tekanan darah,nadi,dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama satu jam
pertama dan 30 menit dalam satu jam kedua.
Kebersihan dan keamanan.
53.
Menempatkan
semua peralatan di dalamlarutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit).
Mencuci dan membilas peralatan setelah dekontaminasi.
54.
Membuang
bahan-bahan yang terkontaminasi ke dalam tempat sampah yang sesuai.
55.
Memebersihkan
ibu dengan menggunakan air desinfeksi tingkat tinggi.
56.
Memastikan
bahwaibu nyaman.membantu ibu memberikan ASI. Menganjurkan keluarga memberikan
ibu minum yang diinginkan.
57.
Mendekontaminasi
daerah yang digunakan untuk melahirkan dengan larutan klorin 0,5% dan membilas
dengan air bersih.
58.
Mencelupkan
sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5%, membalikan bagian dalam ke
luar merendam nya dalam larutan klorin selama 10 menit.
59.
Mencuci
kedua tangan dengan sabun dan air mengalir.
Dokumentasi
60.
Melengkapi
partograf (halaman depan dan belakang).
(Prawirohardjo, h.341-347)
3)
Kala
III (Pelepasan Plasenta)
Kala
III persalinan dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya plasenta
dan selaput ketuban. Seluruh proses biasanya berlangsung 5-30 menit setelah
bayi lahir (Rohani,2013.h.7-8)
a)
Mekanisme Pelepasan Plasenta
Segera
setelah bayi dan air ketuban sudah tidak berada dalam uterus,kontraksi uterus
akan terus berlangsung dan ukuran rongganya akan mengecil. Pengurangan dalam
ukuran ini akanmenyebabkan pengurangan dalam ukuran situs peyambungan
plasenta.Oleh karena itu situs sambungan tersebut menjadi lebih kecil, plasenta
menjadi lebih tebal dan mengkerut serta memisahkan diri dari dinding uterus.
Permulaan
proses pemisahan diri dari dinding uterus atau pelepasan plasenta
(1) Menurut Duncan.
Plasenta lahir dari
bagian pinggir (marginal) disertai dengan adanya tanda darah yang keluar dari
vagina apabila plasenta mulai terlepas.
(2) Menurut Schultz
Plasenta lepas mulai
dari bagian tengah (sentral), dengan tanda adanya pemanjangan tali pusat yang
terlihat di vagina.
(3) Terjadi serempak atau kombinasi dari keduanya
b)
Tanda – tanda Klinis
Pelepasan Plasenta
(1) Semburan darah
Semburan darah ini disebabkan karena penyumbat
retroplasenter pecah saat plasenta lepas.
(2) Pemanjangan tali pusat
Hal ini disebabkan karena plasenta turun ke
segmen uterus yang lebih bawah atau rongga vagina
(3) Perubahan bentuk uterus dari diskoid menjadi globular (bulat) Perubahan
bentuk ini disebabkan oleh
kontraksi uterus
(4) Perubahan dalam bentuk uterus,yaitu uterus naik didalam abdomen.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sesaat setelah plasenta lepas TFU akan naik
, hal ini disebabkan oleh adanya pergerakan plasenta ke segmen uterus yang
lebih bawah.
c)
Teknik Pengecekan Pelepasan Plasenta
Selain
mengamati tanda-tanda klinis, bidan dapat juga melakukan perasat untuk mengecek
pelepasan plasenta.
Tiga
perasat yang dapat dilakaukan adalah sebagai berikut:
(1) Perasat Kustner
Tangan kanan
meregangkan atau menarik sedikit tali pusat, sementara tangan kiri menekan atas
simpisis.Bila tali pusat masuk kembali kedalam vagina berarti plasenta sudah
lepas.
(2) Perasat Strassman
Perasat ini dilakukan
dengan menetok-ngetok fundus uterus dengan tangan kiri dan tangan kana
meregangkan tali pusat sambil merasakan apakah ada getaran yang ditimbulkan
dari gerakan tangan kiri.jika terasa ada getaran, berarti plasenta belum lepas
dari dinding uterus.Jika tidak terasa getaran berarti plasenta sudah lepas.
(3) Perasat Klien.
Untuk melakukan perasat
ini, minta pasien untuk meneran, jiks tsli pusat tampak
turun atau bertambah panjang berarti plasenta telah lepas, begitu juga
sebaliknya. (Sulistyawati, 2013, h.157-159)
4)
Kala
IV (Kala Pengawasan/Observasi/pemulihan)
Kala IV
dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam postpartum. Kala ini terutama
bertujuan untuk melakukan observasi karena perdarahan postpartum paling sering
terjadi pada 2 jam pertama. Darah yang keluar selama perdarahan harus ditakar
sebaik-baiknya.Kehilangan darah pada persalinan biasanya disebabkan oleh luka
pada saat pelepasan plasenta dan robekan pada serviks dan perineum. Rata-rata
jumlah perdarahan yang dikatakan normal adalah 250 cc, biasanya 100-300 cc. jika
perdarahan lebih dari 500 cc, maka sudah dianggap abnormal, dengan demikian
harus dicari penyebabnya. Penting untuk
diingat: jangan meninggalkan wanita bersalin 1 jam sesudah bayi dan
plasenta lahir. Sebelum pergi meninggalkan ibu yang baru melahirkan, periksa
ulang terlebih dulu dan perhatikanlah 7 pokok penting berikut:
a)
Kontraksi
rahim: baik atau tidaknya diketahui dengan pemeriksaan palpasi. Jika perlu
lakukan masase dan berikan uteronika, seperti methergin, atau ermetrin dan
oksitosin.
b)
Perdarahan:
ada atau tidak, banyak atau biasa.
c)
Kandung
kemih: harus kosong, jika penuh ibu dianjurkan berkemih dan kalau tidak bisa,
lakukan kateter.
d)
Luka-luka:
jahitannya baik ata tidak, ada perdarahan atau tidak.
e)
Plasenta
dan selaput ketuban harus lengkap.
f)
Keadaan
umum ibu, tekanan darah, nadi, pernapasan, dan masalah lain.
g)
Bayi
dalam keadaan baik (Sondakh,2013.h.7-8).
f. Kebutuhan
Dasar Ibu Bersalin
1)
Asuhan Persalinan Kala I
a)
Melakukan
pemerikasaan fisik seperti melakukakan pemeriksaan abdomen, memantau denyut
jantung janin, menentukan presentasi, melakukan pemeriksaan dalam.
b)
Menilai
kemajuan persalinan dengan menilai kondisi bayi dan ibu.
c)
Memberikan
asuhan sayang ibu seperti memberi dukungan emosional, pengaturan posisi pada
ibu, memberikan cairan dan nutrisi, memberikan keleluasaan untuk menggunakan
kamar mandi secara teratur, dan pencegahan infeksi.
d)
Mempersiapkan
ruangan untuk persalinan dan kelahiran bayi.
e)
Mempersiapkan
perlengkapan dan obat-obatan yang diperlukan.
f)
Mempersiapkan
persiapan rujukan apabila terjadi penyulit dalam persalinan (Sondakh,
2013:106-116).
2)
Asuhan Persalinan Kala II
a)
Pemantauan
Ibu
Tanda-tanda
dan gejala kala II adalah sebagai berikut:
(1)
Ibu
merasakan ingin meneran bersamaan dengan trejadinya kontraksi.
(2)
Ibu
merasakan makin meningkatnya tekanan pada rektum dan atau vagina.
(3)
Perineum
terlihat menonjol.
(4)
Vulva-vagina
dan spingter ani terlihat membuka.
(5)
Peningkatan
pengeluaran lendir dan darah.
Tindakan
yang dilakukan untuk mengevaluasi kesejahteraan ibu adalah sebagai berikut:
(1)
Tanda-tanda
vital: tekanan darah (setiap 30 menit), suhu, nadi (setiap 30 menit),
pernapasan.
(2)
Kandung
kemih
(a)
Urin:
protein dan keton.
(b)
Hidrasi:
cairan, mual, muntah.
(c)
Kondisi
umum: kelemahan dan keletihan fisik, tingkah laku, dan respons terhadap
persalinan, serta nyeri.
(d)
Upaya
ibu meneran.
(e)
Kontraksi
setiap 30 menit (Sondakh, 2013, h. 133).
(3)
Kontraksi
His
atau kontraksi harus selalu dipantau selama kala II persalinan karena selain
dorongan meneran pasien, kontraksi uterus merupakan kunci dari proses
persalinan.
Beberapa
kriteria dalam pemantauan kontraksi uterus pada kala II.
(a)
Frekuensi
lebih dari 3 kali dalam 10 menit.
(b)
Intensitas
kontraksi kuat.
(c)
Durasi
lebih dari 40 detik (Sulistyawati, 2013, h. 115).
(1)
Kemajuan
Persalinan
Jika
terjadi penurunan janin selama kala I fase aktif dan memasuki fase pengeluaran,
maka dapat dikatakan kemajuan persalinan cukup baik. Menurut Friedmann, durasi
waktu untuk kala II rata-rata adalah 1 jam untuk primigravida dan 15 menit
untuk multipara. Pada kala II yang berlangsung lebih dari 2 jam bagi
primigravida atau 1 jam bagi multipara, dianggap sudah abnormal (Sondakh, 2013.h.133).
a)
Pemantauan
Janin
Beberapa
hal dari janin yang harus selalu diperhatikan adalah:
1)
Denyut
jantung janin
(a)
Denyut normal 120-16- kali/menit.
(b)
Perubahan
DJJ, pantau setiap 15 menit.
(c)
Variasi
DJJ dari DJJ dasar.
(d)
Pemerikasaan
auskultasi DJJ Setiap 30 menit.
(e)
Adanya
air ketuban dan karakteristiknya (jernih, keruh, kehijauan/tercampur mekonium).
(f)
Penyusupan
kepala janin. (Ibid., h.134)
b)
Asuhan
Dukungan.
Beberapa
asuhan dan dukungan yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:
1)
Pemberian
rasa aman, dukungan, dan keyakinan kepada ibu bahwa ibu mampu bersalin.
2)
Membantu
pernapasan.
3)
Membantu
teknik meneran.
4)
Ikut
srtakan dan hormati leuarga yang menemani.
5)
Berikan
tindakan yang menyenangkan.
6)
Penuhi
kebutuhan hidrasi.
7)
Penerapan
pencegahan infeksi (PI).
8)
Pastikan
kandung kemih kosong.
(Sondak,2013.h.134)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar