Kamis, 28 November 2019

BAB II Part 1


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Konsep Dasar Kasus
                          1.       Kehamilan
a.    Pengertian Kehamilan
Kehamilan adalah fertilitas atau penyatuan dri spermatozoa dan ovum dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan atau 9 bulan menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, dimana trimester pertama berlangsung 12 minggu, trimester kedua 15 minggu (minggu ke 13-27 minggu) dan trimester ke tiga 13 minggu (minggu ke 28-40 minggu).
(Prawiroharjo, 2014:213)

b.    Tujuan Asuhan Kehamilan
1)   Memantau kemajuan kehamilan, memastikan kesejahteraan ibu dan tumbuh kembang janin.
2)   Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, serta sosial ibu dan bayi.
3)   Menemukan secara dini adanya masalah/gangguan dan kemungkinan komplikasi yang terjadi selama masa kehamilan.
4)   Mempersiapkan kehamilan dan persalinan dengan selamat, baik ibu maupun bayi, dengan trauma seminimal mungkin.
5)   Mempersiapkan ibu agar masa nifas dan pemberian ASI eksklusif bejalan normal.
6)   Mempersiapkan ibu dan keluarga dapat berperan dengan baik dalam memelihara bayi agar dapat tumbuh dan berkembang secara normal.
(Sulistyawati, 2013)

c.         Standar Asuhan Kehamilan
Kunjungan Ante-natal care (ANC) Minimal :
a)   Satu kali pada trimester I (usia kehamilan 0-13 minggu)
b)   Satu kali pada trimester II (usia kehamilan 14-27 minggu)
c)   Dua kali pada trimester III (usia kehamilan 28-40 minggu)
(Sulistiyawati, 2016)
Pelayanan Antenatal Terpadu
Pelayanan antenatal sesuai standar meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik (umum dan kebidanan).Pemeriksaan laboratorium rutin dan khusus (sesuai resiko yang ditemukan dalam pemeriksaan). Dalam penerapannya terdiri atas 10 T yaitu:
a)   Menimbang Berat badan
b)   Mengukur lingkar lengan atas (LILA)
c)   Mengukur tekanan darah
d)  Mengukur Tinggi Fundus uteri (TFU)
e)   Menghitung Denyut Jantung Janin (DJJ)
f)    Menentukan Presentasi Janin
g)   Memberikan Imunisasi Toksoid (TT)
h)   Memberikan Tablet fe
i)     Pemeriksaan Laboratorium
j)     Tata laksana
(Astuti, 2017,  h. 124).

d.   Perubahan Anatomi dan Fisiologi Ibu Hamil
1)   Sistem reproduksi
a)    Uterus
Uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama di bawah pengaruh estrogen dan progesteron.
(1)      Peningkatan vaskularisasi dan dilatasi pembuluh darah,
(2)      Hyperplasia dan Hipertrofi,
(3)      Perkembangan desidua.
Tabel 2.1
(TFU Menurut Penambahan Pertiga jari)

Usia kehamilan (minggu)
Tinggi Fundus Uteri (TFU)
12
3 jari diatas simpisis
16
Pertengahan pusat dan simpisis
20
3 jari dibawah pusat
24
Sepusat
28
3 jari di atas pusat
32
Pertengahan pusat dan simpisis
36
3 jari di atas dibawah px
40
Pertengahan pusat dan px
        Sumber: (Sulistiyawati, 2016,  h. 60)





Tabel 2.2
Bentuk uterus berdasarkan usia kehamilan

Usia kehamilan
Bentuk dan konsistensi uterus
Bulan pertama

Seperti buah alpukat isthmus rahim menjadi hipertropu dan bertambah panjang, sehingga bila diraba terasa lebih lunak, keadaan ini yang disebut dengan tanda Hegar
2 bulan
Sebesar telur bebek
3 bulan
Sebesar telur angsa
4 bulan
Berbentuk bulat
5 bulan
Rahim yeraba seperet berisi cairan ketuban, rahim terasa tipis,  itulah sebabnya menggapa bagian-bagian jainin ini akan dapat dirasakan melalui peradabaan dinding perut
       (Sulistiyawati, 2016,  h. 60).
b)      Ovarium
Ovulasi berhenti namun masih terdapat korpus luteum graviditas sampai terbentuknya plasenta yang akan mengambil alih pengeluran estrogen dan progesterone.
c)      Vagina dan Vulva
Oleh karena pengaruh estrogen, terjadi hipervaskularisai pada vagina dan vulva, sehingga pada bagian tersebut terlihat lebih merah atau kebiruan, kondisi ini disebut dengan tanda Chadwick.(Sulistiyawati, 2016, h. 61).
2)        Sistem kardiovaskuler
Setelah mencapai kehamilan 30 minggu, curah jantung agak menurun karena batas pembesaran rahim menekan vena yang membawa darah dari tungkai ke jantung.Curah jantung meningkat sebesar 30% setelah persalinan curah jantung menurun sampai 15-25% di atas batas kehamilan, lalu secara perlahan kembali ke batas kehamilan.(Sulistiyawati, 2016, h. 61).


3)        Sistem Urinaria
Pada akhir kehamilan, peningkatan aktivitas ginjal yang lebih besar terjadi sarat wanita hamil yang tidur miring. Tidur miring mengurangi tekanan dari rahim pada vena yang membawa darah dari tungkai sehingga terjadi perbaikan aliran darah yang selanjutnya akan meningkat aktivitas ginajal dan curah jantung (Sulistiyawati, 2016, h. 62).
4)        Sistem Gastrointenstinal
Wanita hamil sering mengalami rasa panas di dada  (heartburn) dan sendawa, yang kemungkinan terjadi karena makanan yang lebih lama berada di dalam lambung dan karena relaksasi sftingter di kerongkongan bagian bawah yang memungkinkan isi lambung mengalir kembali ke kerongkongan. (Sulistiyawati, 2016, h.  63)
5)      Sistem Metabolisme
Kebutuhan zat besi wanita hamil kurang lebih dari 1.000 mg, 500 mg dibutuhkan untuk meningkatkan masa sel darah merah dan memasuki 300 mg un tuk ditransportasi ke fetus ketika kehamilan memasuki usia 12 minggu, 200 mg sisanya untuk menggantikan cairan yang keluar dari tubuh. Pada metabolisme mineral yang terjadi adalah sebagai berikut:
a)    Kalsium. Dibutuhkan rata-rata 1,5 gram sehari, sedangkan untuk pembentukan tulang terutama di trimester akhir dibutuhkan 30-40 gram.
b)   Fosfor. Dibutuhkan rata-rata 2gr/hari.
c)    Air. Wanita hamil cenderung mengalami retensi air (Sulistiyawati, 2016: 63)
6)        Sistem Muskuloskeletal
Adanya sakit punggung ligament pada kehamilan tua disebabkan oleh meningkatnya pergerakan pelvis akibat pembesar uterus.(Sulistiyawati, 2016, h. 64).
7)        Kulit
Topeng kehamilan (closma gravdarum) adalah bintik-bintik pigmen kecoklatan yang tampak di kulit kening dan pipi.Pembesaran rahim menimbulkan peregangan dan menyebabkan robeknya serabut elastis dibawah kulit, sehingga menimbulkan Striae gravidarum/Striae lividae. Kulit perut pada linea alba bertambah pigmentasinya dan disebut sebagai linea nigra. (Sulistiyawati, 2016, h. 65).
8)        Payudara
a)    Selama kehamilan payudara bertambah besar, tegang, dan berat
b)   Dapat teraba nodul-nodul, akibat hipertropu kelenjar alveolu
c)    Bayangan vena-vena lebih membiru
d)   Hiperpigmentasi pada areola pada putting susu
e)    Kalau diperas akan air susu jolong (kolostrum) berwarna kuning
(Sulistiyawati, 2016,  h. 65).

9)        Sistem endrokin
Selama siklus menstruasi normal, hipofisis anterior memproduksi LH dan FSH (follicle stimulating hormone) merangsang folikel de graff untuk menjadi matang dan berpindah ke permukaan ovarium di mana ia dilepaskan. Folikel yang kosong dikenal sebagai korpus leteum dirangsang LH untuk  memproduksi progesteron. (Sulistiyawati, 2016,  h. 66).
10)    Indeks Massa Tubuh  (IMT) dan Berat Badan
Cara yang dengan dipakai untuk  menenrukan berat badan menurut tinggi badan adalah dengan menggunakan indeks massa indeks massa tubuh (IMT) dengan rumus berat badan dibagi tinggi badan pangkat 2
19,8-26,6       : Normal
<19,8             : Underweight
26,6-29,0       : Overweight
>29,0             : Obese
Disarankan pada ibu haml primigravida untuk tidak menaikan untuk tidak menaikan berat badannya lebih dari 1 kg/bulan
Perkiraan peningkatan berat badan yang dianjurkan 4 kg pada kehamilan trimester I, 0,5 kg/ minggu pada kehamilan trimester II  adan sampai III, Totalnya sekitar 15-16 kg.
(Sulistiyawati, 2016,  h. 69).


11)    Sistem Pernapasan
Ruang abdomen yang membesar oleh karena meningkatnya ruang rahim dan pembentukan hormone progesteron menyebabkan paru-paru berfungsi sedikit berbeda dari biasanya.
(Sulistiyawati, 2016,  h. 69).
a)    Perubahan dan Adaptasi Psikologi dalam Masa Kehamilan
b)   Perubahan peran selama kehamilan
c)    Tahapan antisipasi
Dalam tahapan ini wanita akan mengalami adaptasi perannya dengan merubah peran sosialnya melalui latihan formal (misalnya kelas-kelas khususnya kehamilan) dan informal melalui model peran (Role model)
a)    Tahapan honeymoon
     Pada tahapan ini wanitra sudah mulai mecoba memenerima peran baruya dengan cara mencoba menyesuaikan diri.
b)   Tahapan stabil
     Tahapaan sebelumnya mengalami peningkatan samapai ia mengalami satu titik stabil danpenerimaan peran barunnya. Ia akan melakukan aktivitas-aktivitas yang bersifat positif dan berfokus untuk kehamilannya, seperti mencari tahu tentang informasi seputar persiapan kelahiran, cara mendidik dan merawata anak, serta hal yang berguna untuk menjaga kondisi kesehatan keluarga.

c)    Tahapan akhir (Perjanjian)
     Meskipun ia sudah cukup stabil dalam menerima perannya, namun ia tetap mengadakan “perjanjian” dengan dirinya sendiri untuk dapat mungkin “menepati janji” mengenai kesepakatan-kesepakatan internal yang telah ia buat brkaitan dengan apa yang akan ia perankan sejak saat ini sampai bayinya lahir kelak.
e.    Perubahan psikologi Trimester I (Periode Penyesuaian)
1)   Ibu merasa tidak sehat dan kadang merasa benci dengan kehamilannya,
2)   Kadang muncul penolakan, kekecawaan, kecemasan, dan kesedihan. Bahkan kadang ibu berharap agar dirinya tidak hamil saja.
3)   Ibu akan selalu mencari tanda-tanda ia apakah ia benar hamil
4)   Setiap perubahan yang terjadi dalam dirinya akan selalu mendapat perhatian dengan seksama
5)   Oleh karena perutnya masih kecil, kehamilan merupakan rahasia seorang ibu yang mungkin akan diberitahukannya kepada orang lain atau masalah mungkin dirahasiakannya.
6)   Hasrata untuk melakukan hubungan seks berbeda-beda pada tiap wanita, tetapi kebanyakan akan mengalami penurunan.


f.    Perubahan Psikologi Trimester II (Periode Kesehatan yang Baik)
1)   Ibu merasa sehat, tubuh ibu sudah terbiasa dengan kadar hormone yang tinggi.
2)   Ibu sudah bisa menerima kehamilannya
3)   Merasakan gerakan anak
4)   Merasa lepas dari ketidaknyamanan dan kehawatiran
5)   Libido meningkat
6)   Menuntut perhatian dan cinta
7)   Merasa bahwa bayinya sebagai individu yang merupakan bagian dari dirinya.
8)   Hubungan sosial meningkat dengan wanita hamil lainnyaa atau pada orang lain yang baru menjadi ibu.
9)   Keterkaitan dan aktivitas terfokus pada kehamilan, kelaahiran, dan persiapan untuk peran baru.
g.   Perubahan Psikologi Trimester III (Periode Penantian dengan Penuh Kewaspadaan)
1)   Rasa tidak nyaman timbul kembali, merasa dirinya jelek, aneh, dan tidak menarik.
2)   Merasa tidak menyenangkan ketika bayi tidak lahir tepat waktu
3)   Takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang timbul pada saat melahirkan, khawatir akan keselamatannya.
4)   Khawatir bayi akan dilahirkan dalam keadaan tidak normal, bermimpi yang mencerminkan perhatian dan kehawatirannya.
5)   Merasa sedih karena akan terpisah dari bayinya
6)   Merasa kehilanan mudah kehilagan perhatian
7)   Perasasaan mudah terluka (Sensitif)
8)   Libido menurun.
(Sulistiyawati, 2016,  h. 75-77).
h.        Kebutuhan Ibu Hamil
1)   Diet makan
Kebutuhan makanan pada ibu hamil mutlak harus dipenuhi. Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan anemia, abortus, IUGR, inersia uteri, perdarahan pasca persalinan, sepsis puerperalis, dan lain-lain. Sedangkan kelebihan makanan karena beranggapan pemenuhan makan untuk dua orang akan berakibat kegemukan, pre-eklampsi, janin terlalu besar, dan sebagainya. Hal penting yang harus diperhatikan sebenarnya adalah cara mengatur menu dan pengolahan menu tersebut dengan berpedoman pada pedoman umum gizi seimbang. Bidan sebagai pengawas kecukupan gizinya dapat melakukan pemantauan terhadap kenaikan berat badan selama kehamilan.
Status gizi ibu yang kurang baik sebelum dan selama kehamilan merupakan penyebab utama dari berbagai persoalan kesehatan yang serius pada ibu dan bayi,  yang berakibat terjadinya bayi lahir dengan berat badan rendah, kelahiran prematur, serta kematian neonatal dan prenatal. Padahal usaha perbaikan status gizi ibu hamil telah banyak dilakukan di berbagai Negara.
2)   Oksigen
Kebutuhan oksigen berhubungan dengan perubahan sistem pernafasan pada masa kehamilan.
Kebutuhan oksigen selama kehamilan meningkat sebagai respon tubuh terhadap akselerasi metabolisme rate perlu untuk menambah jaringan pada payudara, hasil konsepsi dan masa uterus dll, akibat terjadi perubahan anatomi paru, diameter thoraks meningkat ± 2 cm lingkaran dada akan meningkat 5-7 cm, sudut costa ± 68º sebelum kehamilan menjadi 103º pada kehamilan trimester ketiga.
3)   Nutrisi
Nutrisi berkaitan dengan pemenuhan kalori yang digunakan oleh tubuh sebagai pengelola :
a)    Proses physic 66% digunakan tubuh untuk kebutuhan: (pernafasan + sirkulasi + pencernaan + sekresi + temperature tubuh) ditambah untuk pertumbuhan dan perbaikan = 1,440 kcal/Dag.
b)   Aktivitas/ hari seperti jalan, posisi tubuh, bicara perpindah-pindahan dari satu tempat kesatu tempat yang lain, makan membutuhkan energy 17% total tidak hamil. Bekerja rata-rata 7-10% = 150-200 Kcal.
c)    Metabolisme 7%           144 Kcal dengan pembagian: kondisi tidak hamil = 2100 Kcal/hari, Hamil = 2500 Kcal/hari (fetus, plasenta, uterus, mammae), lactasi = 3000 kcal/hari.
(Ai yeyeh, 2014, h. 77-78).
4)   Personal hygiene
Personal hygiene ini berkaitan dengan perubahan sistem pada tubuh ibu hamil, hal ini disebabkan, selama kehamilan PH vagina menjadi asam berubah dari 4-3 menjadi 5-6,5 akibat vagina mudah terkena infeksi, stimulus oestrogen menyebabkan adanya fluor albus (keputihan), peningkatan vaskularisasi di perifer mengakibatkan wanita hamil sering berkeringat, uterus yang membesar menekan kandung kemih, mengakibatkan keinganan wanita hamil untuk erring berkemih, mandi teratur mencegah iritasi vagina, teknik pencucian perianal dari depan kebelakang, pada triwulan pertama wanita hamil mengalami enek dan muntah (morning sickness). Keadaan ini menyebabkan perawatan gigi tidak diperhatikan dengan baik, sehingga timbul karies, gingivitis, dan sebagainya.
5)   Pakaian
Baju hamil yang praktis selama enam bulan kehamilan menggunakan baju biasa yang longgar, pilihlah bahan yang tidak panas dan mudah menyerap keringat, bagian dada harus longgar karena payudara akan membesar, bagian pinggang harus longgar kalau perlu terdapat tali untuk menyesuaikan perut yang terus membesar, brach disiapkan paling sedikit dua buah dengan bukaan didepan untuk memudahkan menyusui, sepatu kenakan yang bertumit tetapi jangan yang rata dan hindari sepatu yang bertali karena akan merepotkan.

6)   Eliminasi
Kebutuhan fisik ibu hamil akan eliminasi berkaitan dengan adaptasi gastrointestinal sehingga menyebabkan penurunan tonus dan motiliti lambung dan usus terjadi reabsorbsi zat makanan peristaltic usus lebih lambat sehingga menyebabkan konstipasi.
Ibu hamil sering mengalami gangguan eliminasi misalkan susah buang air besar berkaitan juga dengan perubahan hormone progesteron, yang sifatnya membuat relaksasi otot-otot polos sehingga usus mengalami gangguan peristaltic yang fungsinya untuk mendorong feses keluar dan semakin ibu sulit BAB, faeses semakin menumpuk dan akhirnya mengeras.
7)   Seksual
Meningkatnya vaskularisasi pada vagina dan visera pelvis dapat mengakibatkan meningkatnya sensitifitas seksual sehingga meningkatkan hubungan intercourse sebaiknya ketakutan akan injuri pada ibu ataupun janin akan mengakibatkan menurunya pola seksualitas, anjuran yang diberikan yaitu jangan melakukan hubungan intercourse sesudah buang air kecil.
8)   Mobilisasi, body mekanik
Berhubungan dengan sistem muskuloskeletal, persendian sakroiliaka, sakro-koksigis dan pubik yang akan menyebabkan adanya keretakan, pusat gravitasi berubah sehingga postur tubuh berubah, terjadi perubahan fostur tubuh menjadi lordosis fisiologis. Penekanan pada ligament dan pelvic, cara baring, duduk, berjalan dan berdiri dihindari jangan sampai mengakibatkan injuri karena jatuh.
9)   Exercise/Senam hamil
Berhubungan dengan adanya peregangan otot-otot, perlunakan ligament-ligament  dan pelonggaran persendian sehingga area yang paling bawah terpengaruh adalah tulang belakang (curva lumbar yang berlebihan), otot-otot abdominal (meregang diatas uterus), otot dasar panggul (menahan berat badan dan tekanan uterus).
Tujuannya menyangga dan menyesuaikan tubuh agar lebih baik dalam menyangga beban kehamilan, memperkuat otot untuk menopang tekanan tambahan, membangun daya tahan tubuh, memperbaiki sirkulasi dan respirasi, menyesuaikan dengan adanya pertambahan berat badan dan perubahan keseimbangan, meredakan ketegangan dan membangun relaksasi, membentuk kebiasaan bernafas yang baik, memperoleh kepercayaan sikap mental yang baik
10)    Istirahat dan Tidur
Berhubungan dengan kebutuhan kalori pada, pada masa kehamilan, mandi air hangat sebelum tidur, tidur dalam posisi miring kekiri, letakan beberapa bantal untuk menyangga, pada ibu hamil sebaiknya banyak menggunakan waktu luangnya untuk banyak istirahat atau tidur walau bukan tidur betulan hanya baringkan badan untuk memperbaiki sirkulasi darah, jangan bekerja terlalu capek dan berlebihan.

11)    Imunisasi
Kehamilan bukan saat untuk memakai program imunisasi terhadap berbagai penyakit yang dapat dicegah, hal ini karena kemungkinan adanya akibat yang membahayakan janin.Imunisasi harus diberikan pada wanita hamil hanya vaksin tetanus untuk mencegah kemungkinan tetanus neonatorum.
Tabel 2.3 Imunisasi TT

Antigen
Interval (selang waktu minimal
Lama
Perlindungan
% perlindungan
TT1
Pada kunjungan antenatal pertama
-
-
TT2
4 minggu setelah TT1
3 tahun
80
TT3
6 bulan setelah TT2
5 tahun
95
TT4
1 tahun setelah TT3
10 tahun
99
TT5
1 tahun setelah TT4
25 tahun/seumur hidup
99

12)    Persiapan persalinan
Meskipun hari perkiraan persalinan masih lama tidak ada salahnya jika ibu dan keluarga mempersiapkan persalinan sejak jauh hari sebelumnya.Ini dimaksudkan agar jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan atau persalinan maju dari hari perkiraan semua perlengkapan yang dibutuhkan sudah siap. Beberapa hal yang harus dipersiapkan untuk perslinan adalah:
a)    Biaya dan penentuan tempat serta penolong persalinan
b)   Anggota keluarga yang dijadikan sebagai pengambil keputusan jika terjadi suatu komplikasi yang membutuhkan rujukan
c)    Baju ibu dan bayi beserta perlengkapan lainnya
d)   Surat-surat fasilitas kesehatan (misalnya Askes, jaminan kesehatan dari tempat kerja kartu sehat dan lain-lain )
e)    Pembagian peran ketika ibu berada di RS (ibu dan mertua, yang menjaga anak lainnya jika bukan persalinan yang pertama.
13)    Memantau kesejahteraan janin
Kesejahteraan janin dalam kandungan perlu dipantau secara terus-menerus agar jika ada gangguan janin dalam kandungan akan dapat segera terdeteksi dan ditangani. Salah satu indikator kesejahteraan janin yang dapat dipantau sendiri oleh ibu adalah gerakannya dalam 24 jam.
Gerakan janin dalam 24 jam minimal 10 kali. Gerakan ini dirasakan dan dihitung oleh ibu sendiri yang dikenal dengan menghitung “gerak sepuluh”. (Sulistyawati, 2016, h. 122-123)
14)    Travelling/perjalanan
Wanita hamil harus berhati-hati melakukan perjalanan yang cenderung lama dan melelahkan, karena dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan mengakibatkan gangguan sirkulasi serta oedema tungkai karena kaki tergantung jika duduk terlalu lama.Sabuk pengaman yang dikenakan dikendaraan jangan sampai menekan perut yang menonjol.(Ai yeyeh, 2014, h 82-89).
i.      Ketidaknyamanan dan cara mengatasi
1)   Morning sickness (mual dan muntah)
Biasanya dirasakan pada saat kehamilan dini.Disebabkan oleh respons terhadap hormone dan merupakan pengaruh fisiologi.Untuk penatalaksanaan khusus bisa dengan diet, namun jika vomitus uterus terjadi maka obat-obat antimeti dapat diberikan. Untuk asuhannya berikan nasihat tentang gizi, makan sedikit tapi sering, makan makanan padat sebelum bangkit dari berbaring, segera melaporkannya jika gejala vomitus menetap atau bertambah  parah, serta mengingatkan pasien bahwa obat antivomitus dapat membuatnya mengantuk.
2)   Mengidam
Terjadi setiap saat, disebabkan karena respons papilla pengecap pada hormone sedangkan pada sebagian wanita,mungkin untuk mendapatkan perhatian. Untuk penatalaksanaan khusus yaitu dengan nasihat dan menentramkan perasaan pasien. Berikan asuhan dengan meyakinkan bahwa diet yang baik tidak akan terpengaruh oleh makanan yang salah.
3)   Nyeri ulu hati
Dirasakan pada bulan-bulan terakhir, disebabkan karena adanya progesterone serta tekanan dari uterus.Untuk penatalaksanaan khusus biasanya dengan diet dan kadang-kadang pemberian antacid. Asuhan yang dapat dilakukan dengan memberikan nasihat tentang gizi, makan sedikit-sedikit, minum susu, hindari makanan yang pedas, gorengan atau berminyak, tinggikan bagian kepala tempat tidur.
4)   Konstipasi
Terjadi pada bulan-bulan terakhir, dan disebabkan karena progeteron dan usus yang terdesak oleh rahim yang membesar, atau bisa juga dikarena efek dari terapi tablet zat besi.Penatalaksanaan khusus yaitu dengan diet atau kadang-kadang dapat diberikan yaitu dengan nasihat makanan tinggi serat, buah dan sayuran, ekstra cairan, hindari makanan berminyak, dan anjurkan olahraga tanpa dipaksa.
5)   Hemoroid
Dirasakan pada bulan-bulan terakhir, dan disebabkan karena progeteron serta adanya hambatan arus balik vena.Penatalaksanaan khusus dengan diet, pemberian krim atau supositoria hemoroid, reposisi digital, kadang operasi jika terdapat thrombosis (kolaborasi dengan dokter).Asuhan yang dapat diberikan dengan nasihat untuk mencegah konstipasi.
6)   Vena varikosa
Terasa pada bulan-bulan pertengahan hingga terakhir. Disebabkan karena pengaruh progesterone dan venous return yang terhalang, atau peningkatan volume darah dan alirannya selama kehamilan serta adanya perubahan elastisitas pembuluh darah yang menyebabkan dinding vena menonjol. Atau juga diakhiri kehamilan dikarenakan tekanan kepala janin pada vena daerah panggul.Penatalaksanaan khusus dengan menggunakan stocking elastis. Adapun asuhannya dengam memberikan nasihat untuk menghindari berdiri atau duduk terlalu lama, meninggikan tungkai jika sedang beristirahat atau berbaring, menganjurkan penggunaan stocking elastis tapi hindari penggunaan pakaian terlalu ketat setinggi lutut yang akan menurunkan sirkulasi darah ke kaki, olahraga secara rutin (berjalan atau berenang). Dan pada saat duduk jangan menyilangkan kaki karena akan menurunkan sirkulasi darah ke kaki.
7)   Vena varikosa dan vulva
Dirasakan pada bulan-bulan terakhir dan disebabkan oleh progesteron dan hambatan arus balik vena.Jika sangat nyeri dapat disuntik, kalau tidak bisa dengan berikan tekanan pada daerah tersebut.Adapun kelahiran harus dilakukan dengan hati-hati (hi dari episiotomi di dekat vena varikosa). Nasihat untuk memasang tampon/bantalan yang menekan kuat perineum, gunakan celana yang stretching.
8)   Gejala pingsan
Umum dirasakan pada kehamilan dini dan lanjut.Disebabkan karena vasodilatasi hipotensi atau hemodilusi. Yang harus dilakukan adalah dengan menentramkan perasaan pasien, kadang dapat diberikan suplemen zat besi, berbaring jika terasa pening dan singkirkan sebab-sebab yang serius, seperti kelainan jantung preeklampsi, hipoglikemia, anemia,.Asuhan yang dapat diberikan dengan nasihat untuk menghindari situasi yang membuat keadaan ini bertambah parah (misalnya panas), menjelaskan penyebabnya menghindari interval waktu makan yang terlalu lama, menghindari pemakaian pakaian yang terlalu ketat.
9)   Insomnia
Dirasakan ketika kehamilan dini dan lanjut. Karena tekanan pada kandung kemih, pruritis, kekhawatiran, gerakan janin yag sering menendanng, kram, heartburn. Yang harus dilakukan adalah penyelidikan dan penanganan penyebab, kadang-kadang diperlukan preparat sedativ, dan minum susu sebelum tidur dapat membantu.mengingatkan kembali nasihat yang diberikan dokter, memastikan bahwa cara-cara sederhana untuk menanggulangi insomnia seperti mengubah suhu dan suasana kamar menjadi lebih sejuk dengan mengurangi sinar yang masuk atau mengurangi kegaduhan. Sebaiknya tidur mirin ke kiri atau ke kanan dan beri ganjalan pada kaki, serta mandilah dengan air hangat sebelum tidur yang akan menjadikan ibu ebih santai dan mengantuk, dan merujukkan pasien kepada petugas psikologis jika diperlukan.
10)    Kram otot betis
Umum dirasakan saat kehamilan lanjut. Untuk penyebab tidak jelas, bisa karenakan iskemia transient setempat, kebutuhan akan kalsium (kadar rendahnya rendah dalam tubuh) atau perubahan sirkulasi darah, tekanan pada syaraf di kaki. Kalsium dan vitamin kadang-kadang diperlukan, khasiat kedua preparat ini masih belum dapat dipastikan.Nasihati untuk jangan menggunakan sembarangan obat tanpa seizin dokter, perbanyak makan-makanan yang mengandung kalsium, menaikan kaki ke atas, pengobatan simpotomatik dengan kompres hangat, massase, menarik jari kaki ke atas.
11)    Buang air kecil yang sering
Keluhan dirasakan saat kehamilan dini, kemudian kehamilan lanjut.Disebabkan karena progesterone dan tekanan pada kandung kemih karena pembesaran rahim atau kepala bayi yang turun ke rongga panggul.Yang harus dilakukan adalah dengan menyingkirkan kemungkinan infeksi. Beri nasihat untuk mengurngi minum setelah makan malam atau minimal 2 jam sebelum tidur, menghindari minum yang mengandung kafein, jangan mengurangi kebutuhan air minum (minimal 8 gelas/hari) perbanyak disiang hari dan lakukan senam kegel.
12)    Stress inkontinensia
Terasa pada bulan-bulan terakhir dan disebabkan karena progesterone dan adanya tekanan.Bisa diatasi dengan fisioterapi sperti peninjauan kembali setelah melahirkan. Berikan nasihat untuk melakukan latihan dasar panggul, perhatikan juga hygiene dan penggunaan tampon pelindung serta perawatan kulit jika diperlukan.
13)    Secret dari vagina
Bisa dirasakan setiap saat. Merupakan hal yang fisiologis (karena pengaruh estrogen), atau karena kandidiasis (sering), glikosuria, antibiotic, infeksi, trikomonas, gonore mencoba untuk menentramkan perasaan pasin dan menyingkirkan kemungkin infeksi (atau mengobatinya) yaitu kandidiasis obat anti fungus, krim atau supositoria, preparat oral anti fungsi untuk mencegah reinfeksi dari usus, penggunaan jeli vagina yang asam, yoghurt, gentian violet juga dapat dilakukan. Beri nasihat dengan menjelaskan bahwa peningkatan secret vagina merupakan kejadian fisiologis, anjurkan untuk memperhatikan hygiene dengan gunakan celana dalam yang terbuat dari bahan katun tipis atau menghindari celana jins yag ketat dan pakaian dalam sentetik yang akan meningkatkan kelembaban serta iritasi kulit, jangan menggunakan sabun dan basuh dari arah depan ke belakang serta keringkan dengan handuk atau tisu yang bersih serta penangangan pruritus.
14)    Pruritus
Dirasakan setiap saat disebabkan oleh generalisasi obat-obatan, disfungsi hepar, vulva hygiene yang buruk, kandidiasis atau trikomonas, serta diabetes.bila diatasi dengan pemberian salep kulit antipruritus, sedasi jika disertai insomnia yang serius. Berikan nasihat untuk mandi berendam dalam air dingin (jangan dalam air hangat) jangan memakai sabun, gunakan celana dalam katun yang tipis, perhatian hyangiene, hindari pemakaian sembarang obat tanpa ijin dokter.
15)    Nyeri punggung
Umum dirasakan ketika kehamilan lanjut.Disebabkan oleh progesterone dan relaksasi (yang melunakan jaringan ikat) dan postur tubuh yang berubah serta meningkatnya beba berat yang dibawa dalam rahim.Yang harus dilakukan adalah dengan menyingkirkan kemungkinan penyebab yang serius, fisoterapi, pemanasan pada bagian yang sakit, analgesia, dan istirahat. Berikan nasihat untuk memperhatikan postur tubuh (jangan terlalu sering membungkuk dan berdiri serta berjalan dengan punggug dan bahu yang tegak, menggunaka sepatu tumit rendah, hindari mengangkat benda yang berat, memberitahukan cara-cara untuk mengistirahatkan otot punggung, menjelaskan keuntungan untuk mengenakan korset khusus bagi ibu hamil, tidur pada kasur tipis yang di bawanya ditaruh papan jika diperlukan (atau yang nyaman).
16)    Bengkak pada kaki
Dikarenakan adanya perubahan hormone yang menyebabkan retensi cairan.Yang harus dilakukan adalah dengan segera berkonsultasi dengan dokter jika bengkak yang dialami pada kelopak mata, wajah dan jari yang disertai tekanan darah tinggi, sakit kepala, pandangan kabur (tanda pre eklampsia).Kurangi asupan makanan yang mengandung garam, hindari duduk dengan kaki bersilang, gunakan bangku kecil untuk menopang kaki ketika duduk, memutar pergelangan kaki juga perlu dilakukan.
17)    Sesak nafas
Terasa pada saat usia kehamilan lanjut (33-36 minggu). Disebabkan oleh pembesaran rahim yang menekan daerah dada. Dapat diatasi dengan senam hamil (latihan pernafasan), pegang kedua tangan di atas kepala yang akan member ruang bernafas yang lebih luas.
18)    Mudah lelah
Umum dirasakan setiap saat dan disebabkan karena perubahan emosional maupun fisik.Yang harus dilakukan adalah dengan mencari waktu untuk beristirahat, jika merasa lelah pada siang hari maka segera tidurlah, hindari tugas rumah tangga yang terlalu berat, cukup mengkonsumsi kalori, zat besi dan asam folat. (Ai yeyeh, 2014, h. 93-98)

j.     Tanda-tanda Bahaya Kehamilan
Selama kehamilan beberapa tanda bahaya yang dialami dapat dijadikan sebagai data dalam deteksi dini komplikasi akibat kehamilan. Jika pasien mengalami tanda-tanda bahaya ini maka sebaiknya segera dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan tindakan antisioasi untuk mencegah terjadinya kematian ibu dan janin.
Beberapa tanda bahaya yang penting untuk disampaikan kepada pasien dan keluarga adalah sebagai berikut.
1)   Perdarahan per vagina
2)   Sakit kepala hebat
3)   Masalah penglihatan
4)   Bengkak pada muka atau tangan
5)   Nyeri abdomen yang hebat
6)   Bayi kurang bergerak seperti biasa
     (Sulistyawati, 2016, h. 143)
k.   Pre-eklampsia
Preeklampsia merupakan penyulit kehamilan yang akut dan dapat terjadi ante, intra, dan postpartum. Dari gejala-gejala klinik preeklampsia dapat dibagi menjadi preeklampsia ringan dan preeklampsia berat.

Pembagian preeklampsia menjadi berat dan ringan tidaklah berarti adanya dua penyakit yang jelas berbeda, sebab seringkali ditemukan penderita dengan preeklampsia ringan dapat mendadak mengalami kejang dan jatuh dalam koma. Gambaran klinik preeklampsia bervariasi luas dan sangat individual, kadang-kadang sukar untuk menentukan gejala preeklampsia mana yang timbul lebih dahulu. Secara teoritik, urutan-urutan gejala yang timbul pada preeklampsia ialah edema, hipertensi, dan terakhir protein urine, sehingga bila gejala-gejala ini timbul tidak dalam urutan diatas, dapat di anggap bukan preeklampsia.

Preeklampsia ringan:
Definisi: adalah suatu sindroma spesifik kehamilan dengan menurunnya perfusi organ yang berakibat terjadinya vasospasme pembuluh darah dan aktivasi endotel.
Diagnosis: diagnosis preeklampsia ringan ditegakkan berdasarkan atas timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan / atau edema setelah kehamilan 20 minggu.
1)   Hipertensi sistolik atau diastolik ≥140/90 mmHg.
2)   Proteinuria ≥300 mg/24 jam atau ≥1 + dipstik.
3)    Edema: edema lokal tidak dimasukkan dalam kriteria preeklampsia, kecuali edema pada edema lengan, muka dan perut, edema generalisata.
Preeklampsia Berat
Definisi: Preeklampsia berat ialah preeklampsia dengan tekanan darah sistolik ≥160 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥110 mmHg disertai proteinuria &gt;5g/24 jam
Diagnosis: di tegakkan berdasarkan kriteria preeklampsia berat sebagaimana tercantum di bawah ini.
Preeklampsia digolongkan preeklampsia berat bila ditemukan satu atau lebih gejala sebagai berikut
1)      Tekanan darah sistolik & gt;160mmHg dan tekanan darah diastolik &gt;110mmHg. Tekanan darah ini tidak menurun meskipun ibu hamil sudah dirawat di rumah sakit dan sudah menjalani tirah baring
2)       Proteinuria & gt;5g/24jam atau 4+ dalam pemeriksaan kualitatif
3)      Oligouria, yaitu produksi urine &lt;500 cc dalam 24 jam
4)      Kenaikan kadar kreatinin plasma
5)      Gangguan fisus dan cerebral: penurunan kesadaran, nyeri kepala, dan pandangan kabur
6)      Nyeri epigastrium atau nyeri pada kuadran kanan atas abdomen (akibat teregangnya kapsula Glisson)
7)      Edema paru-paru dan sianosis
8)      Hemolisis mikro angiopatik
9)      Trombositopenia berat: &lt;100.000 sel/mm 3 atau penurunan trombosit dengan cepat.
10)  Gangguan fungsi hepar (kerusakan hepatoselular): peningkatan kadar alanin dan aspartate amino transferase
11)  Pertumbuhan jaringan intra uterin yang terhambat
12)  Sindrome HELLP.
Pembagian preeklampsia berat
1)   Preeklampsia berat tanpa impending eclampsia
2)   Preeklampsia berat dengan impending eclampsia. Di sebut impending eclampsia bila preeklampsia berat disertai gejala-gejala subjektif berupa nyeri kepala hebat, gangguan visus, muntah-muntah, nyeri epigastrium, dan kenaikan progresif tekanan darah. Perawatan dan pengobatan preeklampsia berat Pengelolaan preeklampsia berat mencakup pencegahan kejang, pengobatan hipertensi, pengelolaan cairan, pelayanan supprtif terhadap penyulit organ yang terlibat, dan saat yang tepat untuk persalinan. Monitoring selama di rumah sakit pemeriksaan sangat teliti diikuti dengan observasi harian tentang tanda-tanda klinik berupa: nyeri kepala, gangguan visus, nyeri epigastrium, dan kenaikan cepat berat badan. Selain itu, perlu dilakukan penimbangan berat badan, pengukuran proteinuria, pengukuran tekanan darah, pemeriksaan labolatorium dan pemeriksaan USG Pengobatan medikamentosa penderita preeklampsia berat harus segera masuk rumah sakit untuk rawat inap dan di anjurkan tirah baring miring ke satu sisi (kiri) Perawatan yang penting pada preeklampsia berat adalah pengelolaan cairan karena penderita preeklampsia mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya edema paru dan oligouria. Sebab terjadinya keaadaan tersebut belum jelas, tetapi faktor yang sangat terjadinya edema paru dan oligouria adalah hipvolimia, vasospasme, kerusakan sel endotel, penurunan gradien tekanan onkotik koloid/pulmonary capillary wedge preesure. bila terjadi tanda-tanda edema paru, segera dilakukan tindakan koreksi.
Cairan yang diberikan dapat berupa:
1)   5% Ringer-dekstrose atau cairan garam faali jumlah tetesan : &lt; 125cc/ jam, atau
2)   Infus Dekstrose 5% yang tiap 1 liternya di selingi dengan infus Ringer laktat (60-125cc/jam) 500cc. Di pasang Foley catheter untuk mengukur pengeluaran urine. Oligouria terjadi bila produksi urine dibawah 30cc/ jam dalam 2-3 jam atau dibawah 500cc/24jam. Diberikan antasida untuk menetralisir asam lambung sehingga bila mendadak kejang, dapat menghindari resiko aspirasi asam lambung yang sangat asam.
Diet yang cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam. Pemberian obat antikejang Obat antikejang adalah MgSO4. Contoh obat-obat lain yang dipakai untuk anti kejang:
1)   Diazepam
2)   Fenitoin: difenihidantoin obat antikejang untuk epilepsi telah banyak dicoba pada penderita eklampsia. Fenitoin sodium mempunyai khasiat stabilisasi membran neuron, cepat masuk jaringan otak dan efek anti kejang terjadi 3 menit setelah injeksi intravena. Pemberian magnesium sulfat sebagai anti kejang lebih efektif di banding fenitoin, berdasar Cochrane Review terhadap 6 uji klinik, yang melibatkan 897 penderita eklampsia. Magnesium sulfat menghambat atau menurunkan kadar asetilkolin pada rangsangan serat saraf dengan menghambat transmisi neuromoskular. Transmisi neuromuskular membutuhkan kalsium pada sinaps. Pada pemberian magnesium sulfat, magnesium akan menggeser kalsium, sehingga aliran rangsangan tidak terjadi (terjadi kompetitif inhibition antara ion kalsium dan ion magnesium). Kadar kalsium yang tinggi dalam darah dapat menghambat kerja magnesium sulfat. Magnesium sulfat sampai saat ini masih menjadi pilihan pertama untuk anti kejang pada preeklampsia atau eklampsia.
Cara pemberian:
Magnesium sulfat regimen:
1)   Loading dose: initial dose 4 gram MgSO 4 : intravena, (40% dalam 10cc) selama 15 menit.
2)   Maintenance dose
Diberikan infus 6 gram dalam larutan ringer/6 jam; atau diberikan 4 atau 5 gram i. m. Tiap 4-6 jam.
3)   Syarat-syarat pemberian MgSO 4 :
a)      Harus tersedia antidotum MgSO 4 , bila terjadi intoksikasi yaitu kalsium glukonas 10%= 1g (10% dalam 10cc) di berikan i.v. 3 menit
b)      refleks patella (+) kuat
c)      frekwensi pernapasan &gt; 16 kali/ menit , tidak ada tanda-tanda distres napas.
4)   Magnesium sulfat dihentikan bila:
a)      Ada tanda-tanda intoksikasi
b)      Setelah 24 jam pasca persalinan atau 24 jam setelah kejang terakhir.
5)   Dosis terapeutik dan toksis MgSO 4 :
a)      Dosis terapeutik 4-7 mEq/liter 4,8-8,4 mg/dl
b)      Hilangnya refleks tendon 10 mEq/ liter 12 mg/dl
c)      Terhentinya pernapasan 15 mEq/liter 18 mg/dl
d)     Terhentinya jantung &gt;30 mEq/liter &gt;36 mg/dl
Pemberian Magnesium sulfat dapat menurunkan resiko kematian ibu dan didapatkan 50% dari pemberiannya mnimbulkan efek flushes (rasa panas).
Diuretikum tidak diberikan secara rutin, kecuali bila ada edema paru-paru, payah jantung kongestif atau anasarka. Diuretikum yang dipakai ialah Furosemid. Pemberian diuretikum dapat merugikan, yaitu memperberat hipovolemia, memperburuk perfusi utero-plasenta, meningkatkan hemokonsentrasi, menimbulkan dehidrasi pada janin, dan menurunkan berat janin.
Antihipertensi
1)      Antihipertensi lini pertama
Nifedipin
Dosis 10-20 mg per oral, diulangi setelah 30 menit; maksimum 120 mg dalam 24 jam
2)      Antihipertensi lini kedua
Sodium nitroprussi: 0,25 µg i.v/ kg / menit, infus; ditingkatkan 0,25 µg i.v/kg/5 menit.
Diazokside: 30-60 mg i.v./5 menit; atau i.v. infus 10 mg/ menit/ dititrasi.
Jenis obat anti hipertensi yang diberikan di Indonesia adalah:
Nifedipin
Dosis 10-20 mg per oral, diulangi setelah 30 menit; maksimum 120 mg dalam 24 jam. Nifedipin tidak boleh diberikan sublingual karena efek fasodilatasi sangat cepat, sehingga hanya boleh diberikan per oral.
Edema paru
Pada preeklampsia barat dapat terjdai edema paru akibat kardiogenik (payah jantung ventrikel kiri akibat peningkatan after load) atau non-kardiogenik (akibat kerusakan sel endotel pembuluh darah kapiler paru).
Prognosis preeklampsia berat menjadi buruk bila edema paru di sertai oligouria.
Glukokortikoid
Pemberian glukokortikoid untuk pematangan paru janin tidak merugikan ibu. Diberikan pada kehamilan 32-34 minggu, 2x24 jam. Obat ini di berikan juga pada syndrom HELLP.
(Prawiroharjo, 2018)
l.        Pengaruh Pemberian Jus Mentimun terhadap Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik
Pemberian jus mentimun dengan dosis 150 ml (kalium 153 mg dan magnesium 11 mg) setiap hari selama 7 hari berpengaruh secara bermakna terhadap penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik pada pria dan wanita dengan hipertensi.
Magnesium mempengaruhi tekanan darah dengan memodulasi reaktivitas dan pergerakan vaskuler. Selain itu magnesium juga beperan dalam memproduksi prostasiklin vasodilator dan nitric oxide. Namun mekanisme lebih lanjut pengaruh magnesium terhadap tekanan darah masih diteliti lebih lanjut karena pada penelitian yang menguji suplementasi 184 mg magnesium dua kali sehari pada 14 subjek laki-laki normomagnesemik menunjukkan tidak ada penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik yang bermakna. Hasil yang berbeda didapatkan pada eksperimen suplementasi 450 mg magnesium pada 42 subyek hipertensi dengan hipomagnesemik dapat menghasilkan penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik yang signifikan (20,4 mmHg dan 8,7 mmHg).28 Penyebab terjadinya penurunan ini diduga akibat mekanisme calcium channel antagonist dan penghambatan kerja angiontensi II yang berakibat pada pencegahan sekresi norepinefrin. Selain itu suplementasi magnesium oral akan bekerja lebih baik pada peningkatan aktivitas plasma renin. Untuk mengontrol tekanan darah, asupan magnesium yang disarankan adalah  400 mg/hari.

Homeostasis natrium dan kalium memainkan peran penting dalam vasodilatasi-terkait-endotelium.15 Keadaan hipertensi menyebabkan peningkatan sekresi renin dan aktifasi RAS menjadi tidak bisa dikendalikan. Kalium berperan dalam meningkatkan sensitifitas syaraf simpatetik sehingga pengeluaran renin dapat dicegah. Selain itu, asupan kalium dalam jumlah cukup dapat mengurangi retensi natrium dan cairan.

Homeostasis natrium dan kalium memainkan peran penting dalam vasodilatasi-terkait-endotelium. Keadaan hipertensi menyebabkan peningkatan sekresi renin dan aktifasi RAS menjadi tidak bisa dikendalikan. Kalium berperan dalam meningkatkan sensitifitas syaraf simpatetik sehingga pengeluaran renin dapat dicegah. Selain itu, asupan kalium dalam jumlah cukup dapat mengurangi retensi natrium dan cairan. (Lovindy, 2016)

                2.       Persalinan
a.    Pengertian persalinan
Persalinan adalah proses pengeluaran (kelahiran hasil konsepsi yang dapat hidup diluar uterus melalui vagina ke dunia luar. Proses tersebut dapat dikatakan normal atau spontan jika bayi yang dilahirkan berada pada posisi letak belakang kepala dan berlangsung tanpa bantuan alat-
alat atau pertolongan, serta tidak melukai ibu dan bayi. Pada umumnya proses ini berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam. (Sondakh, 2013)
b.   Persalinan berdasarkan teknik
1)   Persalinan spontan, yaitu persalinan berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir.
2)   Persalinan buatanyaitu persalinan dengan tenaga dari luardengan ekstraksi forceps, ekstraksi vakum dan section sesaria.
3)   Persalinan anjuran yaitu persalinan tidak dimulai dengan sendirinya tetapi baru berlangsung setelah pemecahan ketuban, pemberian pitocin aprostaglandin. ( Aiyeyeh, dkk, 2014, h. 2)
c.    Sebab mulainya persalinan
Hal yang menjadi penyebab mulainya persalinan belum diketahui benar, yang ada hanyalah merupakan teori-teori yang kompleks. Perlu diketahui bahwa ada dua hormone yang dominan saat hamil.
1)   Estrogen
a)   Meningkatkan sensitivitas otot rahim.
b)   Memudahkan penerimaan rangsangan dari luar seperti rangsangan oksitosin, rangsangan prostahgalndin, serta rangsangan mekanis.
2)   Progesteron
a)   Menurunkan sensitivitas otot rahim.
b)   Menyulitkan penerimaan dari luar seperti rangsangan oksitosin , rangsangan prpstaglandin, serta rangsangan mekanis.
c)   Menyebabkan otot rahim dan otot polos relaksasi
(Rohani, dkk, 2013, h. 4)
d.   Tanda Mulainya Persalinan
Terdapat beberapa teori yang berkaitan dengan mulai terjadinya kekuatan his sehingga menjadi awal mula terjadinya proses persalinan, di antaranya adalah:
1)      Teori Penurunan Progesteron
Menurut Prawirohajo 2007: 181 kadar progesterone akan mulai menurun pada kira-kira 1-2 minggu sebelum persalinan dimulai.  (Sondakh, 2013. h. 2)

2)        Teori Keregangan
Ukuran uterus yang makin membesar dan mengalami penegangan akan mengakibatkan otot-otot uterus mengalami iskemia sehingga mungkin dapat menjadi faktor yang dapat mengganggu sirkulasi uteroplasenta yang pada akhirnya membuat plasenta mengalami degenerasi.ketika uterus berkontraksi dan menimbulkan tekanan pada selaput ketuban, tekanan hidrostatikkantong amnion akan melebarkan saluran serviks. (Sondakh,2013.h.3)
3)      Teori oksitosin interna
Hipofisis posterior menghasilkan hormone oksitosin. Adanya perubahan keseimabangan antara estrogen dan progesterone dapat mengubah tingkat sensitivitas otot rahim dan akan mengakibatkan terjadinya kontraksi uterus uang disebut Braxton Hicks. Penurunan kadar progesterone karena usia kehamilan yang sudah tua akan mengakibatkan aktivitas oksitosin meningkat. (Sondakh,2013.h.3).
4)      Teori Plasenta Menjadi Tua
Sering matangnya kehamilan vili chorialis dalam plasenta mengalami beberapa perubahan, hal ini menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesterone yang mengakibatkan tegangnya pembuluh darah sehingga akan menimbulkan kontraksi (Sulistyawati, 2013, h. 5).
Beberapa tanda-tanda dimulainya persalinan adalah sebagai berikut.

a)        Terjadinya His Persalian, Sifat his persalinan adalah:
(1)      Pinggang terasa sakit dan menjalar kedepan.
(2)      Sifatnya teratur, anterval makin pendek, dan kekuatan makin besar.
(3)      Makin beraktivitas (jalan), kekuatan akan makin bertambah (Sondakh,2013.h.3)
b)        Pengeluaran Lendir dengan Darah
Terjadinya his persalinan mengakibatkan terjadinya perubahan pada srviks yang akan menimbulkan:
(1)     Pendataran dan pembukaan.
(2)     Pembukaan menyebabkan lendir yang terdapat pada kanalis servikalis lepas.
(3)     Terjadi pendarahan karena kapiler pembuluh darah pecah (Sondakh,2013.h.3)
c)        Pengeluaran Cairan
Pada beberapa kasus persalinan akan terjadi pecah ketuban. Sebagian besar, keadaan ini terjadi menjelang pembukaan lengkap. Setelah adanya pecah ketuban, diharapkan proses persalinan akan berlangsung kurang dari 24 jam (Sondakh,2013.h.3)
d)       Hasil-Hasil yang Didapatkan pada Pemeriksaan Dalam
1)   Perlunakan serviks.
2)   Pendataran serviks.
3)   Pembukaan serviks (Sondakh,2013.h.3)
e.    Tahapan Persalinan
Tahapan dari persalinan terdiri atas kala I (kala pembukaan), kala II (kala pengeluaran janin), kala III (pelepasan plasenta), dan kala IV (kala pengawasan/observasi/pemulihan) (Sondakh,, 2013, h. 5).
1)      Kala I (Kala Pembukaan)
Kala I dimulai dari saat persalinan mulai (pembukaan nol) sampai pembukaan lengkap (10 cm).proses ini terbagi dalam 2 fase, yaitu:
a)      Fase laten: berlangsung selama 8 jam. Serviks membuka sampai 3 cm.
b)      Fase aktif: berlangsung selama 7 jam, serviks membuka dai 4 cm sampai 10 cm, kontraksi lebih kuat dan sering, dibagi dalam 3 fase:
(1)   Fase akselerasi: dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm.
(2)   Fase dilatasi maksimal: dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat dari 4 cm menjadi 9 cm.
(3)   Fase deselerasi: pembukaan menjadi lambat sekali, dalam waktu 2 jam pembukaan 9 cm menjadi lengap.
Proses diatas terjadi pada primigravida ataupun multigravida, tetapi pada multigravida memiliki jangka waktu yang lebih pendek. Pada primigravida, kala I berlangsung ±12 jam, sedangkan pada multigravida ±8 jam (Sondakh,2013.h.5).

2)        Kala II ( kala pengeluaran janin)
Kala II adalah kala pengeluaran bayi, dimulai dari pembukaan lengkap sampai bayi lahir. Uterus dengan kekuatan his nya ditambah kekuatan menereran akan mendorong bayi hingga lahir (Sulistyawati,2013, h. 7).
Gejala utama kala II adalah sebagai berikut:
a)    His semakin kuat, dengan interval 2 sampai 3 menit, dengan durasi 50 sampai 100 detik.
b)   Menjelang akhir kala I, ketuban pecah yang ditandai dengan pengeluaran cairan secara mendadak.
c)    Ketuban pecah pada pembukaan mendekati lengkap diikuti keinginan mengejan akibat tertekannya pleksus Frankenhauser.
d)   Kedua kekuatan his dan mendorong  kepala bayi sehingga terjadi:
(1)     Kepala membuka pintu
(2)     Suboociput bertindak sebagai hipomoglion, kemudian secara berturut-turut lahir ubun-ubun bersar, dahi, hidung dan muka, serta kepala seluruhnya.
e)    Kepala lahir seluruhnya dan diikuti oleh putar paksi luar, yaitu penyesuaian kepala pada punggung.
f)    Setelah putar paksi luar berlangsung, maka persalinan bayi ditolong dengan cara:
(1)   Kepala dipegang pada os occiput dan di bawah dagu, kemudian ditarik dengan menggunakan cunam kebawah untuk melahirkan bahu depan dan ke belakang untuk melahirkan bahu belakang.
(2)   Setelah kedua bahu lahir, ketiak dikait untuk melahirkan sisa badan bayi.
(3)   Bayi lahir diikuti oleh sisa air ketuban.
g)      Lamanya kala II untuk primigravida 1,5-2 jam dan multigravida 1,5-1 jam (Sondakh,2013.h.5-6).

60 LANGKAH ASUHAN PERSALINAN NORMAL.
Melihat tanda gejala kala dua
1.      Mengamati tanda dan gejala kala dua
a.         ibu mempunyai keinginan untuk meneran.
b.        Ibu merasakan tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan/ atau vaginanya.
c.         Perineum menonjol.
d.        Vulva-vagina dan sfingter anal membuka.
Menyiapkan Pertolongan Persalinan
2.        Memastikan perlengkapanm, bahm dan obat-obatan esensial siap digunakan. Mematahkan ampul oksitosin 10 unti dan menempatkan tabuk suntik steril sekali di dalam partus set.
3.        Mengenakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih.
4.        Melepaskan semua perhiasan yang dipakai dibawah siku, mencuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir dan mengeringkan tangan dengan handuk satu kali pakai/ pribadi bersih.
5.        Memakai satu sarung dengan DTT atau steril untuk semua pemeriksaan dalam.
6.        Mengisap oksitosin 10 unit ke dalam tabung suntik (dengan memakai sarung tangan desinfeksi tingkat tinggi atau steril) dan meletakkan kembali di partus set/wadah desinfeksi atau steril tanpa mengontaminasi tabung suntik).

Memastikan Pembukaan Lengkap dengan Janin Baik
7.        Membersihkan vulva dan perineum, menyeka dengan hati-hati dari depan kebelakang dengan menggunakan kapas atau kaa yang sudah di basahi air desinfeksi tingkat tinggi. Jika mulut vagina, perineum, atau anus terkontaminasi oleh kotoran ibu, membersihkannya dengan seksama dengan cara menyeka dari depan klebelakang. Membuang kapas atau kasa yang terkontaminasi dalam wadah yang benar.
8.        Dengan menggunakan teknik aseptik, melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan pembukaan sudah lengkap.
9.        Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang memakai sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5%.
10.    Memeriksa denyut jantung janin (DJJ).



Menyiapkan ibu dan keluarga untuk membantu proses pimpinanmeneran.
11.    Memebritahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik. Membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman sesuai keinginannya.
12.    Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran.
13.    Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai kenginan untuk meneran.

Persiapan pertolongan kelahiran bayi.
14.    Jika kepala bayi sudahmembuka vulva dengan diameter 5-6 cm, letakkan handuk bersih diatas perut ibu untuk mengeringkan bayi.
15.    Meletakkan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian, dibawah bokong ibu.
16.    Membuka pertus set.
17.    Memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan.

Menolong kelahiran bayi.
Lahirnya kepala
18.     Saat kepala bayi membuka perineum 5-6 cm, lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi oleh kain.
19.    Dengan lebut menyeka muka, mulut, dan hidung bayi dengan kain atau kasa bersih.
20.    memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang sesuai.
21.    Menunggu hingga kepala melakukan putaran paksi luar.


Lahir bahu
22.    Setelah kepala melalukan putaran paksi luar, tempatkan tangan masing-masing sisi muka bayi. Menganjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi berikutnya.
23.    Setelah kedua bahu dilahirkan, menelusurkan tangan mulai kepala bayi yang berada di bagian bawah ke arah perineum, membiarkan bahu dan lengan posterior lahir ke tangan tersebut.
24.    Setelah tubuh bayi dan lengan lahir, menelusurkan tangan yang ada di atas dari punggung ke arah kaki bayi untuk menyangganya saat punggung jaji lahir. Memegang kedua mata kaki bayi dengan hati-hati membantu kelahiran kaki.

Penanganan bayi baru lahir
25.    Menilai bayi dengan cepat(30 detik), kemudian meletakkan bayi di atas perut ibu dengan posisi kepala bayi sedikit lebih rendah dari tubuhnya.
26.    Segera membungkus kepala dan badan bayi dengan handuk dan biarkan kontak kulit ibu-bayi. Lakukan penyuntikan oksitosin/i.m.
27.    Menjepit tali pusat menggunakan tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Melakukan urutan tali pusat ke arah ibu dan memasang klem 2 cm dari klem pertama.
28.    Memegang tali pusat dengan satu tangan,melindungi bayi dari gunting dan memotong tali pusat antaradua klem.
29.    Mengeringkan bayi, mengganti handuk yang basah dan menyelimuti bayi dengan kain atau selimut yang kering dan berish,menutup bagian kepal, membiarkan tali pusat terbuka.
30.    Memberikan bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan memulai pemberian ASI jika menghendakinya.

Oksitosin
31.    Meletakkan kain yang bersih dan kering. Melakukan palpasi abdomen untuk menghilangkan kemungkinan adanya bayi kedua.
32.    Memberi tahu kepada ibu bahwa ia akan disuntik.
33.    Dalam waktu 2 menit setelah kelahiran bayi, berikan suntikan oksitosin10 unit I.M.di gluteus atau 1∕3 atas paha kanan ibu bagian luar.

Penegangan tali pusat terkendali.
34.    Memindahkan klem pada tali pusat.
35.    Meletakkan satu tangan di atas kain yang ada di perut ibu, tepat di atas tulang pubis dan menggunakan tangan ini untuk melakukan palpasi kontraksi dan menstabilkan uterus.
36.    Menunggu uterus berkontraksi dan kemudian melakukan penegangan ke arah bawah pada tali pusat dengan lembut.



Mengeluarkan plasenta
37.    Setelah plasenta terlepas, meminta ibu untuk meneran sambil menarik tali pusat ke arah bawah dan ke arah atas, mengikuti kurva jalan lahir sambil meneruskan tekanan ke arah berlawanan.
38.    Jika plasenta sudah berada pada bagian introitus vagina, melanjutkan kelahiran plasenta dengan menggubnakan kedua tangan.

Pemijatan uterus
39.    Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, melakukan masase uterus,meletakkan telapak tangan di fundus dan melakukan masase dengan gerakan melingkar hingga uterus berkontraksi.

Menilai perdarahan
40.    Memeriksa kedua sisi plasenta baik menempel ke ibu atau janin.
41.    Mengevaluasi adanya laserasi.

Melakukan Prosedur Pascapersalinan.
42.    Menilai ulang uterus dan memastikannya berkontraksi dengan baik.
43.    Mencelupkan kedua tangan yang memakai sarung tangan kedalam larutan klorin 0,5%.
44.    Menempatkan klem tali pusat desinfeksi tingkat tinggi atau steril.
45.    Mengikat satu lagi tali simpul mati di bagian pusat yang bersebrangan dengan simpul mati yang pertama.
46.    Melepaskan klem bedah dan meletakkannya dalam larutan klorin 0,5%.
47.    Menyelimuti bayi kembali bayi dan menutup bagian kepalanya.
48.    Menganjurkan ibu untuk pemberian ASI.
49.    Melanjutkan pemantauan kontraksi uterus dan perdarahan pervaginam.
50.    Mengajarkan pada ibu atau keluarga bagaimana melakukan kontraksi uterus dan memeriksa kontraksi uterus.
51.    Mengevaluasi kehilangan darah.
52.    Memeriksa tekanan darah,nadi,dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama satu jam pertama dan 30 menit dalam satu jam kedua.

Kebersihan dan keamanan.
53.    Menempatkan semua peralatan di dalamlarutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Mencuci dan membilas peralatan setelah dekontaminasi.
54.    Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi ke dalam tempat sampah yang sesuai.
55.    Memebersihkan ibu dengan menggunakan air desinfeksi tingkat tinggi.
56.    Memastikan bahwaibu nyaman.membantu ibu memberikan ASI. Menganjurkan keluarga memberikan ibu minum yang diinginkan.
57.    Mendekontaminasi daerah yang digunakan untuk melahirkan dengan larutan klorin 0,5% dan membilas dengan air bersih.
58.    Mencelupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5%, membalikan bagian dalam ke luar merendam nya dalam larutan klorin selama 10 menit.
59.    Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir.

Dokumentasi
60.    Melengkapi partograf (halaman depan dan belakang).
(Prawirohardjo, h.341-347)

3)   Kala III (Pelepasan Plasenta)
Kala III persalinan dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban. Seluruh proses biasanya berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir (Rohani,2013.h.7-8)
a)     Mekanisme Pelepasan Plasenta
Segera setelah bayi dan air ketuban sudah tidak berada dalam uterus,kontraksi uterus akan terus berlangsung dan ukuran rongganya akan mengecil. Pengurangan dalam ukuran ini akanmenyebabkan pengurangan dalam ukuran situs peyambungan plasenta.Oleh karena itu situs sambungan tersebut menjadi lebih kecil, plasenta menjadi lebih tebal dan mengkerut serta memisahkan diri dari dinding uterus.
Permulaan proses pemisahan diri dari dinding uterus atau pelepasan plasenta


(1)     Menurut Duncan.
       Plasenta lahir dari bagian pinggir (marginal) disertai dengan adanya tanda darah yang keluar dari vagina apabila plasenta mulai terlepas.
(2)     Menurut Schultz
       Plasenta lepas mulai dari bagian tengah (sentral), dengan tanda adanya pemanjangan tali pusat yang terlihat di vagina.
(3)     Terjadi serempak atau kombinasi dari keduanya

b)     Tanda – tanda  Klinis Pelepasan Plasenta
(1)     Semburan darah
       Semburan darah ini disebabkan karena penyumbat retroplasenter pecah saat plasenta lepas.
(2)     Pemanjangan tali pusat
       Hal ini disebabkan karena plasenta turun ke segmen uterus yang lebih bawah atau rongga vagina
(3)     Perubahan bentuk uterus dari diskoid menjadi globular (bulat) Perubahan bentuk ini disebabkan oleh        kontraksi uterus
(4)     Perubahan dalam bentuk uterus,yaitu uterus naik didalam abdomen. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sesaat setelah plasenta lepas TFU akan naik , hal ini disebabkan oleh adanya pergerakan plasenta ke segmen uterus yang lebih bawah.

c)      Teknik Pengecekan Pelepasan Plasenta
Selain mengamati tanda-tanda klinis, bidan dapat juga melakukan perasat untuk mengecek pelepasan plasenta.
Tiga perasat yang dapat dilakaukan adalah sebagai berikut:
(1)     Perasat Kustner
       Tangan kanan meregangkan atau menarik sedikit tali pusat, sementara tangan kiri menekan atas simpisis.Bila tali pusat masuk kembali kedalam vagina berarti plasenta sudah lepas.
(2)     Perasat Strassman
       Perasat ini dilakukan dengan menetok-ngetok fundus uterus dengan tangan kiri dan tangan kana meregangkan tali pusat sambil merasakan apakah ada getaran yang ditimbulkan dari gerakan tangan kiri.jika terasa ada getaran, berarti plasenta belum lepas dari dinding uterus.Jika tidak terasa getaran berarti plasenta sudah lepas.
(3)     Perasat Klien.
       Untuk melakukan perasat ini, minta pasien untuk meneran, jiks tsli pusat tampak turun atau bertambah panjang berarti plasenta telah lepas, begitu juga sebaliknya. (Sulistyawati, 2013, h.157-159)

4)   Kala IV (Kala Pengawasan/Observasi/pemulihan)
Kala IV dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam postpartum. Kala ini terutama bertujuan untuk melakukan observasi karena perdarahan postpartum paling sering terjadi pada 2 jam pertama. Darah yang keluar selama perdarahan harus ditakar sebaik-baiknya.Kehilangan darah pada persalinan biasanya disebabkan oleh luka pada saat pelepasan plasenta dan robekan pada serviks dan perineum. Rata-rata jumlah perdarahan yang dikatakan normal adalah 250 cc, biasanya 100-300 cc. jika perdarahan lebih dari 500 cc, maka sudah dianggap abnormal, dengan demikian harus dicari penyebabnya. Penting untuk diingat: jangan meninggalkan wanita bersalin 1 jam sesudah bayi dan plasenta lahir. Sebelum pergi meninggalkan ibu yang baru melahirkan, periksa ulang terlebih dulu dan perhatikanlah 7 pokok penting berikut:
a)        Kontraksi rahim: baik atau tidaknya diketahui dengan pemeriksaan palpasi. Jika perlu lakukan masase dan berikan uteronika, seperti methergin, atau ermetrin dan oksitosin.
b)        Perdarahan: ada atau tidak, banyak atau biasa.
c)        Kandung kemih: harus kosong, jika penuh ibu dianjurkan berkemih dan kalau tidak bisa, lakukan kateter.
d)       Luka-luka: jahitannya baik ata tidak, ada perdarahan atau tidak.
e)        Plasenta dan selaput ketuban harus lengkap.
f)         Keadaan umum ibu, tekanan darah, nadi, pernapasan, dan masalah lain.
g)        Bayi dalam keadaan baik (Sondakh,2013.h.7-8).



f.     Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin
1)      Asuhan Persalinan Kala I
a)   Melakukan pemerikasaan fisik seperti melakukakan pemeriksaan abdomen, memantau denyut jantung janin, menentukan presentasi, melakukan pemeriksaan dalam.
b)   Menilai kemajuan persalinan dengan menilai kondisi bayi dan ibu.
c)   Memberikan asuhan sayang ibu seperti memberi dukungan emosional, pengaturan posisi pada ibu, memberikan cairan dan nutrisi, memberikan keleluasaan untuk menggunakan kamar mandi secara teratur, dan pencegahan infeksi.
d)  Mempersiapkan ruangan untuk persalinan dan kelahiran bayi.
e)   Mempersiapkan perlengkapan dan obat-obatan yang diperlukan.
f)    Mempersiapkan persiapan rujukan apabila terjadi penyulit dalam persalinan (Sondakh, 2013:106-116).
2)      Asuhan Persalinan Kala II
a)      Pemantauan Ibu
Tanda-tanda dan gejala kala II adalah sebagai berikut:
(1)   Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan trejadinya kontraksi.
(2)   Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rektum dan atau vagina.
(3)   Perineum terlihat menonjol.
(4)   Vulva-vagina dan spingter ani terlihat membuka.
(5)   Peningkatan pengeluaran lendir dan darah.
Tindakan yang dilakukan untuk mengevaluasi kesejahteraan ibu adalah sebagai berikut:
(1)   Tanda-tanda vital: tekanan darah (setiap 30 menit), suhu, nadi (setiap 30 menit), pernapasan.
(2)   Kandung kemih
(a)    Urin: protein dan keton.
(b)   Hidrasi: cairan, mual, muntah.
(c)    Kondisi umum: kelemahan dan keletihan fisik, tingkah laku, dan respons terhadap persalinan, serta nyeri.
(d)   Upaya ibu meneran.
(e)    Kontraksi setiap 30 menit (Sondakh, 2013, h. 133).
(3)   Kontraksi
His atau kontraksi harus selalu dipantau selama kala II persalinan karena selain dorongan meneran pasien, kontraksi uterus merupakan kunci dari proses persalinan.
Beberapa kriteria dalam pemantauan kontraksi uterus pada kala II.
(a)    Frekuensi lebih dari 3 kali dalam 10 menit.
(b)   Intensitas kontraksi kuat.
(c)    Durasi lebih dari 40 detik (Sulistyawati, 2013, h. 115).
(1)   Kemajuan Persalinan
Jika terjadi penurunan janin selama kala I fase aktif dan memasuki fase pengeluaran, maka dapat dikatakan kemajuan persalinan cukup baik. Menurut Friedmann, durasi waktu untuk kala II rata-rata adalah 1 jam untuk primigravida dan 15 menit untuk multipara. Pada kala II yang berlangsung lebih dari 2 jam bagi primigravida atau 1 jam bagi multipara, dianggap sudah abnormal (Sondakh, 2013.h.133).
a)      Pemantauan Janin
Beberapa hal dari janin yang harus selalu diperhatikan adalah:
1)      Denyut jantung janin
(a)     Denyut normal 120-16- kali/menit.
(b)   Perubahan DJJ, pantau setiap 15 menit.
(c)    Variasi DJJ dari DJJ dasar.
(d)   Pemerikasaan auskultasi DJJ Setiap 30 menit.
(e)    Adanya air ketuban dan karakteristiknya (jernih, keruh, kehijauan/tercampur mekonium).
(f)    Penyusupan kepala janin. (Ibid., h.134)
b)      Asuhan Dukungan.
Beberapa asuhan dan dukungan yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:
1)      Pemberian rasa aman, dukungan, dan keyakinan kepada ibu bahwa ibu mampu bersalin.
2)      Membantu pernapasan.
3)      Membantu teknik meneran.
4)      Ikut srtakan dan hormati leuarga yang menemani.
5)      Berikan tindakan yang menyenangkan.
6)      Penuhi kebutuhan hidrasi.
7)      Penerapan pencegahan infeksi (PI).
8)      Pastikan kandung kemih kosong.
(Sondak,2013.h.134)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar