Kamis, 28 November 2019

BAB II Part 2


1)   Asuhan Kala III
1)   Manajemen Akitf Kala III
     Tujuan manajemen kala III adalah utuk menghasilkan kontraksi uterus yang lebih efektif sehingga dapat mempersingkat waktu, mencegah perdarahan, dan mengurangi kehilangan darah kala III persalinan jika dengan penatalaksanaan  fisiologis.
2)   Komponen Manajemen Aktif Kala III
a)    Pemberian suntikan oksitosin 10 IU secara IM segera setelah bayi lahir.
b)   Tali pusat di klem sekitar 5- 20 menit dari vulva, tangan kanan memegang tali pusat dan tangan kiri melakukan dorso kranial.
c)    Lakukan peregangan tali pusat sampai plasenta lahir dengan pemutaran searah sampai plasenta lahir.
d)   Begitu plasenta dilahirkan, lakukan masase pada pada uterus  secara sirkuler (Sondakh, 2013:136-138).
3)   Pemeriksaan Plasenta
Melakukan pemeriksaan pada bagian sisi maternal dan fetal plasenta.
4)   Pemeriksaan selaput ketuban
Selaput ketuban diperiksa dengan menggantung plasenta dengan memegang tali pusat, sehingga selaput ketuban tergantung ke bawah.Periksa apakah tidak ada selaput ketuban yang tertinggal.
5)   Pemeriksaan tali pusat
Menghitung jumlah perdarahan tai pusat, mengukur panjang tali pusat, melihat tali pusat adanya simpul, hematom,tumor, kista dan jumlah jelly wharton.
6)   Pemantauan kontraksi
Uterus yang berkontraksi normal harus keras ketika disentuh.
7)   Melihat robekan jalan lahir dan perineum.
8)   Memeriksa tanda vital (Sondakh, 2013:138-140).

4).  Asuhan persalinan Kala IV
1)   Memonitor konsistensi uterus. Uterus harus berkontraksi secara efektif, teraba padat, dan keras.
2)   Memperhatikan adanya uterus berelaksasi, terutama pada ibu yang memiliki :
a)    Riwayat atonia uteri pada kehamilan sebelumnya.
b)   Status ibu sebagai multigravida.
c)    Distensi berlebih pada uterus.
d)   Persalinan presipiatus.
e)    Persalinan memanjang.
f)    Mengecek kelengkapan plasenta dan membran pada saat inspeksi.
g)   Mengecek status kandung kemih.
h)   Meminta ketersediaan orang kedua untuk memantau konsistensi uterus dan aliran lokia, serta membran masase uterus.
i)     Menilai kemampuan pasangan ibu-bayi untuk memulai pemberian ASI (Sondakh, 2013:145)

  1.   Bayi Baru Lahir
a.      Definisi Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir (BBL) disebut juga dengan neonatus merupakan individu yang sedang bertumbuh dan baru saja mengalami trauma kelahiran serta harus dapat melakukan penyesuaian diri dari kehidupan intrauterin ke kehiupan ekstrauterin, bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan 37-42 minggu dan berat badanya 2.500-4.000 gram.
( Dewi, 2014, h. 1)
b.   Ciri-ciri bayi baru lahir normal
1)   Lahir aterm antara 37-42 minggu
2)   Berat badan 2.500-4000
3)   Panjang badan 48-52 cm
4)   Lingkar dada 36-38 cm
5)   Lingkar kepala 33-35 cm
6)   Lingkar lengan 11-12 cm
7)   Frekuensi denyut jantung 120-160 x/menit
8)   Pernapasan ± 40-60 x/menit
9)   Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan yang cukup
10)  Rambut lanugo tidak terlihat dan rambut kepala biasanya telah sempurna
11)  Kuku agak panjang dan lemas
12)  Nilai APGAR > 7
13)  Gerak aktif
14)  Bayi lahir langsung menangis kuat
15)  Refelks rooting (mencari putting susu dengan rangsangan taktil pada pipi dan daerah mulut) sudah terbentuk dengan baik
16)  Refleks sucking (isap dan menelan) sudah terbentuk dengan baik
17)  Refleks morro (gerakan memeluk bila dikagetkan) sudah terbentuk dengan baik
18)  Refleks grasping (menggenggam) sudah baik
19)  Genitalia
a)    Pada laki-laki kematangan ditandai dengan testis yang berada skrotum dan penis berlubang
b)   Pada perempuan kematangan ditandai dengan vagina dan uretra yang berlubang, serta adanya labia minor dan mayor
20)  Eliminasi baik yang ditandai dengan keluarnya mekonium dalam 24 jam pertama dan berwarna hitam kecokelatan.





Tabel 2.4 APGAR SCORE
Tanda
Nilai: 0
Nilai: 1
Nilai: 2
Appearance
(wana kulit)

Pucat/biru seluruh tubuh

Tubuh merah, ekstremitas biru

Seluruh tubuh kemerahan
Pulse (denyut jantug)

Tidak ada

<100

>100
Grimace (tonus otot)

Tidak ada

Ekstremitas sedikit fleksi

Gerakan aktif
Activity
(aktifitas)

Tidak ada

Sedikit gerak

Langsung menangis
Respiration (pernafasan)

Tidak ada

Lemah/tidak

Menangis

Interpretasi:
a)    Nilai 1-3 asfiksia berat
b)   Nilai 4-6 asfiksia sedang
c)    Nilai 7-10 asfiksia ringan

c.    Tahapan Bayi Baru Lahir
1)   Tahapan I terjadi segera setelah lahir, selama menit-menit pertama kelahiran. Pada tahapp ini digunakan sistem scoring apgar untuk fisikdan scoring gray untuk interaksi bayi dan ibu
2)   Tahap II disebut tagap transisional reaktivitas. Pada tahap II dilakukan pengkajian selama 24 jam pertama terhadap adanya perubahan perilaku
3)   Tahap III disebut tahap perodik, pengkajian dilakukan setelah 24 jam pertama yang meliputi peeriksaan seluruh tubuh.
(Dewi, 2014, h. 2-3)

d.   Adaptasi fisiologi BBL terhadap kehidupan di luar uterus
1)   Memulai segera pernapasan dan perubahan dalam pola sirkulasi. Konsep ini merupakan hal yang esensial pada kehidupan ekstrauterin.
2)   Dalam 24 jam setelah lahir, sistem ginjal, gastrointestinal, hematologi, metabolic, dan sistem neurologis bayi baru lahir harus berfungsi secara memadai untuk mempertahankan kehidupan ekstrauteri.
Setiap bayi baru lahir akan mengalami periode transisi, yaitu:
1)   Periode ini merupakan fase tidak stabil selama 6-8 jam pertama kehidupan, yang akan dilalui oleh seluruh bayi dengan mengabaikan usia gestasi atau sifat persalinan atau melahirkan.
2)   Pada periode pertama reaktivitas (segera setelah lahir), akan terjadi pernapasan cepat (dapat mencapai 80 kali/menit) dan pernapasan cuping hidung yang verlangsung sementara, retraksi, serta suara seperti mendengkur dapat terjadi. Denyut jantung dapat mencapai 180 kali/menit selama beberapa menit  kehidupan.
3)   Setelah respons awal ini, bayi baru lahir ini akan menjadi tenang, relaks, dan jatuh tertidur. Tidur pertama ini (dikenal sebagai fase tidur) terjadi dalam 2 jam setelah kelahiran dan berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam.
4)   Periode kedua reaktivitas, dimulai ketika bayi bangun ditandai dengan respons berlebihan terhadap stimulasi, perubahan warna kulit dari merah muda menjadi agak sianosis, dan denyut jantung cepat.
5)   Lendir mulut dapat menyebabkan masalah yang bermakna, misalnya tersedak/aspirasi, tercekik, dan batuk. (Sondakh, 2013, h. 150-151)



e.    Sistem pernapasan
Berikut adalah tabel mengenai perkembangan sistem pulmonal sesuia dengan usia kehamilan.

Tabel 2.5  Perkembangan sistem pulmonal
Usia kehamilan
Perkembangan
24 hari
Bakal paru-paru terbentuk
26-28 hari
Kesua bronkus membesar
6 minggu
Segmen bronkus terbentuk
12 minggu
Lobus terdiferensiasi
24 minggu
Alveolus terbentuk
28 minggu
Surfaktan terbentuk
34-36 minggu
Struktur paru matang

Ketika struktur matang, ranting paru-paru sudah bisa mengembangkan sistem alveoli. Selama dalam uterus, janin mendapat oksigen dari pertukaran gas melalui plasenta dan setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru-paru bayi.
Rangsangan gerakan pernapasan pertama terjadi karena beberapa hal berikut.
1)   Tekanan mekanik dari torak sewaktu melalui jalan lahir (Stimulasi mekanik)
2)   Penurunan O2 dan CO2 merangsang kemoreseptor terletak di sinus karotikus (stimulasi kimiawi).
3)   Rangsangan dingin di daerah muka dan perubahan suhu didalam uterus (stimulasi sensorik).
4)   Refleks deflasi hering breur.
(Dewi, 2014, h. 12-13)


f.     Perlindungan termal (Termoregulasi)
1)   Pastikan bayi tersebut tetap hangat dan terjadi kontak antara kulit bayi dengan kulit ibu.
2)   Gantilah handuk/kain yang basah dan bungkus bayi tersebut dengan selimut, serta jangan lupa memastikan bahwa kepala telah terlindung dengan baik untuk mencegah keluarnya panas tubuh. Pastikan bayi tetap hangat
3)   Mempertahankan lingkungan termal netral
a)    Letakkan bayi dibawah alat penghangat pancaran dengan menggunakan sensor kulit untuk memantau suhu sesuai kebutuhan.
b)   Tunda memandikan bayi sampai suhu bayi stabil.
c)    Pasangan penutup kepala rajutan untuk mencegah kehilangan panas dari kepala bayi.
(Sondakh, 2013, h. 157)
    
g.    Asuhan Kebidanan pada BBL Normal
1)   Cara memotong tali pusat
a)    Menjepit tali dengan klem dengan jarak 3 cm dari pusat, lalu mengurut tali pusat ke arah ibu dan memasang klem ke 2 dengan jarak 2 cm dari kelm.
b)   Memegang tali pusat di antara 2 klem dengan mengguakan tangan kiri (jari tengah melindungi bayi) lalu memotong tali pusat diantara 2 klem.
c)    Mengikat tali pusat dengan jarak ± 1 cm dari umbilikus dengan simpul mati lalu mengikat balik tali pusat dengan simpul mati. Untuk kedua kalinya bungkus dengan kasa steril, lepaskan simpul mati. Untuk kedua kalinya bungkus dengan kasa steril, lepaskan klem pada tali pusat, lalu memasukkannya dalam wadah yang berisi larutan klorin.
d)   Membungkus bayi dengan kain bersih dan membiarkannya kepada ibu.
2)   Mempertahankan suhu tubuh BBl dan mencegah hipotermi
a)    Mengeringkan tubuh bayi segera setelah lahir. Kondisi bayi lahir dengan tubuh basah Karena air ketuban atau aliran udara melalui jendela/pintu yang terbuka akan mempercepat terjadinya penguapan yang akan mengakibatkan bayi lebih cepat kehilangan suhu tubuh. Hak ini akan mengakibatkan serangan dingin (cold stress) yang merupakan gejala awal hipotermia. Bayi kedinginan biasanya tidak memperlihatkan gejala menggigil oleh karena kontrol suhunya belum sempurna.
b)   Untuk mencegah terjadinya hipotermi, segera keringkan dan bungkus dengan kain kering kemudian diletakkan telungkup diatas dada ibu untuk mendapatkan kehangatan dari dekapan ibu.
c)    Menunda memandikan BBL sampai tubuh bayi stabil
Pada BBL cukup bulan dengan berat 2.500 gram dan menangis kuat bisa dimandikan ± 24 jam setelah kelahiran dengan tetap menggunakan air hangat. Sedangkan pada BBL beresiko dengan berat badan kurang dari 2.500 gram atau keadaanya sangat lemah sebaiknya jangan dimandikan sampai suhu tubuh stabil dan mampu mengisap ASI dengan baik.
d)   Menghindari kehilangan panas pada bayi baru lahir
4 cara yang membuat bayi kehilangan panas yaitu: radiasi, evaporasi. Konduksi dan konveksi.( Dewi, 2014, h. 3-4)
(1)     Konduksi
Panas dihantarkan dari tubuh bayi ke benda sekitarnya yang kontak langsung dengan tubuh bayi (pemindahan panas dari tubuh bayi ke objek lain melalui kontak langsung). Sebagai contoh, konduksi bisa terjadi ketika menimbang bayi tanpa alas timbangan, memegang bayi pada saat tangan dingin dan menggunakan stetoskop dingin saat pemeriksaan BBL.
(2)     Konveksi
Panas hilang dari tubuh bayi ke udara sekitanya yang sedang bergerak (jumlah panas yang bergantung pada kecepatan dan suhu udara) sebagai contoh, konveksi dapat terjadi ketika membiarkan atau menempatkan BBL dekat jendelam atau membiarkan BBL di ruangan yang terpasang kipas angin.
(3)     Radiasi
Panas dipancarkan dari BBL keluar tubuhnya kelingkungan yang lebih dingin (pemindahan panas antara 2 objek  yang mempunyai suhu berbeda). Sebagai contoh, membiarkan BBL dalam ruangan AC tanpa diberikan pemanas (radiant warmer), membiarkan BBL dalam keadaan telanjang, atau menidurkan BBL berdekatan dengan ruangan dingin (dekat tembok)
(4)     Evaporasi
Panas hilang melalui proses penguapan yang bergantung pada kecepatan dan kelambatan udara (perpindahan panas dengan cara mengubah cairan menjadi uap). Evaporasi ini dipengaruhi oleh jumlah panas yang dipakai, tingkat kelembapan udara, dan aliran udara yang melewati. Apabila BBL dibiarkan dalam suhu kamar 25ºC, maka bayi akan kehilangan panas melalui konveksi, radiasi, dan evaporasi yang besarnya 200 kg/BB, sedangkan yang dibentuk hanya sepersepuluhnya saja. Agar dapat mencegah terjadinya kehilangan panas pada bayi, maka lakukan hal berikut.
(a)    Keringkan bayi secara seksama
(b)   Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih yang kering dan hangat
(c)    Tutup bagian kepala bayi
(d)   Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya
(e)    Jangan segera menimbang atau memnadikan bayi baru lahir
(f)    Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat
(Dewi, 2014, h. 13-14)



  2.  Nifas
a.      Definisi nifas
Nifas adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat alat kandungan kembali seperti pra hamil. (Vivian nanny lia dewi,2014).
b.      Tahapan masa nifas
Masa nifas dibagi menjadi tiga tahapan :
1)   Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu diperbolehkan berdiri dan berjalan, serta menjalankan aktivitas layaknya wanita normal lainya.
2)   Puerperium intermedial yaitu suatu kepulihan menyeluruh dari organ-organ genetalia  yang lamanya sekitar 6-8 minggu.
3)   Puerperium Remote yaitu waktu yang diperukan untuk pulih dan sehat sempurna apabila ibu selama hamil atau persalinan mempunyai komplikasi..( vivian nanny lia dewi, 2014).
c.       Kebijakan Program Nasional Masa Nifas
Kebijakan program nasional masaa nifas paling sedikit 4 kali kunjungan yang dilakukan. Hal ini untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir serta untuk mencegah, mendeteksi, dan menangani masalah masalah yang terjadi antara lain sebagai
1)      6-8 jam setelah persalinan
a)        Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
b)        Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujukan bila peradaran berlanjut.
c)        Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
d)       Pemberian asi awal
e)        Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir
f)         Menjaga bayi tetap sehat dengan cara  pencegahan hipotermi
2)      6 hari setelah persalinan
a)        Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus uterus berkontraksi, tinggi fundus uteri dibawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau
b)        Menilai adanya tanda-tanda demam,infeksi dan perdarahan abnormal
c)        Memastikan ibu mendapatkan cukup  makanan, cairan, dan istirahat
d)       Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak ada memperlihatkan tanda-tanda penyulit.
e)        Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi dan tali pusat, serta menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari
3)      2 minggu setelah persalinan
Asuhan pada 2 minggu post partum sama dengan asuhan yang diberikan pada kunjungan 6 hari post partum (marmi, 2017)
4)        6 minggu setelah persalinan
a)         Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau bayi alami.
b)        Memberikan konseling untuk KB secara dini.
       (Vivian nanny lia dewi,2014).
d.    Perubahan fisiologi masa nifas
1)   Perubahan sistem reproduksi
a)      Uterus
Peroses involusi adalah proses kembalinya uterus kedalam keadaan sebelum hamil setelah melahirkan. Spade minggu keenam, berat menjadi 50-60 gram. Proses involusi uterus adalah sebagai berikut :
(1)   Iskemia Miometrium
Disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang terus menerus dari uterus setelah pengeluaran plasenta membuat uterus relative anemi dan menyebabkan serat otot atrofi.
(2)   Autolisis
Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi didalam otot uterus. Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah sempat mengendur hingga  panjangnya 10 kali dari semula dan lebar lima kali dari semula selama kehamilan atau dapat juga dikatakan sebagai perusakan secara langsung jaringan hipertrofi yang berlebihan. Hal ini disebabkan karena penurunan hormone estrogen dan progesteron.
(3)   Efek oksitosin
Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot uterin sehungga akan menekan pembuluh darah yang mengakibatkan berkurangnya suplai darah ke uterus. Proses ini membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasi plasenta serta mengurangi peradarahan.
(Vivian nanny lia dewi, 2014)
Tabel 2.6  Involusi uterus

Involusi
TFU
Berat Uterus (gr)
Diameter Uterus (cm)
Keadaan serviks
Bayi  lahir
Setinggi pusat
1000


Uri lahir
2 jari dibawah pusat
750
12,5
Lembek
Satu minggu
Pertengahan pusat-simfisis
500
7,5
Beberapa hari setelah postpartum dapat dilalui 2 jari akhir minggu pertama dapat dimasuki 1 jari
Dua  minggu
Tak teraba di atasi simfisis
350
3 – 4
Enam minggu
Betambah kecil
30 – 60
1 – 2
Delapan minggu
Sebesar normal
30


b)   Involusi Tempat plasenta
Setelah persalinan, tempat plasenta merupakan tempat dengan permukaan kasar, tidak rata, dan kira kira sebesar talapak tangan.Dengan cepat luka ini mengecil, pada akhir minggu ke-2 hanya sebesar 3-4 cm dan pada akhir nifas 1-2 cm. Penyembuhan luka bekas plasenta khas sekali.Pada permulaan nifas bekas plasenta mengandung banyak pembuluh darah besar yang tersumbat oleh trombus.
c)      Perubahan ligamen
Ligamen ligamen dan diafragma pelvis, serta fasia yang meregang sewaktu kehamilan dan partus, setelah janin lahir, berangsur angsur menciut kembali seperti sedia kala.
d)     Perubahan pada serviks
Serviks mengalami involusi bersama sama uterus. Perubahan perubahan yang terdapat pada serviks postpartum adalah bentuk serviks yang akan menganga seperti corong. Bentuk ini disebabkan oleh korpus uteri yang dapat mengadakan kontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi sehingga seolah olah pada perbatasan antara korpus dan serviks uteri terbentuk semacam cincin.
e)        Lokia
Lokia adalah ekskresi cairan rahim yang selama masa nifas dan mempunyai reaksi basa/alkalis yang dapat membuat organisme berkembang lebih cepat daripada kondisi asam yang ada pada vagina normal. Lokia mempunyai bau yang amis meskipun tidak terlalu menyengat dan volumenya berbeda pada setiap wanita. Penegluaran lokia dapat dibagi berdasarkan waktu dan warnanya diantaranya sebagai berikut:
1)   Lokia rubra/ merah ( kruenta)
     Lokia ini Munculnya pada hari pertama sampai hari ketiga  masa post partum. Sesuai dengan warnanya, warnanya biasanya  merah dan mengandung darah dari perobekan/ luka pada plasenta dan serabut dari decidua dan chorion.
2)   Lokia sanguilenta
     Lokia ini Berwarna merah kuning Berisi darah lendir karena pengaruh plasma darah, peneegeluaran pada hari ke  ke 3-5 hari postpartum.
3)   Lokia serosa
     Lokia ini Muncul pada hari ke 5-9 postpartum.Warnanya biasanya kekuningan atau kecoklatan. Lokia ini trdiri atas lebih sedikit darh dan lebih banyak serum juga terdiri atas leukosit dan robekan laserasi plasenta
4)   lokia alba
     Lokia ini muncul lebih dari hari ke 10 postpartum.  Warnanya lebihp pucat, kekuningan serta lebih banyak mengandung leukosit, selaput lendir serviks, dan serabut jaringan yang mati.
f)    Perubahan pada vagina dan Perineum
Estrogen pascapartum yang menurun berperan dalam penipisan mukosa vagina dan hilangnya rugae. Vagina yang semula sangat teregang kembali secara bertahap pada ukuran sebelum hamil selama 6-8 minggu setelah bayi lahir. Rugae akan kembali terlihat sekitar minggu keempat, walaupun tidak akan menonjol pada wanita nulipara. Pada umumnya rugae akan memipih secara permanen. Mukosa tetap atrofik pada wanita menyusui sekurang kurangnya sampai menstruasi dimulai kembali.
g)      Perubahan tanda tanda vital
Beberapa perubahan tanda tanda vital biasanya terlihat jika wanita dalam keadaan normal.peningkatan kecil sementara baik peningkatan tekanan darah sistole maupun diastole dapat timbul dan berlangsung selama sekitar empat hari setelah wanita melahirkan
(1)   Suhu badan
Satu hari (24 jam) postpartum suhu badan akan naik sedikit (37,5 - 380C)sebagai akibat kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan dan kelelahan. Biasanya pada hari ke 3 suhu badan naik lagi karena ada pembentukan ASI dan payudara menjadi bengkak berwarna merah karena banyaknya ASI. Bila suhu tidak turun kemungkinan adanya infeksi pada endometrium, mastitis, traktus genetalis, atau sistem lain.
(2)   Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 x/menit. Sehabis melahirkan biasanya denyut nadi itu akan lebih cepat.
(3)   Tekanan darah
Biasanya tidak berubah, kemungkinan tekanan darah akan rendah setelah melahirkan karena ada perdarahan. Tekanan darah tinggi pada postpartum dapat menandakan terjadinya preeklamsia post partum.
(4)   Pernafasan
Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi, bila suhu nadi tidak normal, pernafasan juga akan mengikutinya, kecuali apabila ada gangguan khusus pada saluran pernafasan
h)      Perubahan sistem kardiovaskular
(1)   Volume darah
Pada minggu ke-3 dan ke-4 setelah bayi lahir, volume darah biasanya menurun sampai mencapai volume darah sebelum hamil.Pada persalinan pervaginam, ibu kehilangan darah sekitar 300-400 cc. Bila kelahiran melalui SC, maka kehilangan darah dapat dua kali lipat. Pada persalinan pervaginam, hematokrit akan naik, sedangkan pada SC, hematokrit cenderung stabil dan kembali normal setelah 4-6 minggu.
(2)   Curah jantung
Denyut jantung, volume sekuncup, dan curah jantung meningkat sepanjang masa hamil.Segera setelah wanita melahirkan, keadaan ini meningkat bahkan lebih tinggi selama 30-60 menit karena darah yang biasanya melintasi sirkulasi uteroplasenta tiba tiba kembali ke sirkulasi umum.
(3)   Perubahan sistem hematologi
Leukositosis yang meningkat dimana jumlah sel darah putih dapat mencapai 15.000 selama persalinan akan tetapi tinggi dalam beberapa hari pertama dari masa postpartum. Jumlah sel darah putih tersebut masih biasa naik sampai 25.000 – 30.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita tersebut mengalami persalinan lama. Kira kira selama kelahiran dan masa postpartum terjadi kehilangan darah sekitar 200-500 cc. Penurunan volume dan peningkatan sel darah pada kehamilan diasosiasikan dengan peningkatan hematokrit dan hemoglobin pada hari ke-3 sampai ke-7 post partum dan akan kembali normal dalam 4-5 minggu post partum.
i)        Sistem pencernaan pada masa nifas
(1)   Nafsu makan
Ibu biasanya lapar segera setelah melahirkan sehingga ia boleh mengonsumsi makanan ringan. Ibu sering kali cepat lapar setelah melahirkan dan siap makan pada 1-2 jam post primordial, dan dapat ditoleransi dengan diet yang ringan.Setelah benar-benar pulih dari efek analgesia, anastesia, dan keletihan, kebanyakan ibu merasa sangat lapar.Permintaan untuk memperoleh makanan dua kali dari jumlah yang biasa dikonsumsi disertai konsumsi camilan yang sering ditemukan.
(2)   Motilitas
Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir.Kelebihan analgesia dan anastesia bisa memperlambat pengembalian tonus dan motilitas ke keadaan normal.
(3)   Pengosongan usus
Sistem pencernaan pada masa nifas membutuhkan waktu yang berangsur-angsur untuk kembali normal. Pola makan ibu nifas tidak akan seperti biasa dalam beberapa hari dan perineum ibu akan terasa sakit untuk defekasi. (Vivian nanny lia dewi askeb paada ibu nifas, 2014 salemba Jakarta, 59-62)
k)      Perubahan sistem perkemihan
Pada masa hamil, perubahan hormonal yaitu kadar steroid tinggi yang berperan meningkatkan fungsi ginjal. Begitu sebaliknya, pasca melahirkan kadar steroid menurun sehingga menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12-36 jam sesudah melahirkan. (marmi,2017 asuhan kebidanan pada masa nifas.h14 penerbit pustaka pelajar)
e.     Adaptasi psikologi ibu dalam masa nifas
a)    Fase taking in
     Fase taking in yaitu periode ketergantunga yang berlangsung pada hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan pada saat itu, fokus perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri.Pengalaman berulang kali diceritakannya.Hal ini membuat ibu cenderung menjadi pasif terhadap lingkunngannya.
b)   Fase letting hold
     Fase letting hold adalah fase perode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan pada fase ini, ibu merasa khawatir akan ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Ibu memiliki perasaan yang sangat sensitive sehingga mudah tersinggung dan gampang marah sehingga kita perlu berhati-hati berkomunikasi pada ibu.
c)    Fase letting go
     Fase letting go merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang berlangsung sepuluh hari setelah melahirkan. Ibu sudah dapat menyesuaikan diri, merawat diri dan bayinya, serta kepercayaan dirinya sudah meningkat.
     (Vivian, 2014, h. 65-66)




f.     Kebutuhan dasar ibu masa nifas
1)      Nutrisi dan cairan
a)      Nutrisi
Nutrisi yang di konsumsi harus bermutu tinggi, bergizi dan cukup kalori. Kalori bagus untuk proses metabolisme tubuh, kerja organ tubuh, proses pembentukan ASI. Wanita dewasa memerlukan 2.200 kalori. Ibu menyusui memerlukan kalori yang sama dengan wanita dewasa + 700 kalori pada 6 bulan pertama kemudian + 500 kalori bulan selanjutnya.
Gizi ibu menyusui
(1)     Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari
(2)     Makanan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral, dan vitamin yang cukup.
(3)     Minum sedikit 3 liter setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui
(4)     Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca persalinan.
(5)     Minum vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASInya.
b)      Karbohidrat
Makanan yang dikonsumsi dianjurkan mengandung 50-60% karbohidrat. Laktosa (gula susu) adalah bentuk utama dari karbohidrat yang ada dalam jumlah lebih besar dibandingkan dalam susu sapi. Laktosa membantu bayi menyerap kalsium dan mudah di metabolisme menjadi dua gula sederhana (galaktosa dan glukosa) yang dibutuhkan untuk pertumbuhan otak yang cepat yang terjadi selama masa bayi.
c)      Lemak
Lemak 25-35% dari total makanan. Lemak menghasilkan kira-kira setengah kalori yang diproduksi oleh air susu ibu.
d)     Protein
Jumlah kelebihan protein yang diperlukan oleh ibu pada masa nifas adalah sekitar 10-15%. Protein utama dalam air susu ibu adalah whey. Mudah dicerna whey menjadi kepala susu yang lembut yang memudahkan penyerapan nutrient kedalam aliran darah bayi. Sumber karbohidrat yaitu:
Nabati: tahu, tempe dan kacang-kacangan
Hewani: daging, ikan, telur, hati, otak, usus, limfa, udang,kepiting
e)      Vitamin dan mineral
Kegunaan vitamin dan mineral adalah untuk melancarkan metabolisme tubuh. Beberapa vitamin dan mineral yang ada pada air susu ibu perlu mendapat perhatian khusus karena jumlahnya kurang mencukupi, tidak mampu memenuhi kebutuhan bayi sewaktu bayi bertumbuh dan berkembang.
Vitamin dan mineral yang paling mudah menurun kandungannya dalam makanan adalah Vit B6, vitamin dan As.folat dalam air susu langsung berkaitan dengan diet atau asupan suplemen yang dikonsumsi ibu. Asupan vitamin yang memadai akan mengurangi cadangan dalam tubuh ibu dan mempengaruhi kesehatan ibu maupun bayi.
Sumber vitamin: hewani dan nabati
Sumber mineral: ikan, daging , banyak mengandung kalsium, fosfor, zat besi, seng dan yodium.
f)       Cairan
Fungsi cairan sebagai pelarut zat gizi dalam proses metabolisme tubuh. Minumlah cairan cukup untuk membuat tubuh ibu tidak dehidrasi. Asupan tablet tambah darah dan zat besi diberikan seta= 400 hari post partum, minuman kapsul Vit A (200.000 unit)
2)      Ambulasi pada masa nifas
Persalinan merupakan proses yang melelahkan, itulah mengapa ibu disarankan tidak langsung turun ranjang setelah melahirkan karena dapat menyebabkan jatuh pingsan akibat sirkulasi darah yang belum berjalan baik. Ibu harus cukup beristirahat, dimana ibu harus tidur terlentang selama 8 jam post partum untuk mencegah prdarahan post partum setelah itu, mobilisasi perlu dilakukan agar tidak terjadi pembengkakan akibat tersumbatnya pembuluh darah ibu. Pada persalinan normal, jika gerakannya tidak terhalang oleh pemasangan infuse atau kateter dan tanda-tanda vitalnya juga memuaskan, biasanya ibu diperbolehkan untuk mandi dan pergi ke WC dengan dibantu, satu atau dua jam setelah melahirkan secara normal. Sebelum waktu ini, ibu diminta untuk melakukan latihan menarik, nafas yang dalam serta latihan tungkai yang sederhana dan harus duduk serta mengayunkan tungkainya dari tepi ranjang. Pasien section caesarea biasanya mulai ambulasi 24-36 jam sesudah melahirkan. Jika pasien menjalani analgesia epidural, pemulihan sensibilitas yang total harus dilakukan dahulu sebelum ambulasi dimulai. Setelah itu ibu bisa pergi ke kamar mandi. (Marmi. 2017, h. 135-138).
3)      Kebersihan diri dan perineum
Empat puluh minggu masa kehamilan telah terlewati dengan mulus. Namun masih harus menjalani proses yang tak kalah merepotkan, yakni proses “ pembersihan diri” alias masa nifas. Biasanya berlangsung 40 hari. Tahapan-tahapan selama masa nifas ini, vagina akan terus-menerus mengeluarkan darah. Biasanya darah tersebut mengandung trombosit, sel-sel tua, sel-sel mati (nekrosis), serta sel-sel dinding rahim (endometrium), yang disebut lokia. (Marmi, 2017, h. 140)

g.    Kebutuhan seksual
Masa setelah melahirkan selama 6 minggu atau 40 hari, menurut orang awam merupakan masa nifas yang penting untuk dipantau .nifas merupakan masa untuk pembersihan rahim, sama halnya seperti masa haid. Banyak pasangan suami istri merasa frekuensi berhubungan intim semakin berkurang setelah memiliki anak. Ibu yang baru melahirkan boleh melakukan hubungan seksual kembali setelah  minggu persalinan. Batasan waktu 6 minggu didasarkan atas pemikiran pada masa itu semua luka akibat persalinan setelah sembuh dengan baik.(Marmi, 2017, h. 146)

h.      Eliminasi : BAB dan BAK
1)      Miksi/ BAK
Buang air kecil sendiri sebaiknya dilakukan secepatnya.Miksi normal bila dapat BAK spontan setiap 3-4 jam.Kesulitan BAK dapat disebabkan karena spingter uretra tertekan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi muskulo spingter ani selama persalinan, atau dikarenakan oedema kandung kemih selama persalinan.Lakukan kateterisasi apabila kandung kemih penuh dan sulit berkemih.
2)      Defekasi/ BAB
Ibu diharapkan dapat BAB sekitar 3-4 hari post partum. Apabila mengalami kesulitan BAB atau obstipasi, lakukan diet teratur, cukup cairan, konsumsi makanan berserat, olahraga, berikan obat rangsangan per oral atau per rectal atau lakukan klisma bilamana perlu. (Marmi, 2017, h. 148)

  3.  KB
a.      Definisi KB
Keluarga berencana adalah usaha untuk mengukur jumlah dan jarak anak yang diinginkan. Agar dapat mencapai hal tersebut, maka dibuatlah beberapa cara atau alternatif untuk mencegah ataupun menunda kehamilan. Cara cara tersebut termasuk kontrasepsi atau pencegahan kehamilan dan perencanaan keluarga.
b.      Tujuan program KB
Tujuan umumnya adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial ekonomi suatu keluarga, dengan cara pengaturan kelahiran anak agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebuthan hidupnya. Tujuan lainya meliputi pengaturan kelahiran, pendewasaan usia perkawinan, peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.
c.       Sasaran KB
Sasaran KB tertuang dalam RPJMN 2004-2009 yang meliputi
1)   Menurunnya rata-rata lalu pertumbuhan penduduk menjadi sekitar 1,14 persen per tahun.
2)   Menurunnya angka kelahiran total (TFR) menjadi sekitar 2,2 per perempuan
3)   Menurunya PUS yang tidak ingin punya anak lagi dan ingin menjarangkan kelahiran berikutnya, tetapi tidak memakai alat/cara kontrasepsi (unmet need)menjadi 6%
4)   Meningkatnya peserta KB laki-laki menjadi 4,5 persen
5)   Meningkatnya penggunaan metode kontrasepsi yang rasional efektif dan efisien
6)   Meningkatnya rata-rata usia perkawinan pertama perempuan menjadi 21 tahun
7)   Meningkatya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembang anak
8)   Meningkatnya jumlah keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera yang aktif dalam usaha ekonomi prodiktif
9)   Meningkatnya jumlah institusi masyarakat dalam penyelenggara pelayanan program KB.
d.      Ruang lingkup program KB
Ruang lingkup program KB mencakup sebagai berikut
1)      Ibu
Dengan jalan mengatur jumlah dan jarak kelahiran. Adapun manfaat yang diperoleh ibu adalah :
a)      Tercegahnya kehamilan yang berulang kali dalam jangka waktu yang terlalu pendek, sehingga kesehatan ibu dapat terperihara terutama kesehatan organ reproduksi.
b)      Menigkatkan kesehatan mental dan sosial yang dimungkinkan oleh adanya waktu yang cukup untuk mengasuh anak anak dan beristirahat yang cukup
2)      Suami
Dengan memberikan kesempatan suami agar dapat melakukan hal hal sebagai berikut
a)      Memperbaiki kesehatan fisik
b)      Mengurang beban ekonomi keluarga yang ditanggungnya
3)      Seluruh keluarga
Dilaksanakannya program KB dapat meningkatkan kesehatan fisik, mental, dan sosial setiap anggota keluarga; dan bagi anak dapat memperoleh kesempatan yang lebih besar dalam hal pendidikan serta kasih sayang orang tua.
Ruang lingkup KB secara umum adalah sebagai berikut.
1)      Keluarga berencana
2)      Kesehatan reproduksi remaja
3)      Ketahanan dan pemberdayaan keluarga
4)      Penguatan pelembagaan keluarga kecil berkualitas
5)      Keserasian kebijakan kependudukan
6)      Pengelolaan SDM
7)      Penyelenggaraan pimpinan kenegaraan dan kepemerintahan
8)      Peningkatan pengawasan dan akuntabilitas aparatur negara.

e.       Macam macam KB
1)      Metode kontrasepsi sederhana tanpa alat
a)      Pantang berkala
Pantang berkala adalah tidak melakukan senggama pada masa subur seorang wanita yaitu waktu terjadinya ovulasi. Agar kontrasepsi dengan cara ini berhasil, seorang wanita harus benar-benar mengetahui masa ovulasinya (waktu dimana sel telur siap untuk dibuahi). Kerugian dengan cara ini adalah masa puasa bersenggama sangat lama sehingga menimbulkan kadang-kadang berakibat pasangan tersebut tidak menaati.
b)      Koitus interuptus
Koitus interuptus atau Senggama terputus adalah metode keluarga berencana tradisional, dimana pria mengeluarkan alat kelaminnya dari vagina sebelum pria mencapai ejakualasi sehingga sperma tidak masuk kedalam vagina dan kehamilan dapat dicegah.



2)      Metode kontrasepsi sederhana dengan alat
a)    Kondom
Kondom merpakan selubung atau sarung karet yang dipasang pada penis saat berhubungan seksual.
Cara kerja kondom yaitu untuk menghalangi terjadinya pertemuan sperma dan sel telur dengan cara mengemas sperma diujung selubung karet yang dipasang pada penis sehingga sperma tersebut tidak tercuruh kedalam saluran reproduksi perempuan, selain itu kondom juga dapat mencegah penularan mikroorganisme (HIV/AIDS) dari satu pasangan kepada pasangan yang lain. Secara ilmiah didapatkan hanya sedikit angka kegagalan kondom yaitu 2-12 kehamilan per 100 perempuan per tahun.
(1)      Keuntungan menggunakan kondom adalah:
(a)      Efektif bila digunakan dengan benar
(b)     Tidak mengganggu kesehatan pengguna
(c)      Murah dan dapat dibeli secara umum
(2)      Kerugian menggunakan kondom adalah:
(a)      Agak mengganggu hubungan seksual (mengurangi sentuhan langsung)
(b)     Harus selalu tersedia setiap kali berhubungan seksual
(c)      Cara penggunaan sangat mempengaruhi keberhasilan kontrasepsi


b)   Diafragma
Diafrgama adalah kap berbentuk bulat cembung,terbuat dari karet yang diinsersikan kedalam vagina sebelum berhubungan seksual dan menutup serviks. Cara kerjnya yaitu menekan sperma agar tidak mendapatkan akses mencapai saluran alat reproduksi bagian atas.
(1)      Keuntungan menggunakan diafragma adalah:
(a)      Tidak mengganggu reproduksi ASI
(b)     Tidak mengganggu kesehatan pengguna
(c)      Tidak mengganggu hubungan seksual karena telah terpasang sampai 6 jam sebelumnya
(2)      Kerugian menggunakan diafragma adalah:
(a)      Pemasangannya membutuhkan keterampilan
(b)     Untuk pemakaian, perlu instruksi dan cara pemasangan oleh tenaga klinik yang terlatih
(c)      Pada beberapa pengguna menjadi penyebab.

3)      Metode kontrasepsi hormonal
a)    Pil KB
Suatu cara kontrasepsi untuk wanita yang berbentuk pil atau tablet yang berisi gabungan hormon estrogen dan progesteron (Pil Kombinasi) atau hanya terdiri dari hormon progesteron saja (Mini Pil). Cara kerja pil KB menekan ovulasi untuk mencegah lepasnya sel telur wanita dari indung telur, mengentalkan lendir mulut rahim sehingga sperma sukar untuk masuk kedalam  rahim, dan menipiskan lapisan endometrium. Mini pil dapat dikonsumsi saat menyusui.Efektifitas pil sangat tinggi, angka kegagalannya berkisar 1-8% untuk pil kombinasi, dan 3-10% untuk mini pil.
b)   Suntik KB
Suntik KB ada dua jenis yaitu, suntik KB 1 bulan (cyclofem) dan suntik KB 3 bulan (DMPA). Cara kerjanya sama dengan pil KB. Efeek sampingnya dapat terjadi gangguan haid, depresi, keputihan jerawat, perubahan berat badan, pemakaian jangka panjang bisa terjadi penurunan libido dan densitas tulang.Konsep KB suntik 2 bulan.
(1)   Definisi
Kontrasepsi suntik KB 3 bulan adalah Depo-Medroksiprogesteron Asetat (Depoprovera), mengandung 150 mg DMPA. Diberikan setiap 3 bulan dengan cara disuntikkan intramuskuler (IM) didaerah bokong.
Depoprovera ialah 6 alfa medroksiprogesteron yang digunakan untuk tujuan kontrasepsi perenteral, mempunyai efek progestagen yang kuat dan sangat efektif.Noresterat juga termasuk dalam golongan ini.
(2)   Jenis KB suntik
Jenis-jenis KB suntik yang sering digunakan diindonesia antara lain:
(a)      Suntik/1 bulan, contoh: Cyclofem
(b)     Suntikan/3 bulan, contoh: Depo Medroksiprogesteron setat, (DMPA), Depo Noretisteron Enatat (Depo Noristerat)

(3)      Mekanisme kerja
(1)     Mecegah ovulasi
(2)     Mengentalkan lendir serviks dan menjadi sedikit sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma .
(3)     Menjadikan selaput lendir rahim tipis dan atropi
(4)     Menghambat transportasi gamet dan tuba
(5)     Mengubah endoetrium menjadi tidak sempurna untuk implantasi hasil konsepsi
(4)   Keuntungan atau kelebihan
Keuntungan atau kelebihan dari metode kontrasepsi suntik ini antara lain:
(1)     Sangat efektif
(2)     Pencegahan kehamilan jangka panjang
(3)     Tidak memiliki pengaruh pada ASI
(4)     Klien tidak perlu menyimpan obat suntik
(5)     Dapat digunakan oleh perempuan usia > 35 tahun sampai per imenopause
(6)     Membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik
(7)     Menurunkan kejadian penyakit jinak payudara
(8)     Menurunkan krisis anemia bulan sabit (sickle cell)
(9)     Mencegah beberapa penyebab penyakit radang paggul


(5)      Kerugian atau efek samping
(a)      Gangguan haid seperti siklus haid memendek atau memanjang, perdarahan
(b)     Yang banyak atau sedikit, spotting tidak haid sama sekali
(c)      Tidak dapat dihentikkan sewaktu-waktu
(d)     Permasalahan berat badan merupakan efek samping tersering
(e)      Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentiam pemakaian
(f)      Terjadi perubahan pada lipid serum pada penggunaan jangka panjang
(g)     Pada penggunaan jangka panjang dapat menurunkan kepadatan tulang (densitas)
(h)     Pada penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan pada vagina, menurunkan libido, gangguan emosi (jarang), sakit kepala, nervositas, dan jerawat.
(6)      Yang dapat menggunakan kontrasepsi suntikan progestin/DMPA
(a)      Usia reproduksi
(b)     Nulipara dan yang telah memiliki anak
(c)      Menghendaki kontrasepsi
(d)     Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi  yang sesuai
(e)      Setelah abortus atau keguguran
(f)      Telah banyak anak, tetapi belum menghendaki tubektomi
(g)     Tidak dapat memakai kontrasepsi yang mengandung estrogen
(h)     Menggunakan obat untuk epilepsy (fenition dan barbiturat)
(i)       Obat tuberculosis (rifampisin)
(j)       Tekanan darah < 180/110 mmHg, dengan masalah gangguan pembekuan
(k)     Darah, anemia bulan sabit dan anemia defisiensi besi
(7)      Yang tidak boleh menggunakan kontrasepsi suntikan progestin/DMPA
(a)      Hamil atau dicurigai hamil
(b)     Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
(c)      Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid, teruatama amenore
(d)     Menderita kanker payudara ata riwayat kenker payudara
(e)      Diabetes mellitus disertai komplikasi (peningkatan libido, kulit dan kulit kepala berminyak, ruam dan pruritus, edema.
c)      Implan
Kontrasepsi implan adalah metode kontrasepsi yang diinsersikan pada bagian subdermal, yang hanya mengandung progestin dengan masa kerja panjang, dosis rendah dan reversibel untuk wanita.
(1)      Cara kerja
(a)      Lendir serviks menjadi kental
(b)     Mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi implantasi
(c)      Mengurangi transportasi sperma
(d)     Menekan ovulasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar