1)
Asuhan
Kala III
1)
Manajemen
Akitf Kala III
Tujuan manajemen kala III
adalah utuk menghasilkan kontraksi uterus yang lebih efektif sehingga dapat
mempersingkat waktu, mencegah perdarahan, dan mengurangi kehilangan darah kala
III persalinan jika dengan penatalaksanaan
fisiologis.
2)
Komponen
Manajemen Aktif Kala III
a)
Pemberian
suntikan oksitosin 10 IU secara IM segera setelah bayi lahir.
b)
Tali
pusat di klem sekitar 5- 20 menit dari vulva, tangan kanan memegang tali pusat
dan tangan kiri melakukan dorso kranial.
c)
Lakukan
peregangan tali pusat sampai plasenta lahir dengan pemutaran searah sampai
plasenta lahir.
d)
Begitu
plasenta dilahirkan, lakukan masase pada pada uterus secara sirkuler (Sondakh, 2013:136-138).
3)
Pemeriksaan
Plasenta
Melakukan
pemeriksaan pada bagian sisi maternal dan fetal plasenta.
4)
Pemeriksaan
selaput ketuban
Selaput
ketuban diperiksa dengan menggantung plasenta dengan memegang tali pusat,
sehingga selaput ketuban tergantung ke bawah.Periksa apakah tidak ada selaput
ketuban yang tertinggal.
5)
Pemeriksaan
tali pusat
Menghitung
jumlah perdarahan tai pusat, mengukur panjang tali pusat, melihat tali pusat
adanya simpul, hematom,tumor, kista dan jumlah jelly wharton.
6)
Pemantauan
kontraksi
Uterus
yang berkontraksi normal harus keras ketika disentuh.
7)
Melihat
robekan jalan lahir dan perineum.
8)
Memeriksa
tanda vital (Sondakh, 2013:138-140).
4).
Asuhan persalinan Kala IV
1)
Memonitor
konsistensi uterus. Uterus harus berkontraksi secara efektif, teraba padat, dan
keras.
2)
Memperhatikan
adanya uterus berelaksasi, terutama pada ibu yang memiliki :
a)
Riwayat
atonia uteri pada kehamilan sebelumnya.
b)
Status
ibu sebagai multigravida.
c)
Distensi
berlebih pada uterus.
d)
Persalinan
presipiatus.
e)
Persalinan
memanjang.
f)
Mengecek
kelengkapan plasenta dan membran pada saat inspeksi.
g)
Mengecek
status kandung kemih.
h)
Meminta
ketersediaan orang kedua untuk memantau konsistensi uterus dan aliran lokia,
serta membran masase uterus.
i)
Menilai
kemampuan pasangan ibu-bayi untuk memulai pemberian ASI (Sondakh, 2013:145)
1. Bayi Baru Lahir
a. Definisi Bayi
Baru Lahir
Bayi baru lahir (BBL) disebut juga dengan neonatus merupakan individu
yang sedang bertumbuh dan baru saja mengalami trauma kelahiran serta harus
dapat melakukan penyesuaian diri dari kehidupan intrauterin ke kehiupan
ekstrauterin, bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan
37-42 minggu dan berat badanya 2.500-4.000 gram.
( Dewi, 2014, h. 1)
b.
Ciri-ciri bayi baru lahir normal
1)
Lahir aterm antara 37-42 minggu
2)
Berat badan 2.500-4000
3)
Panjang badan 48-52 cm
4)
Lingkar dada 36-38 cm
5)
Lingkar kepala 33-35 cm
6)
Lingkar lengan 11-12 cm
7)
Frekuensi denyut jantung 120-160 x/menit
8)
Pernapasan ± 40-60 x/menit
9)
Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan yang cukup
10) Rambut lanugo tidak terlihat dan rambut
kepala biasanya telah sempurna
11) Kuku agak panjang dan lemas
12) Nilai APGAR > 7
13) Gerak aktif
14) Bayi lahir langsung menangis kuat
15) Refelks rooting
(mencari putting susu dengan rangsangan taktil pada pipi dan daerah mulut)
sudah terbentuk dengan baik
16) Refleks sucking
(isap dan menelan) sudah terbentuk dengan baik
17) Refleks morro
(gerakan memeluk bila dikagetkan) sudah terbentuk dengan baik
18) Refleks grasping
(menggenggam) sudah baik
19) Genitalia
a)
Pada laki-laki kematangan ditandai dengan testis yang berada skrotum dan
penis berlubang
b)
Pada perempuan kematangan ditandai dengan vagina dan uretra yang
berlubang, serta adanya labia minor dan mayor
20) Eliminasi baik yang ditandai dengan keluarnya
mekonium dalam 24 jam pertama dan berwarna hitam kecokelatan.
Tabel
2.4 APGAR SCORE
|
Tanda
|
Nilai: 0
|
Nilai: 1
|
Nilai: 2
|
|
Appearance
(wana kulit)
|
Pucat/biru seluruh tubuh
|
Tubuh merah, ekstremitas biru
|
Seluruh tubuh kemerahan
|
|
Pulse (denyut jantug)
|
Tidak ada
|
<100
|
>100
|
|
Grimace (tonus otot)
|
Tidak ada
|
Ekstremitas sedikit fleksi
|
Gerakan aktif
|
|
Activity
(aktifitas)
|
Tidak ada
|
Sedikit gerak
|
Langsung menangis
|
|
Respiration (pernafasan)
|
Tidak ada
|
Lemah/tidak
|
Menangis
|
Interpretasi:
a)
Nilai 1-3 asfiksia berat
b)
Nilai 4-6 asfiksia sedang
c)
Nilai 7-10 asfiksia ringan
c.
Tahapan Bayi Baru Lahir
1)
Tahapan I terjadi segera setelah lahir, selama menit-menit pertama
kelahiran. Pada tahapp ini digunakan sistem scoring
apgar untuk fisikdan scoring gray untuk
interaksi bayi dan ibu
2)
Tahap II disebut tagap transisional reaktivitas. Pada tahap II dilakukan
pengkajian selama 24 jam pertama terhadap adanya perubahan perilaku
3)
Tahap III disebut tahap perodik, pengkajian dilakukan setelah 24 jam
pertama yang meliputi peeriksaan seluruh tubuh.
(Dewi, 2014, h. 2-3)
d.
Adaptasi fisiologi BBL terhadap kehidupan di luar uterus
1)
Memulai segera pernapasan dan perubahan dalam pola sirkulasi. Konsep ini
merupakan hal yang esensial pada kehidupan ekstrauterin.
2)
Dalam 24 jam setelah lahir, sistem ginjal, gastrointestinal, hematologi,
metabolic, dan sistem neurologis bayi baru lahir harus berfungsi secara memadai
untuk mempertahankan kehidupan ekstrauteri.
Setiap bayi baru lahir akan mengalami periode transisi, yaitu:
1)
Periode ini merupakan fase tidak stabil selama 6-8 jam pertama
kehidupan, yang akan dilalui oleh seluruh bayi dengan mengabaikan usia gestasi
atau sifat persalinan atau melahirkan.
2)
Pada periode pertama reaktivitas (segera setelah lahir), akan terjadi
pernapasan cepat (dapat mencapai 80 kali/menit) dan pernapasan cuping hidung
yang verlangsung sementara, retraksi, serta suara seperti mendengkur dapat
terjadi. Denyut jantung dapat mencapai 180 kali/menit selama beberapa
menit kehidupan.
3)
Setelah respons awal ini, bayi baru lahir ini akan menjadi tenang,
relaks, dan jatuh tertidur. Tidur pertama ini (dikenal sebagai fase tidur)
terjadi dalam 2 jam setelah kelahiran dan berlangsung beberapa menit sampai
beberapa jam.
4)
Periode kedua reaktivitas, dimulai ketika bayi bangun ditandai dengan
respons berlebihan terhadap stimulasi, perubahan warna kulit dari merah muda
menjadi agak sianosis, dan denyut jantung cepat.
5)
Lendir mulut dapat menyebabkan masalah yang bermakna, misalnya
tersedak/aspirasi, tercekik, dan batuk. (Sondakh, 2013, h. 150-151)
e.
Sistem pernapasan
Berikut adalah tabel mengenai perkembangan sistem pulmonal sesuia dengan
usia kehamilan.
Tabel
2.5 Perkembangan sistem pulmonal
|
Usia kehamilan
|
Perkembangan
|
|
24 hari
|
Bakal paru-paru terbentuk
|
|
26-28 hari
|
Kesua bronkus membesar
|
|
6 minggu
|
Segmen bronkus terbentuk
|
|
12 minggu
|
Lobus terdiferensiasi
|
|
24 minggu
|
Alveolus terbentuk
|
|
28 minggu
|
Surfaktan terbentuk
|
|
34-36 minggu
|
Struktur paru matang
|
Ketika
struktur matang, ranting paru-paru sudah bisa mengembangkan sistem alveoli.
Selama dalam uterus, janin mendapat oksigen dari pertukaran gas melalui
plasenta dan setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru-paru bayi.
Rangsangan
gerakan pernapasan pertama terjadi karena beberapa hal berikut.
1)
Tekanan mekanik dari torak sewaktu melalui jalan lahir (Stimulasi
mekanik)
2)
Penurunan O2 dan CO2 merangsang kemoreseptor terletak di sinus karotikus
(stimulasi kimiawi).
3)
Rangsangan dingin di daerah muka dan perubahan suhu didalam uterus
(stimulasi sensorik).
4)
Refleks deflasi hering breur.
(Dewi, 2014, h. 12-13)
f.
Perlindungan termal (Termoregulasi)
1)
Pastikan bayi tersebut tetap hangat dan terjadi kontak antara kulit bayi
dengan kulit ibu.
2)
Gantilah handuk/kain yang basah dan bungkus bayi tersebut dengan
selimut, serta jangan lupa memastikan bahwa kepala telah terlindung dengan baik
untuk mencegah keluarnya panas tubuh. Pastikan bayi tetap hangat
3)
Mempertahankan lingkungan termal netral
a)
Letakkan bayi dibawah alat penghangat pancaran dengan menggunakan sensor
kulit untuk memantau suhu sesuai kebutuhan.
b)
Tunda memandikan bayi sampai suhu bayi stabil.
c)
Pasangan penutup kepala rajutan untuk mencegah kehilangan panas dari
kepala bayi.
(Sondakh, 2013, h. 157)
g.
Asuhan Kebidanan pada BBL Normal
1)
Cara memotong tali pusat
a)
Menjepit tali dengan klem dengan jarak 3 cm dari pusat, lalu mengurut
tali pusat ke arah ibu dan memasang klem ke 2 dengan jarak 2 cm dari kelm.
b)
Memegang tali pusat di antara 2 klem dengan mengguakan tangan kiri (jari
tengah melindungi bayi) lalu memotong tali pusat diantara 2 klem.
c)
Mengikat tali pusat dengan jarak ± 1 cm dari umbilikus dengan simpul
mati lalu mengikat balik tali pusat dengan simpul mati. Untuk kedua kalinya
bungkus dengan kasa steril, lepaskan simpul mati. Untuk kedua kalinya bungkus
dengan kasa steril, lepaskan klem pada tali pusat, lalu memasukkannya dalam wadah
yang berisi larutan klorin.
d)
Membungkus bayi dengan kain bersih dan membiarkannya kepada ibu.
2)
Mempertahankan suhu tubuh BBl dan mencegah hipotermi
a)
Mengeringkan tubuh bayi segera setelah lahir. Kondisi bayi lahir dengan
tubuh basah Karena air ketuban atau aliran udara melalui jendela/pintu yang
terbuka akan mempercepat terjadinya penguapan yang akan mengakibatkan bayi
lebih cepat kehilangan suhu tubuh. Hak ini akan mengakibatkan serangan dingin (cold stress) yang merupakan gejala awal
hipotermia. Bayi kedinginan biasanya tidak memperlihatkan gejala menggigil oleh
karena kontrol suhunya belum sempurna.
b)
Untuk mencegah terjadinya hipotermi, segera keringkan dan bungkus dengan
kain kering kemudian diletakkan telungkup diatas dada ibu untuk mendapatkan
kehangatan dari dekapan ibu.
c)
Menunda memandikan BBL sampai tubuh bayi stabil
Pada BBL cukup bulan dengan berat 2.500 gram dan menangis kuat bisa
dimandikan ± 24 jam setelah kelahiran dengan tetap menggunakan air hangat.
Sedangkan pada BBL beresiko dengan berat badan kurang dari 2.500 gram atau
keadaanya sangat lemah sebaiknya jangan dimandikan sampai suhu tubuh stabil dan
mampu mengisap ASI dengan baik.
d)
Menghindari kehilangan panas pada bayi baru lahir
4 cara yang membuat bayi kehilangan panas yaitu: radiasi, evaporasi.
Konduksi dan konveksi.( Dewi, 2014, h. 3-4)
(1)
Konduksi
Panas dihantarkan dari tubuh bayi ke benda sekitarnya yang kontak
langsung dengan tubuh bayi (pemindahan panas dari tubuh bayi ke objek lain
melalui kontak langsung). Sebagai contoh, konduksi bisa terjadi ketika
menimbang bayi tanpa alas timbangan, memegang bayi pada saat tangan dingin dan
menggunakan stetoskop dingin saat pemeriksaan BBL.
(2)
Konveksi
Panas hilang dari tubuh bayi ke udara sekitanya yang sedang bergerak
(jumlah panas yang bergantung pada kecepatan dan suhu udara) sebagai contoh,
konveksi dapat terjadi ketika membiarkan atau menempatkan BBL dekat jendelam
atau membiarkan BBL di ruangan yang terpasang kipas angin.
(3)
Radiasi
Panas dipancarkan dari BBL keluar tubuhnya kelingkungan yang lebih
dingin (pemindahan panas antara 2 objek
yang mempunyai suhu berbeda). Sebagai contoh, membiarkan BBL dalam
ruangan AC tanpa diberikan pemanas (radiant
warmer), membiarkan BBL dalam keadaan telanjang, atau menidurkan BBL
berdekatan dengan ruangan dingin (dekat tembok)
(4)
Evaporasi
Panas hilang melalui proses penguapan yang bergantung pada kecepatan dan
kelambatan udara (perpindahan panas dengan cara mengubah cairan menjadi uap).
Evaporasi ini dipengaruhi oleh jumlah panas yang dipakai, tingkat kelembapan
udara, dan aliran udara yang melewati. Apabila BBL dibiarkan dalam suhu kamar
25ºC, maka bayi akan kehilangan panas melalui konveksi, radiasi, dan evaporasi
yang besarnya 200 kg/BB, sedangkan yang dibentuk hanya sepersepuluhnya saja.
Agar dapat mencegah terjadinya kehilangan panas pada bayi, maka lakukan hal
berikut.
(a)
Keringkan bayi secara seksama
(b)
Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih yang kering dan hangat
(c)
Tutup bagian kepala bayi
(d)
Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya
(e)
Jangan segera menimbang atau memnadikan bayi baru lahir
(f)
Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat
(Dewi, 2014, h. 13-14)
2.
Nifas
a.
Definisi nifas
Nifas
adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat alat kandungan
kembali seperti pra hamil. (Vivian nanny lia
dewi,2014).
b.
Tahapan masa nifas
Masa
nifas dibagi menjadi tiga tahapan :
1) Puerperium
dini yaitu kepulihan dimana ibu diperbolehkan berdiri dan berjalan, serta
menjalankan aktivitas layaknya wanita normal lainya.
2) Puerperium
intermedial yaitu suatu kepulihan menyeluruh dari organ-organ genetalia yang lamanya sekitar 6-8 minggu.
3) Puerperium
Remote yaitu waktu yang diperukan untuk pulih dan sehat sempurna apabila ibu
selama hamil atau persalinan mempunyai komplikasi..( vivian nanny lia dewi, 2014).
c.
Kebijakan Program
Nasional Masa Nifas
Kebijakan
program nasional masaa nifas paling sedikit 4 kali kunjungan yang dilakukan.
Hal ini untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir serta untuk mencegah,
mendeteksi, dan menangani masalah masalah yang terjadi antara lain sebagai
1) 6-8
jam setelah persalinan
a)
Mencegah perdarahan
masa nifas karena atonia uteri
b)
Mendeteksi dan merawat
penyebab lain perdarahan, rujukan bila peradaran berlanjut.
c)
Memberikan konseling
pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa
nifas karena atonia uteri.
d) Pemberian
asi awal
e)
Melakukan hubungan
antara ibu dan bayi baru lahir
f)
Menjaga bayi tetap
sehat dengan cara pencegahan hipotermi
2) 6
hari setelah persalinan
a)
Memastikan involusi
uterus berjalan normal, uterus uterus berkontraksi, tinggi fundus uteri dibawah
umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau
b)
Menilai adanya
tanda-tanda demam,infeksi dan perdarahan abnormal
c)
Memastikan ibu
mendapatkan cukup makanan, cairan, dan
istirahat
d) Memastikan
ibu menyusui dengan baik dan tidak ada memperlihatkan tanda-tanda penyulit.
e)
Memberikan konseling
pada ibu mengenai asuhan pada bayi dan tali pusat, serta menjaga bayi tetap
hangat dan merawat bayi sehari
3) 2
minggu setelah persalinan
Asuhan pada 2 minggu
post partum sama dengan asuhan yang diberikan pada kunjungan 6 hari post partum
(marmi, 2017)
4)
6 minggu setelah
persalinan
a)
Menanyakan pada ibu
tentang penyulit-penyulit yang ia atau bayi alami.
b)
Memberikan konseling
untuk KB secara dini.
(Vivian nanny lia dewi,2014).
d.
Perubahan
fisiologi masa nifas
1) Perubahan
sistem reproduksi
a) Uterus
Peroses
involusi adalah proses kembalinya uterus kedalam keadaan sebelum hamil setelah
melahirkan. Spade minggu keenam, berat menjadi 50-60 gram. Proses involusi
uterus adalah sebagai berikut :
(1) Iskemia
Miometrium
Disebabkan
oleh kontraksi dan retraksi yang terus menerus dari uterus setelah pengeluaran
plasenta membuat uterus relative anemi dan menyebabkan serat otot atrofi.
(2) Autolisis
Merupakan
proses penghancuran diri sendiri yang terjadi didalam otot uterus. Enzim
proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah sempat mengendur
hingga panjangnya 10 kali dari semula
dan lebar lima kali dari semula selama kehamilan atau dapat juga dikatakan
sebagai perusakan secara langsung jaringan hipertrofi yang berlebihan. Hal ini
disebabkan karena penurunan hormone estrogen dan progesteron.
(3) Efek
oksitosin
Oksitosin menyebabkan
terjadinya kontraksi dan retraksi otot uterin sehungga akan menekan pembuluh
darah yang mengakibatkan berkurangnya suplai darah ke uterus. Proses ini
membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasi plasenta serta
mengurangi peradarahan.
(Vivian nanny lia dewi,
2014)
Tabel
2.6 Involusi uterus
|
Involusi
|
TFU
|
Berat
Uterus (gr)
|
Diameter
Uterus (cm)
|
Keadaan
serviks
|
|
Bayi lahir
|
Setinggi pusat
|
1000
|
|
|
|
Uri lahir
|
2 jari dibawah
pusat
|
750
|
12,5
|
Lembek
|
|
Satu minggu
|
Pertengahan
pusat-simfisis
|
500
|
7,5
|
Beberapa hari
setelah postpartum dapat dilalui 2 jari akhir minggu pertama dapat dimasuki 1
jari
|
|
Dua minggu
|
Tak teraba di
atasi simfisis
|
350
|
3 –
4
|
|
|
Enam minggu
|
Betambah kecil
|
30
– 60
|
1 –
2
|
|
|
Delapan minggu
|
Sebesar normal
|
30
|
|
b)
Involusi Tempat plasenta
Setelah persalinan,
tempat plasenta merupakan tempat dengan permukaan kasar, tidak rata, dan kira
kira sebesar talapak tangan.Dengan cepat luka ini mengecil, pada akhir minggu
ke-2 hanya sebesar 3-4 cm dan pada akhir nifas 1-2 cm. Penyembuhan luka bekas
plasenta khas sekali.Pada permulaan nifas bekas plasenta mengandung banyak
pembuluh darah besar yang tersumbat oleh trombus.
c)
Perubahan ligamen
Ligamen ligamen dan
diafragma pelvis, serta fasia yang meregang sewaktu kehamilan dan partus,
setelah janin lahir, berangsur angsur menciut kembali seperti sedia kala.
d)
Perubahan pada serviks
Serviks mengalami
involusi bersama sama uterus. Perubahan perubahan yang terdapat pada serviks
postpartum adalah bentuk serviks yang akan menganga seperti corong. Bentuk ini
disebabkan oleh korpus uteri yang dapat mengadakan kontraksi, sedangkan serviks
tidak berkontraksi sehingga seolah olah pada perbatasan antara korpus dan
serviks uteri terbentuk semacam cincin.
e)
Lokia
Lokia adalah ekskresi
cairan rahim yang selama masa nifas dan mempunyai reaksi basa/alkalis yang
dapat membuat organisme berkembang lebih cepat daripada kondisi asam yang ada
pada vagina normal. Lokia mempunyai bau yang amis meskipun tidak terlalu menyengat
dan volumenya berbeda pada setiap wanita. Penegluaran lokia dapat dibagi
berdasarkan waktu dan warnanya diantaranya sebagai berikut:
1) Lokia
rubra/ merah ( kruenta)
Lokia ini Munculnya pada hari pertama
sampai hari ketiga masa post partum.
Sesuai dengan warnanya, warnanya biasanya
merah dan mengandung darah dari perobekan/ luka pada plasenta dan
serabut dari decidua dan chorion.
2) Lokia
sanguilenta
Lokia ini Berwarna merah kuning Berisi
darah lendir karena pengaruh plasma darah, peneegeluaran pada hari ke ke 3-5 hari postpartum.
3) Lokia
serosa
Lokia ini Muncul pada hari ke 5-9
postpartum.Warnanya biasanya kekuningan atau kecoklatan. Lokia ini trdiri atas
lebih sedikit darh dan lebih banyak serum juga terdiri atas leukosit dan
robekan laserasi plasenta
4) lokia
alba
Lokia ini muncul lebih dari hari ke 10
postpartum. Warnanya lebihp pucat,
kekuningan serta lebih banyak mengandung leukosit, selaput lendir serviks, dan
serabut jaringan yang mati.
f)
Perubahan pada vagina
dan Perineum
Estrogen pascapartum yang menurun berperan dalam penipisan mukosa vagina
dan hilangnya rugae. Vagina yang semula sangat teregang kembali secara bertahap
pada ukuran sebelum hamil selama 6-8 minggu setelah bayi lahir. Rugae akan
kembali terlihat sekitar minggu keempat, walaupun tidak akan menonjol pada
wanita nulipara. Pada umumnya rugae akan memipih secara permanen. Mukosa tetap
atrofik pada wanita menyusui sekurang kurangnya sampai menstruasi dimulai
kembali.
g)
Perubahan tanda tanda vital
Beberapa perubahan tanda tanda vital biasanya terlihat jika wanita dalam
keadaan normal.peningkatan kecil sementara baik peningkatan tekanan darah
sistole maupun diastole dapat timbul dan berlangsung selama sekitar empat hari
setelah wanita melahirkan
(1)
Suhu badan
Satu hari (24 jam) postpartum suhu badan akan naik sedikit (37,5 - 380C)sebagai
akibat kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan dan kelelahan. Biasanya
pada hari ke 3 suhu badan naik lagi karena ada pembentukan ASI dan payudara
menjadi bengkak berwarna merah karena banyaknya ASI. Bila suhu tidak turun
kemungkinan adanya infeksi pada endometrium, mastitis, traktus genetalis, atau
sistem lain.
(2)
Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 x/menit. Sehabis melahirkan
biasanya denyut nadi itu akan lebih cepat.
(3)
Tekanan darah
Biasanya tidak berubah, kemungkinan tekanan darah akan rendah setelah
melahirkan karena ada perdarahan. Tekanan darah tinggi pada postpartum dapat
menandakan terjadinya preeklamsia post partum.
(4)
Pernafasan
Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut
nadi, bila suhu nadi tidak normal, pernafasan juga akan mengikutinya, kecuali
apabila ada gangguan khusus pada saluran pernafasan
h)
Perubahan sistem kardiovaskular
(1)
Volume darah
Pada minggu ke-3 dan ke-4 setelah bayi lahir, volume darah biasanya menurun
sampai mencapai volume darah sebelum hamil.Pada persalinan pervaginam, ibu
kehilangan darah sekitar 300-400 cc. Bila kelahiran melalui SC, maka kehilangan
darah dapat dua kali lipat. Pada persalinan pervaginam, hematokrit akan naik,
sedangkan pada SC, hematokrit cenderung stabil dan kembali normal setelah 4-6
minggu.
(2)
Curah jantung
Denyut jantung, volume sekuncup, dan curah jantung meningkat sepanjang
masa hamil.Segera setelah wanita melahirkan, keadaan ini meningkat bahkan lebih
tinggi selama 30-60 menit karena darah yang biasanya melintasi sirkulasi
uteroplasenta tiba tiba kembali ke sirkulasi umum.
(3)
Perubahan sistem hematologi
Leukositosis yang meningkat dimana jumlah sel darah putih dapat mencapai
15.000 selama persalinan akan tetapi tinggi dalam beberapa hari pertama dari
masa postpartum. Jumlah sel darah putih tersebut masih biasa naik sampai 25.000
– 30.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita tersebut mengalami
persalinan lama. Kira kira selama kelahiran dan masa postpartum terjadi kehilangan
darah sekitar 200-500 cc. Penurunan volume dan peningkatan sel darah pada
kehamilan diasosiasikan dengan peningkatan hematokrit dan hemoglobin pada hari
ke-3 sampai ke-7 post partum dan akan kembali normal dalam 4-5 minggu post
partum.
i)
Sistem pencernaan pada masa nifas
(1)
Nafsu makan
Ibu biasanya lapar
segera setelah melahirkan sehingga ia boleh mengonsumsi makanan ringan. Ibu
sering kali cepat lapar setelah melahirkan dan siap makan pada 1-2 jam post
primordial, dan dapat ditoleransi dengan diet yang ringan.Setelah benar-benar
pulih dari efek analgesia, anastesia, dan keletihan, kebanyakan ibu merasa
sangat lapar.Permintaan untuk memperoleh makanan dua kali dari jumlah yang
biasa dikonsumsi disertai konsumsi camilan yang sering ditemukan.
(2) Motilitas
Secara khas, penurunan
tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat
setelah bayi lahir.Kelebihan analgesia dan anastesia bisa memperlambat
pengembalian tonus dan motilitas ke keadaan normal.
(3) Pengosongan
usus
Sistem pencernaan pada
masa nifas membutuhkan waktu yang berangsur-angsur untuk kembali normal. Pola
makan ibu nifas tidak akan seperti biasa dalam beberapa hari dan perineum ibu
akan terasa sakit untuk defekasi. (Vivian nanny lia dewi askeb paada ibu nifas,
2014 salemba Jakarta, 59-62)
k) Perubahan
sistem perkemihan
Pada masa hamil,
perubahan hormonal yaitu kadar steroid tinggi yang berperan meningkatkan fungsi
ginjal. Begitu sebaliknya, pasca melahirkan kadar steroid menurun sehingga
menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu
satu bulan setelah wanita melahirkan. Urin dalam jumlah yang besar akan
dihasilkan dalam waktu 12-36 jam sesudah melahirkan. (marmi,2017 asuhan
kebidanan pada masa nifas.h14 penerbit pustaka pelajar)
e.
Adaptasi
psikologi ibu dalam masa nifas
a) Fase
taking in
Fase taking in yaitu periode ketergantunga
yang berlangsung pada hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan pada
saat itu, fokus perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri.Pengalaman berulang
kali diceritakannya.Hal ini membuat ibu cenderung menjadi pasif terhadap
lingkunngannya.
b) Fase
letting hold
Fase letting hold adalah fase perode yang
berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan pada fase ini, ibu merasa
khawatir akan ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi.
Ibu memiliki perasaan yang sangat sensitive sehingga mudah tersinggung dan
gampang marah sehingga kita perlu berhati-hati berkomunikasi pada ibu.
c) Fase
letting go
Fase letting go merupakan fase menerima
tanggung jawab akan peran barunya yang berlangsung sepuluh hari setelah
melahirkan. Ibu sudah dapat menyesuaikan diri, merawat diri dan bayinya, serta
kepercayaan dirinya sudah meningkat.
(Vivian, 2014, h. 65-66)
f.
Kebutuhan
dasar ibu masa nifas
1) Nutrisi
dan cairan
a) Nutrisi
Nutrisi yang di
konsumsi harus bermutu tinggi, bergizi dan cukup kalori. Kalori bagus untuk
proses metabolisme tubuh, kerja organ tubuh, proses pembentukan ASI. Wanita
dewasa memerlukan 2.200 kalori. Ibu menyusui memerlukan kalori yang sama dengan
wanita dewasa + 700 kalori pada 6 bulan pertama kemudian + 500 kalori bulan
selanjutnya.
Gizi ibu menyusui
(1) Mengkonsumsi
tambahan 500 kalori tiap hari
(2) Makanan
diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral, dan vitamin yang cukup.
(3) Minum
sedikit 3 liter setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui
(4) Pil
zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca
persalinan.
(5) Minum
vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A kepada bayinya melalui
ASInya.
b) Karbohidrat
Makanan yang dikonsumsi
dianjurkan mengandung 50-60% karbohidrat. Laktosa (gula susu) adalah bentuk
utama dari karbohidrat yang ada dalam jumlah lebih besar dibandingkan dalam
susu sapi. Laktosa membantu bayi menyerap kalsium dan mudah di metabolisme menjadi
dua gula sederhana (galaktosa dan glukosa) yang dibutuhkan untuk pertumbuhan
otak yang cepat yang terjadi selama masa bayi.
c) Lemak
Lemak 25-35% dari total
makanan. Lemak menghasilkan kira-kira setengah kalori yang diproduksi oleh air
susu ibu.
d) Protein
Jumlah kelebihan
protein yang diperlukan oleh ibu pada masa nifas adalah sekitar 10-15%. Protein
utama dalam air susu ibu adalah whey. Mudah dicerna whey menjadi kepala susu
yang lembut yang memudahkan penyerapan nutrient kedalam aliran darah bayi.
Sumber karbohidrat yaitu:
Nabati: tahu, tempe dan
kacang-kacangan
Hewani: daging, ikan,
telur, hati, otak, usus, limfa, udang,kepiting
e) Vitamin
dan mineral
Kegunaan vitamin dan
mineral adalah untuk melancarkan metabolisme tubuh. Beberapa vitamin dan
mineral yang ada pada air susu ibu perlu mendapat perhatian khusus karena
jumlahnya kurang mencukupi, tidak mampu memenuhi kebutuhan bayi sewaktu bayi
bertumbuh dan berkembang.
Vitamin dan mineral
yang paling mudah menurun kandungannya dalam makanan adalah Vit B6, vitamin dan
As.folat dalam air susu langsung berkaitan dengan diet atau asupan suplemen
yang dikonsumsi ibu. Asupan vitamin yang memadai akan mengurangi cadangan dalam
tubuh ibu dan mempengaruhi kesehatan ibu maupun bayi.
Sumber vitamin: hewani
dan nabati
Sumber mineral: ikan,
daging , banyak mengandung kalsium, fosfor, zat besi, seng dan yodium.
f) Cairan
Fungsi cairan sebagai
pelarut zat gizi dalam proses metabolisme tubuh. Minumlah cairan cukup untuk
membuat tubuh ibu tidak dehidrasi. Asupan tablet tambah darah dan zat besi
diberikan seta= 400 hari post partum, minuman kapsul Vit A (200.000 unit)
2) Ambulasi
pada masa nifas
Persalinan merupakan
proses yang melelahkan, itulah mengapa ibu disarankan tidak langsung turun
ranjang setelah melahirkan karena dapat menyebabkan jatuh pingsan akibat
sirkulasi darah yang belum berjalan baik. Ibu harus cukup beristirahat, dimana
ibu harus tidur terlentang selama 8 jam post partum untuk mencegah prdarahan
post partum setelah itu, mobilisasi perlu dilakukan agar tidak terjadi
pembengkakan akibat tersumbatnya pembuluh darah ibu. Pada persalinan normal,
jika gerakannya tidak terhalang oleh pemasangan infuse atau kateter dan
tanda-tanda vitalnya juga memuaskan, biasanya ibu diperbolehkan untuk mandi dan
pergi ke WC dengan dibantu, satu atau dua jam setelah melahirkan secara normal.
Sebelum waktu ini, ibu diminta untuk melakukan latihan menarik, nafas yang
dalam serta latihan tungkai yang sederhana dan harus duduk serta mengayunkan
tungkainya dari tepi ranjang. Pasien section caesarea biasanya mulai ambulasi
24-36 jam sesudah melahirkan. Jika pasien menjalani analgesia epidural,
pemulihan sensibilitas yang total harus dilakukan dahulu sebelum ambulasi
dimulai. Setelah itu ibu bisa pergi ke kamar mandi. (Marmi. 2017, h. 135-138).
3) Kebersihan
diri dan perineum
Empat puluh minggu masa
kehamilan telah terlewati dengan mulus. Namun masih harus menjalani proses yang
tak kalah merepotkan, yakni proses “ pembersihan diri” alias masa nifas.
Biasanya berlangsung 40 hari. Tahapan-tahapan selama masa nifas ini, vagina
akan terus-menerus mengeluarkan darah. Biasanya darah tersebut mengandung trombosit,
sel-sel tua, sel-sel mati (nekrosis), serta sel-sel dinding rahim
(endometrium), yang disebut lokia. (Marmi, 2017, h. 140)
g.
Kebutuhan
seksual
Masa setelah melahirkan selama 6 minggu atau 40 hari,
menurut orang awam merupakan masa nifas yang penting untuk dipantau .nifas
merupakan masa untuk pembersihan rahim, sama halnya seperti masa haid. Banyak
pasangan suami istri merasa frekuensi berhubungan intim semakin berkurang
setelah memiliki anak. Ibu yang baru melahirkan boleh melakukan hubungan
seksual kembali setelah minggu
persalinan. Batasan waktu 6 minggu didasarkan atas pemikiran pada masa itu
semua luka akibat persalinan setelah sembuh dengan baik.(Marmi, 2017, h. 146)
h.
Eliminasi : BAB dan BAK
1) Miksi/
BAK
Buang air kecil sendiri
sebaiknya dilakukan secepatnya.Miksi normal bila dapat BAK spontan setiap 3-4
jam.Kesulitan BAK dapat disebabkan karena spingter uretra tertekan oleh kepala
janin dan spasme oleh iritasi muskulo spingter ani selama persalinan, atau
dikarenakan oedema kandung kemih selama persalinan.Lakukan kateterisasi apabila
kandung kemih penuh dan sulit berkemih.
2) Defekasi/
BAB
Ibu diharapkan dapat
BAB sekitar 3-4 hari post partum. Apabila mengalami kesulitan BAB atau
obstipasi, lakukan diet teratur, cukup cairan, konsumsi makanan berserat,
olahraga, berikan obat rangsangan per oral atau per rectal atau lakukan klisma
bilamana perlu. (Marmi, 2017, h. 148)
3.
KB
a. Definisi
KB
Keluarga
berencana adalah usaha untuk mengukur jumlah dan jarak anak yang diinginkan.
Agar dapat mencapai hal tersebut, maka dibuatlah beberapa cara atau alternatif
untuk mencegah ataupun menunda kehamilan. Cara cara tersebut termasuk
kontrasepsi atau pencegahan kehamilan dan perencanaan keluarga.
b. Tujuan
program KB
Tujuan
umumnya adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial ekonomi
suatu keluarga, dengan cara pengaturan kelahiran anak agar diperoleh suatu
keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebuthan hidupnya. Tujuan
lainya meliputi pengaturan kelahiran, pendewasaan usia perkawinan, peningkatan
ketahanan dan kesejahteraan keluarga.
c. Sasaran
KB
Sasaran
KB tertuang dalam RPJMN 2004-2009 yang meliputi
1) Menurunnya
rata-rata lalu pertumbuhan penduduk menjadi sekitar 1,14 persen per tahun.
2) Menurunnya
angka kelahiran total (TFR) menjadi sekitar 2,2 per perempuan
3) Menurunya
PUS yang tidak ingin punya anak lagi dan ingin menjarangkan kelahiran
berikutnya, tetapi tidak memakai alat/cara kontrasepsi (unmet need)menjadi 6%
4) Meningkatnya
peserta KB laki-laki menjadi 4,5 persen
5) Meningkatnya
penggunaan metode kontrasepsi yang rasional efektif dan efisien
6) Meningkatnya
rata-rata usia perkawinan pertama perempuan menjadi 21 tahun
7) Meningkatya
partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembang anak
8) Meningkatnya
jumlah keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera yang aktif dalam usaha
ekonomi prodiktif
9) Meningkatnya
jumlah institusi masyarakat dalam penyelenggara pelayanan program KB.
d. Ruang
lingkup program KB
Ruang
lingkup program KB mencakup sebagai berikut
1) Ibu
Dengan jalan mengatur
jumlah dan jarak kelahiran. Adapun manfaat yang diperoleh ibu adalah :
a) Tercegahnya
kehamilan yang berulang kali dalam jangka waktu yang terlalu pendek, sehingga
kesehatan ibu dapat terperihara terutama kesehatan organ reproduksi.
b) Menigkatkan
kesehatan mental dan sosial yang dimungkinkan oleh adanya waktu yang cukup
untuk mengasuh anak anak dan beristirahat yang cukup
2) Suami
Dengan memberikan
kesempatan suami agar dapat melakukan hal hal sebagai berikut
a) Memperbaiki
kesehatan fisik
b) Mengurang
beban ekonomi keluarga yang ditanggungnya
3) Seluruh
keluarga
Dilaksanakannya program
KB dapat meningkatkan kesehatan fisik, mental, dan sosial setiap anggota
keluarga; dan bagi anak dapat memperoleh kesempatan yang lebih besar dalam hal
pendidikan serta kasih sayang orang tua.
Ruang
lingkup KB secara umum adalah sebagai berikut.
1) Keluarga
berencana
2) Kesehatan
reproduksi remaja
3) Ketahanan
dan pemberdayaan keluarga
4) Penguatan
pelembagaan keluarga kecil berkualitas
5) Keserasian
kebijakan kependudukan
6) Pengelolaan
SDM
7) Penyelenggaraan
pimpinan kenegaraan dan kepemerintahan
8) Peningkatan
pengawasan dan akuntabilitas aparatur negara.
e. Macam
macam KB
1) Metode
kontrasepsi sederhana tanpa alat
a) Pantang
berkala
Pantang
berkala adalah tidak melakukan senggama pada masa subur seorang wanita yaitu
waktu terjadinya ovulasi. Agar kontrasepsi dengan cara ini berhasil, seorang
wanita harus benar-benar mengetahui masa ovulasinya (waktu dimana sel telur
siap untuk dibuahi). Kerugian dengan cara ini adalah masa puasa bersenggama
sangat lama sehingga menimbulkan kadang-kadang berakibat pasangan tersebut
tidak menaati.
b)
Koitus interuptus
Koitus
interuptus atau Senggama terputus adalah metode keluarga berencana tradisional,
dimana pria mengeluarkan alat kelaminnya dari vagina sebelum pria mencapai
ejakualasi sehingga sperma tidak masuk kedalam vagina dan kehamilan dapat
dicegah.
2) Metode
kontrasepsi sederhana dengan alat
a) Kondom
Kondom merpakan
selubung atau sarung karet yang dipasang pada penis saat berhubungan seksual.
Cara kerja kondom yaitu
untuk menghalangi terjadinya pertemuan sperma dan sel telur dengan cara
mengemas sperma diujung selubung karet yang dipasang pada penis sehingga sperma
tersebut tidak tercuruh kedalam saluran reproduksi perempuan, selain itu kondom
juga dapat mencegah penularan mikroorganisme (HIV/AIDS) dari satu pasangan
kepada pasangan yang lain. Secara ilmiah didapatkan hanya sedikit angka
kegagalan kondom yaitu 2-12 kehamilan per 100 perempuan per tahun.
(1) Keuntungan
menggunakan kondom adalah:
(a) Efektif
bila digunakan dengan benar
(b) Tidak
mengganggu kesehatan pengguna
(c) Murah
dan dapat dibeli secara umum
(2) Kerugian
menggunakan kondom adalah:
(a) Agak
mengganggu hubungan seksual (mengurangi sentuhan langsung)
(b) Harus
selalu tersedia setiap kali berhubungan seksual
(c) Cara
penggunaan sangat mempengaruhi keberhasilan kontrasepsi
b) Diafragma
Diafrgama adalah kap
berbentuk bulat cembung,terbuat dari karet yang diinsersikan kedalam vagina
sebelum berhubungan seksual dan menutup serviks. Cara kerjnya yaitu menekan
sperma agar tidak mendapatkan akses mencapai saluran alat reproduksi bagian
atas.
(1) Keuntungan
menggunakan diafragma adalah:
(a) Tidak
mengganggu reproduksi ASI
(b) Tidak
mengganggu kesehatan pengguna
(c) Tidak
mengganggu hubungan seksual karena telah terpasang sampai 6 jam sebelumnya
(2) Kerugian
menggunakan diafragma adalah:
(a) Pemasangannya
membutuhkan keterampilan
(b) Untuk
pemakaian, perlu instruksi dan cara pemasangan oleh tenaga klinik yang terlatih
(c) Pada
beberapa pengguna menjadi penyebab.
3) Metode
kontrasepsi hormonal
a) Pil
KB
Suatu cara kontrasepsi
untuk wanita yang berbentuk pil atau tablet yang berisi gabungan hormon
estrogen dan progesteron (Pil Kombinasi) atau hanya terdiri dari hormon
progesteron saja (Mini Pil). Cara kerja pil KB menekan ovulasi untuk mencegah
lepasnya sel telur wanita dari indung telur, mengentalkan lendir mulut rahim
sehingga sperma sukar untuk masuk kedalam
rahim, dan menipiskan lapisan endometrium. Mini pil dapat dikonsumsi
saat menyusui.Efektifitas pil sangat tinggi, angka kegagalannya berkisar 1-8%
untuk pil kombinasi, dan 3-10% untuk mini pil.
b) Suntik
KB
Suntik KB ada dua jenis
yaitu, suntik KB 1 bulan (cyclofem) dan suntik KB 3 bulan (DMPA). Cara kerjanya
sama dengan pil KB. Efeek sampingnya dapat terjadi gangguan haid, depresi,
keputihan jerawat, perubahan berat badan, pemakaian jangka panjang bisa terjadi
penurunan libido dan densitas tulang.Konsep KB suntik 2 bulan.
(1) Definisi
Kontrasepsi suntik KB 3
bulan adalah Depo-Medroksiprogesteron Asetat (Depoprovera), mengandung 150 mg
DMPA. Diberikan setiap 3 bulan dengan cara disuntikkan intramuskuler (IM)
didaerah bokong.
Depoprovera ialah 6
alfa medroksiprogesteron yang digunakan untuk tujuan kontrasepsi perenteral,
mempunyai efek progestagen yang kuat dan sangat efektif.Noresterat juga
termasuk dalam golongan ini.
(2) Jenis
KB suntik
Jenis-jenis KB suntik
yang sering digunakan diindonesia antara lain:
(a) Suntik/1
bulan, contoh: Cyclofem
(b) Suntikan/3
bulan, contoh: Depo Medroksiprogesteron setat, (DMPA), Depo Noretisteron Enatat
(Depo Noristerat)
(3) Mekanisme
kerja
(1) Mecegah
ovulasi
(2) Mengentalkan
lendir serviks dan menjadi sedikit sehingga menurunkan kemampuan penetrasi
sperma .
(3) Menjadikan
selaput lendir rahim tipis dan atropi
(4) Menghambat
transportasi gamet dan tuba
(5) Mengubah
endoetrium menjadi tidak sempurna untuk implantasi hasil konsepsi
(4) Keuntungan
atau kelebihan
Keuntungan atau
kelebihan dari metode kontrasepsi suntik ini antara lain:
(1) Sangat
efektif
(2) Pencegahan
kehamilan jangka panjang
(3) Tidak
memiliki pengaruh pada ASI
(4) Klien
tidak perlu menyimpan obat suntik
(5) Dapat
digunakan oleh perempuan usia > 35 tahun sampai per imenopause
(6) Membantu
mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik
(7) Menurunkan
kejadian penyakit jinak payudara
(8) Menurunkan
krisis anemia bulan sabit (sickle cell)
(9) Mencegah
beberapa penyebab penyakit radang paggul
(5) Kerugian
atau efek samping
(a) Gangguan
haid seperti siklus haid memendek atau memanjang, perdarahan
(b) Yang
banyak atau sedikit, spotting tidak haid sama sekali
(c) Tidak
dapat dihentikkan sewaktu-waktu
(d) Permasalahan
berat badan merupakan efek samping tersering
(e) Terlambatnya
kembali kesuburan setelah penghentiam pemakaian
(f) Terjadi
perubahan pada lipid serum pada penggunaan jangka panjang
(g) Pada
penggunaan jangka panjang dapat menurunkan kepadatan tulang (densitas)
(h) Pada
penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan pada vagina, menurunkan
libido, gangguan emosi (jarang), sakit kepala, nervositas, dan jerawat.
(6) Yang
dapat menggunakan kontrasepsi suntikan progestin/DMPA
(a) Usia
reproduksi
(b) Nulipara
dan yang telah memiliki anak
(c) Menghendaki
kontrasepsi
(d) Menyusui
dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai
(e) Setelah
abortus atau keguguran
(f) Telah
banyak anak, tetapi belum menghendaki tubektomi
(g) Tidak
dapat memakai kontrasepsi yang mengandung estrogen
(h) Menggunakan
obat untuk epilepsy (fenition dan barbiturat)
(i) Obat
tuberculosis (rifampisin)
(j) Tekanan
darah < 180/110 mmHg, dengan masalah gangguan pembekuan
(k) Darah,
anemia bulan sabit dan anemia defisiensi besi
(7) Yang
tidak boleh menggunakan kontrasepsi suntikan progestin/DMPA
(a) Hamil
atau dicurigai hamil
(b) Perdarahan
pervaginam yang belum jelas penyebabnya
(c) Tidak
dapat menerima terjadinya gangguan haid, teruatama amenore
(d) Menderita
kanker payudara ata riwayat kenker payudara
(e) Diabetes
mellitus disertai komplikasi (peningkatan libido, kulit dan kulit kepala berminyak,
ruam dan pruritus, edema.
c) Implan
Kontrasepsi implan
adalah metode kontrasepsi yang diinsersikan pada bagian subdermal, yang hanya
mengandung progestin dengan masa kerja panjang, dosis rendah dan reversibel
untuk wanita.
(1) Cara
kerja
(a) Lendir
serviks menjadi kental
(b) Mengganggu
proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi implantasi
(c) Mengurangi
transportasi sperma
(d) Menekan
ovulasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar