Kamis, 28 November 2019

BAB II Part 3


(1)      Jenis-jenis implan
Jenis-jenis kontrasepsi implan
(a)      Norplant
Implan ini terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga dengan panjang 3,4 cm, dengan diameter 2,4 mm, yang diisi dengan 36 mg levonorgestrel dan lama kerjanya5 tahun. Pelepasan hormon setiap harinya berkisar antara 50-85 mcg pada satu tahun pertama penggunaan, kemudian menurun sampai 30-35 mcg perhari untuk 5 tahun berikutnya
(b)     Implanon
Terdiri dari satu batang putih lentur yang berisi progestin generasi ketiga, yang di masukan ke dalam inserter steril dan sekali pakai/disposable, dengan panjang kira-kira 40 mm, dan diameter 2 mm, terdiri dari suatu inti EVA (Ethylene Vinyl Acetate) yang berisi 68 mg 3-keto-desogestrel dan lama kerjanya 3 tahun. Pada hari-hari pemasangan pertama hormon yang diplepaskan adalah 60 mcg per hari, dan perlahan-lahan turun menjadi 30 mcg per hari selama masa kerjanya.
(c)      Jadena dan indoplant
Terdiri dari 2 batang yang diisi dengan 75 mg levonorgestrel dengan lama kerja  tahun.



(d)     Uniplant
Terdiri dari 1 batang putih silastic dengan panjang 4 cm, yang mengandung 38 mg nomegestrol asetat dengan kecepatan pelepasan sebesar 100 µg per hari dan lama kerja 1 tahun.
(e)      Capronor
Terdiri dari 1 kapsul biodegradable.Biodegradable implan melepaskan progestin dari bahan pembawa/pengangkut yang secara perlahan-lahan larut dalam jaringan tubuh.Sehingga tidak perlu dikeluarkan misal pada norplant.Tingkat penggunaan kontrasepsi implan dapat diperbaiki dengan mengilangkan kebutuhuan terhadap pengangkatan secara bedah.Kapsul ini mengandung levonorgestrel dan terdiri dari polimer E-kaprolakton. Mempunyai diameter 0,24 cm, terdiri dari dua ukuran dengan panjang 2,5 cm mengandung 16 mg levonogesterl, dan kapsul dengn panjang 4 cm yang mengandung 26 mg levonogestrel. Lama kerja 12-18 bulan. Kecepatan pelepasan levonogestrel dari kaprolakton adalah 10 kali lebih cepat dibandingkan silastic.
(2)      Efektifitas
Keefektifitasan dari implan berkisar 1-3 %.
(3)   Keuntungan
(a)      Daya guna tinggi
(b)     Perlindungan jangka panjang (sampai 5 tahun)
(c)      Pengembalian kesuburan yang ceoat
(d)     Tidak memerlukan pemeriksaan dalam
(e)      Bebas dari pengaruh estrogen
(f)      Tidak mengganggu kegiatan senggama
(g)     Tidak mengganggu ASI
(h)     Mengurangi/memperbaiki anemia
(i)       Klien hanya kembali ke klinik bila ada keluhan
(j)       Dapat dicabut setiap saat
(k)     Mengurangi jumlah darah haid
(4)      Kerugian
(a)      Nyeri kepala
(b)     Peningkatan berat badan
(c)      Perdarahan yang tidak teratur dengn berat badan
(d)     Jerawat
(e)      Perubahan perasaan(mood) atau kegelisahan (nervousness)
(f)      Membutuhkan tindak pembedahan minor untuk insersi dan pencabutan
(g)     Tidak memberikan efek protektif terhadap infeksi menular seksual termasuk AIDS
(h)     Klien tidak dapat menghentikan sendiri peakaian kontrasepsi
(i)       Efektivitas menurun bila menggunkan obat-obatan tuberculosis (rifampisin) atau epilepsy (fenitoin dan barbiturat)
a)    Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR)
Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) atau yang biasa disebut dengan Intra Uterin Device (IUD) adalah alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam rahin yang bentuknya bermacam-macam, terdiri dari plastik (polyrthyline).Ada yang dililit tembaga (CU), adapula yang tidak, adapula yang dililit tembaga bercampur perak (Ag).Selain itu ada pula yang batangnya berisi hormon progesteron.
1)        Jenis
(a)      IUD generasi pertama
Disebut Lippesloop, berbentuk spiral atau huruf S ganda, terbuat dari plastik (Poyethyline).
(b)     IUD generasi kedua
(1)     CU T 200 B
Berbentuk T yang batangnya dililit tembaga (Cu) dengan kandungan tembaga.
(2)     Cu 7
Berbentuk angka 7 yang batangnya dililit tembaga.
(3)     ML Cu 250
Berbentuk 3/3 lingkaran elips yang bergerigi yang batangnya dililit tembaga.
(c)      IUD generasi kedua
(1)     Cu T 380 A
Berbentuk huruf T dengan lilitan tembaga yang lebih banyak perak.
(2)     MI Cu 375
Batangnya dililit tembaga berlapis perak.
(3)     Nova T Cu 200 A
Batang dan lengannya dililit tembaga.
(d)     IUD generasi keempat
Ginefix, merupakan AKDR tanpa rangka, terdiri dari benang polipropilen monofilament dengan enam butir tembaga.
(1)   Cara kerja
Ada beberapa cara kerja IUD yang dikenal selama ini:
a)    Timbulnya reaksi radang lokal yang non spesifik di dalam cavum uteri sehingga implantasi sel telur yang telah dibuahi terganggu
b)   Produksi lokal prostaglandin yang meninggi, yang menyebabkan terhambatnya implantasi
c)    Gangguan/terlepasnya blastocyst I yang telah berimplantaasi di dalam endometrium
d)   Pergerakan ovum yang bertambah cepat di dalam tuba fallop
e)    Immobilisasispermatozoa saat melewati cavum uteri
2)        Keuntungan
(a)      Sebagai kontrasepsi, efektivitasnya tinggi
       Sangat efektif       0,68-0,8 kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun pertama (kegagalan dalam 125-170 kehamilan)
(b)     AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan
(c)      Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu diganti
(d)     Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat
(e)      Tidak mempengaruhi hubungan seksual
(f)      Meningkatkankenyamanan seksual karena tidak perlu takut hamil
(g)     Tidak ada efek samping bermaksud dengan Ca AKDR (CuT-380A)
(h)     Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
(i)       Dapat dipasang segera setelah melahitkan atau sesudah abortus (apabila tidak terjadi infeksi)
(j)       Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih setelah haid terakhir)
(k)     Tidak ada interaksi dengan obat-obat.
(l)       Membantu mencegah kehamilan ektopik
3)        Keterbatasan
(a)      Diperlukan pemeriksaan dalam dan penyaringan infeksi genetalia sebelum pemasangan IUD
(b)     Diperlukan tenaga terlatih untuk pemasangan dan pencabutan IUD
(c)      Klien tidak dapt menghentikan sendiri setiap saat
(d)     Pada penggunaan jangka panjang bisa terjadi aminorhea
(e)      Dapat terjadi perforasi uterus pada saat insersi
(f)      Kejadian kehamilan ektopik relatif tinggi
(g)     Bertambahnya resiko mendapat penyakit radang panggul
(h)     Terjadi perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pemakaian)
(i)       Tidak bisa mencegah IMS termasuk HIV/AIDS
(j)       Klien harus memeriksa posisi benang IUD, sedangkan beberapa perempuan tidak mau melakukan ini

A.  Standar Asuhan Kebidanan
1.    Pengertian Standar Asuhan Kebidanan
Standar asuhan kebidanan adalah acuan dalam proses pengambilan keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh bidan dengan wewenang dan ruang lingkup praktiknya berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan. Mulai dari pengkajian, perumusan diagnose dan atau kebidanan, perencanaan, implementasi, evaluasi dan pencatatan asuhan kebidanan (Kepmenkes, 2015).
a.       Standar I : Pengkajian
b.      Standar II : Perumusan Diagnosa dan atau Masalah Kebidanan
c.       Standar III: Perencanaan
d.      Standar IV: Implementasi
e.       Standar V : Evaluasi
f.       Standar VI : Pencatatan Asuhan Kebidanan

B.  Asuhan Kebidanan
1.      Kehamilan
a.      Pengkajian
Data Subjektif
1)      Nama
Selain sebagai identitas, upayakan agar bidan memanggil dengan nama panggilan sehingga hubungan komunikasi antara bidan dan pasien menjadi lebih akrab  (Sulistyawati, 2012, h. 220).
2)      Umur
Umur perlu dikaji untuk mengetahui apakah ibu termasuk resiko tinggi/tidak (Sondakh, 2013, h. 162).
3)      Agama
Sebagai dasar bidan dalam memberikan dukungan mental dan spiritual terhadap pasien dan keluarga sebelum dan pada saat persalinan (Sulistyawati, 201, h. 221).
4)      Suku/bangsa
Data ini berhubungan dengan sosial budaya yang dianut oleh pasien dan keluarga  (ibid, 2012, h. 221).
5)      Pendidikan
Sebagai dasar bidan dalam menentukan metode yang paling tepat dalam penyampaian informasi. Tingkat pendidikan ini akan sangat mempengaruhi daya tangkap dan tanggap pasien terhadap instruksi yang diberikan bidan.
6)      Pekerjaan
Data ini menggambarkan tingkat sosial ekonomi, pola sosialisasi, dan data pendukung dalam menentukan pola komunikasi yang akan dipilih selama asuhan.
7)      Alamat
Selain sebagai data mengenai distribusi lokasi pasien, data ini juga memberi gambaran mengenai jarak dan waktu yang ditempuh pasien menuju lokasi fasiltas pelayanan kesehatan.
8)      Keluhan utama
Keluhan utama ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang ke fasilitas pelayanan kesehatan (Sulistyawati, 2013, h. 181).
9)      Riwayat menstruasi
Data ini memang tidak secara langsung berhubungan dengan masa kehamilan, namun dari data ini kita akan mempunyai gambaran tentang keadaan dasar dari organ reproduksinya
10)  Gangguan kesehatan reproduksi
Data ini sangat penting untuk digali karena akan memberikan petunjuk bagi kita tentang organ reproduksinya. Ada beberapa penyakit organ reproduksi yang berkaitan  erat dengan personal hygiene pasien, atau kebiasaan lain yang tidak mendukung kesehatan reproduksinya.
11)  Riwayat kesehatan
Dari data riwayat kesehatan ini dapat kita gunakan sebagai “warning” akan adanya penyulit. beberapa data penting tentang riwayat kesehatan pasien yang perlu diketahui adalah apakah pasien pernah atau sedang menderita penyakit seperti jantung, diabetes mellitus, ginjal, hipertensi, hipotensi, hepatitis, atau anemia.
12)  Pola kebutuhan sehari-hari
a)      Pola makan
Ini penting untuk dikaji supaya kita mendapatkan gambaran bagaimana pasien mencukupi asupan gizinya selama hamil.
b)      Pola istirahat
Istirahat sangat diperlukan oleh ibu hamil. Oleh karena itu, bidan menggali kebiasaan istirahat klien supaya diketahui hambatan yang mungkin muncul jika didapatkan data yang senjang tentang kebutuhan istirahat. Bidan dapat menanyakan tentang berapa lama tidur di malam dan siang hari. Rata-rata tidur malam 6-8 jam, tidak semua wanita hamil mempunyai kebiasaan tidur siang. Oleh karena itu, dapat kita sampaikan bahwa tidur siang sangat penting untuk menjaga kesehatan selama hamil.
c)      Aktivitas sehari-hari
Kita perlu mengkaji aktivitas sehari-hari pasien karena data ini memberikan gambaran tentang seberapa berat aktivitas yang biasa dilakukan pasien dirumah.Jika kegiatan pasien terlalu berat sampai dikhawatirkan dapat menimbulkan penyulit masa hamil.

Data objektif
a.       Keadaan umum
Data ini didapat dengan mengamatikeadaan pasien secara keseluruhan. Hasil pengamatan kita laporkan dengan kriteria sebagai berikut.
1)   Baik
Jika klien memperlihatkan respons yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, serta secara fisik klien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan. (Sulistyawati 2013,h.188)
b.      Kesadaran
Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien, kita dapat melakukan pengkajian tingkat kesdaran mulai dari keadaan composmetris (keadaan maksimal) sampai dengan koma (pasien tidak dalam keadaan sadar)(Sulistyawati2013,h.189)
c.       Tanda-tanda vital
Dilakukan pemeriksaan tanda-tnda vital untuk memantau tekanan darah, frekuensi nadi, suhu, dan pernapasan pada ibu bersalin (Sulistyawati, 2012).
d.      Tinggi badan
Pengukuran tinggi badan untuk mendeteksi masalah penapisan kelainan panggul dengan tinggi badan kurang dari 145 cm. (Sulistyawati,Op.cit,h.6)
e.       Berat badan
Penimbangan berat badan pada setiap  kali kunjungan antenatal dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan pertumbuhan janin.(Mandang,et al.,Op.cit,h.204).
Rata-rata  kenaikan berat badan Selama hamil adalah 10-20 Kg atau  minimal 20 % dari berat badan ideal sebelum hamil. (Ibid,h.86) dan 0,5 kg/minggu pada kehamilan trimester II sampai III. (Sulistyawati,Op.cit.h.69)
f.       LILA
Pengukuran LILA hanya dilakukan pada kontak pertama untuk skrining ibu hamil berisiko kurang energi kronis (KEK). Kurang energi kronik disini maksudnya ibu hamil yang mengalami kekurangan gizi dan telah berlangsung lama dimana LILA kurang dari 23,5 cm. (Mandang,et al.,Lot.cit,h.205)
g.      Abdomen
Untuk mengetahui bentuk, ada bekas luka operasi atau tidak, striae, linea, TFU, hasil pemeriksaan palpasi Leopold, TBJ, dan DJJ.
h.      Pemeriksaan labolatorium
Nilai ambang batas yang digunakan untuk menentukan status enemia ibu hamil, didasarkan pada krieria WHO tahun 1972 ditetapkan 3 kategori yaitu : normal >11 gr/dl, ringan 8-11 gr/dl, berat <8 gr/dl (Rukiyah dan Yulianti, 2014,h.115)

b.      Interpretasi Data Dasar
a.       Diagnosa kebidanan
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap  diagnosis, masalah, dan kebutuhan pasien berdasarkan intrerpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Langkah awal dari perumusan diagnosis atau masalah adalah pengolahan data analisis dengan menggabungkan data satu dengan data lainnya sehingga tergambar fakta (Sulistyawati 2013 )
b.      Masalah
Dalam asuhan kebidanan istilah “masalah” dan “diagnosis” dipakai keduanya karena beberapa masalah tidak dapat didefinisaikan sebagai diagnosis, tetapi perlu dipertimbangkan untuk membuat rencana yang menyeluruh. Masalah sering berhubungan dengan bagaimana wanita itu mengalami kenyataan terhadap dignosisnya.
c.       Kebutuhan
Dalam bagian ini bidan menentukan kebutuhan pasien berdasarkan keadaan dan masalahnya.
c.       Merumuskan Diagnosa/Masalah Potensial
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosis potensial lain berdasarkan rangkaian masalah yang lain juga. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil terus mengamati kondisi klien. Bidan diharapkan bersiap-siap  bila diagnosis atau masalah potensial benar-benar terjadi.
d.      Antisipasi Masalah Potensial
Pada langkah ini bidan mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosis potensial berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi bila memungkinkan dilakukan pencegahan sambil mengawasi pasien bidan bersiap-siap bila masalah potensial benar-benar terjadi.


e.       Merencanakan Asuhan Kebidanan
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh berdasarkan langkah sebelumnya. Semua perencanaan yang dibuat harus berdasarkan pertimbangan yang tepat, meliputi pengetahuan, teori yang up to date, perawatan berdasarkan bukti (evidence based care), serta divalidasikan dengan asumsi mengenai apa yang diinginkan dan tidak diinginkan oleh pasien.
f.       Pelaksanaan Asuhan Kebidanan
Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman.
g.      Evaluasi
Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan asuhan yang kita berikan kepada pasien.

2.      Persalinan
a.      Pengkajian data
1)      Keluhan utama
Keluhan utama ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang ke fasilitas pelayanan kesehatan. (Sulistyawati,Op.cit,h.181).
2)      Pola makan
Data ini penting untuk diketahui agar bisa mendapatkan gambaran bagaimana pasien mencukupi asupan gizinya selama hamil sampai dengan masa awal persalinan. Data fokus mengenai asupan makanan paisen adalah kapan atau jam berapa terakhir kali makan, makanan yang dimakan, jumlah makanan yang dimakan, seandainya saat ini ingin makan, apa yang ia inginkan sebelum masuk pada fase persalinan dimana ia tidak akan mungkin atau tidak ingin lagi untuk makan (Sulistyawati, 2012
3)      Pola minum
Pada masa persalinan, data mengenai intake cairan saangat penting karena akan menentukan kecenderungan terjadinya dehidrasi. Data yang kita tanyakan berkaitan dengan intake cairan adalah kapan terakhir kali minum, berapa banyak yang diminum, apa yang diminum.
4)      Pola istirahat
Istirahat sangat diperlukan oleh pasien untuk mempersiapkan energy menghadapi proses persalinannya, hal ini akan lebih penting lagi jika proses persalinannya, hal ini akan lebih penting lagi jika proses persalinannya mengalami pemanjangan waktu pada kala I. Data yang perlu ditanyakan yang berhubunngan dengan istirahat  pasien adalah kapan terakhir tidur dan berapa lama.
5)      Aktivitas seksual
Data yang kita perlukan berkaitan dengan aktivitas seksual adalah keluhan, frekuensi, kapan terakhir melakukan hubungan seksual.
6)      Pemeriksaan umum
a)      Keadaan umum
Untuk mengetahui data ini kita cukup dengan mengetahui keadaan pasien secara menyeluruh. (Sulistyawati,Op.cit,h.188)
b)      Tanda-tanda vital
Dilakukan pemeriksaan tanda-tnda vital untuk memantau tekanan darah, frekuensi nadi, suhu, dan pernapasan pada ibu bersalin (Sulistyawati, 2012).
c)      Pemeriksaan abdomen
Pemeriksaan abdomen bertujuan untuk menentukan tinggi fundus uteri, memantau kontrasi uterus, memantau denyut jantung janin, menentukan presentasi,dan menentukan penurunan bagian terbawah janin (Sondakh, 2013, h. 107).
i.          Pemeriksaan dalam
Pemeriksaan dalam adalah pemeriksaan genetalia bagian dalam mulai dari vagina sampai serviks menggunakan dua jari, yang salah satu tehniknya adalah dengan menggunakan skala ukur jari (lebar 1 jari berarti 1 cm) untuk menentukan dilatasi serviks(porsio) (Sulistyawati, 2012).
b.      Interprestasi data
Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi data secara benar terhadap diagnosis atau masalah kebutuhan pasien. Masalah atau diagnosis yang spesifik dapat ditemukan berdasarkan interprestasi yang benar terhadap data dasar (Wildan dan Hidayat,2013,h,37). 

c.       Identifikasi diagnose dan masalah potensial
Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi masalah atau diagnosis potensial yang lain berdasarkan beberapa masalah dan diagnosis yang sudah diidentifikasi (Wildan dan Hidayat,2013,h,37).

d.      Identifikasi dan menetapkan kebutuhan yang memerlukan penanganan segera
Tahap ini dilakukan oleh bidan dengan melakukan identifikasi dan menetapkan beberapa kebutuhan setelah diagnosis dan masalah ditegakkan. (Wildan dan Hidayat,2013,h,38).  
e.       Perencanaan asuhan secara menyeluruh
Setelah beberapa kebutuhan pasien ditetapkan, diperlukan perencanaan secara menyeluruh terhadap masalah dan diagnosis yang ada (Wildan dan Hidayat,2013,h,38).
f.       Pelaksanaan
Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan dari semua rencana sebelumnya, baik terhadap masalah pasien ataupun diagnosis yang ditegakkan (Wildan dan Hidayat,2013, h.39).
g.      Evalusi
Merupakan tahap terakhir dalam manajemen kebidanan, yakni dengan melakukan evaluasi dari perancanaan maupuan pelaksanaan yang dilakukan bidan. Evaluasi sebagai bagian dari proses yang dilakukan secara terus-menerus untuk meningkatkan pelayanan secara komprehensif dan selalu berubah sesuai dengan kondisi atau kebutuhan klien. (Ibid,h,39).
3.      Nifas
a.      Pengkajian data
Data Subjektif
1)      Keluhan utama
Keluhan utama ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang kefasilitas pelayanan kesehatan (Sulistyawati,Op.cit,h.181).
Data Objektif
1)        Keadaaan umum
Data ini didapat dengan mengamati keadaan pasien secara keseluruhan, hasil pengamatan baik jika klien memperlihatkan respons  yang baik terhadap lingkunagn dan orang lain, serta secara fisik klien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan. (sulistyawati, 2013).
2)      Kesadaran
Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien, kita dapat melakukan pengkajian derajat kesadaran pasien dari keadaan komposmentis (kesadaran maksimal) sampai  dengan koma (pasien tidak dalam keadaan sadar) (sulistyawati, 2012)
3)      Tanda-tanda vital
Dilakukan pemeriksaan tanda-tnda vital untuk memantau tekanan darah, frekuensi nadi, suhu, dan pernapasan pada ibu nifas (Sulistyawati, 2013).
4)      Payudara
Dilakukan pemeriksaan payudara untuk mengetahuai keadaan payudara dan putting susu (Dewi, 2013).
5)      Abdomen
Dilakukan pemeriksaan abdomen untuk mengetahui keadaan kandung kemih, uterus, dan TFU (dewi, 2013).
6)      Anogenital
Dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui jenis lokia, keadaan bekas luka jahitan pada perineum, tanda-tanda infeksi dan haemorid (Dewi, 2013).
b.      Interprestasi data
Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi data secara benar terhadap diagnosis atau masalah kebutuhan pasien. Masalah atau diagnosis yang spesifik dapat ditemukan berdasarkan interprestasi yang benar terhadap data dasar (Wildan dan Hidayat,2013,h,37).  
c.       Identifikasi diagnose dan masalah potensial
Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi masalah atau diagnosis potensial yang lain berdasarkan beberapa masalah dan diagnosis yang sudah diidentifikasi (Wildan dan Hidayat,2013,h,37).
d.      Identifikasi dan menetapkan kebutuhan yang memerlukan penanganan segera
Tahap ini dilakukan oleh bidan dengan melakukan identifikasi dan menetapkan beberapa kebutuhan setelah diagnosis dan masalah ditegakkan. (Wildan dan Hidayat,2013,h,38).  
e.       Perencanaan asuhan secara menyeluruh
Setelah beberapa kebutuhan pasien ditetapkan, diperlukan perencanaan secara menyeluruh terhadap masalah dan diagnosis yang ada (Wildan dan Hidayat,2013,h,38).


f.       Pelaksanaan
Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan dari semua rencana sebelumnya, baik terhadap masalah pasien ataupun diagnosis yang ditegakkan (Wildan dan Hidayat,2013,h,39).
g.      Evalusi
Merupakan tahap terakhir dalam manajemen kebidanan, yakni dengan melakukan evaluasi dari perancanaan maupuan pelaksanaan yang
dilakukan bidan. Evaluasi sebagai bagian dari proses yang dilakukan secara terus-menerus untuk meningkatkan pelayanan secara komprehensif dan selalu berubah sesuai dengan kondisi atau kebutuhan klien. (Ibid,h,39).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar