(1) Jenis-jenis
implan
Jenis-jenis kontrasepsi
implan
(a) Norplant
Implan ini terdiri dari
6 batang silastik lembut berongga dengan panjang 3,4 cm, dengan diameter 2,4
mm, yang diisi dengan 36 mg levonorgestrel dan lama kerjanya5 tahun. Pelepasan
hormon setiap harinya berkisar antara 50-85 mcg pada satu tahun pertama
penggunaan, kemudian menurun sampai 30-35 mcg perhari untuk 5 tahun berikutnya
(b) Implanon
Terdiri dari satu
batang putih lentur yang berisi progestin generasi ketiga, yang di masukan ke
dalam inserter steril dan sekali pakai/disposable,
dengan panjang kira-kira 40 mm, dan diameter 2 mm, terdiri dari suatu inti
EVA (Ethylene Vinyl Acetate) yang
berisi 68 mg 3-keto-desogestrel dan lama kerjanya 3 tahun. Pada hari-hari
pemasangan pertama hormon yang diplepaskan adalah 60 mcg per hari, dan
perlahan-lahan turun menjadi 30 mcg per hari selama masa kerjanya.
(c) Jadena
dan indoplant
Terdiri dari 2 batang
yang diisi dengan 75 mg levonorgestrel dengan lama kerja tahun.
(d) Uniplant
Terdiri dari 1 batang
putih silastic dengan panjang 4 cm, yang mengandung 38 mg nomegestrol asetat
dengan kecepatan pelepasan sebesar 100 µg per hari dan lama kerja 1 tahun.
(e) Capronor
Terdiri dari 1 kapsul
biodegradable.Biodegradable implan melepaskan progestin dari bahan
pembawa/pengangkut yang secara perlahan-lahan larut dalam jaringan
tubuh.Sehingga tidak perlu dikeluarkan misal pada norplant.Tingkat penggunaan
kontrasepsi implan dapat diperbaiki dengan mengilangkan kebutuhuan terhadap
pengangkatan secara bedah.Kapsul ini mengandung levonorgestrel dan terdiri dari
polimer E-kaprolakton. Mempunyai diameter 0,24 cm, terdiri dari dua ukuran
dengan panjang 2,5 cm mengandung 16 mg levonogesterl, dan kapsul dengn panjang
4 cm yang mengandung 26 mg levonogestrel. Lama kerja 12-18 bulan. Kecepatan
pelepasan levonogestrel dari kaprolakton adalah 10 kali lebih cepat
dibandingkan silastic.
(2) Efektifitas
Keefektifitasan dari
implan berkisar 1-3 %.
(3) Keuntungan
(a) Daya
guna tinggi
(b) Perlindungan
jangka panjang (sampai 5 tahun)
(c) Pengembalian
kesuburan yang ceoat
(d) Tidak
memerlukan pemeriksaan dalam
(e) Bebas
dari pengaruh estrogen
(f) Tidak
mengganggu kegiatan senggama
(g) Tidak
mengganggu ASI
(h) Mengurangi/memperbaiki
anemia
(i) Klien
hanya kembali ke klinik bila ada keluhan
(j) Dapat
dicabut setiap saat
(k) Mengurangi
jumlah darah haid
(4) Kerugian
(a) Nyeri
kepala
(b) Peningkatan
berat badan
(c) Perdarahan
yang tidak teratur dengn berat badan
(d) Jerawat
(e) Perubahan
perasaan(mood) atau kegelisahan (nervousness)
(f) Membutuhkan
tindak pembedahan minor untuk insersi dan pencabutan
(g) Tidak
memberikan efek protektif terhadap infeksi menular seksual termasuk AIDS
(h) Klien
tidak dapat menghentikan sendiri peakaian kontrasepsi
(i) Efektivitas
menurun bila menggunkan obat-obatan tuberculosis (rifampisin) atau epilepsy
(fenitoin dan barbiturat)
a) Alat
kontrasepsi dalam rahim (AKDR)
Alat kontrasepsi dalam
rahim (AKDR) atau yang biasa disebut dengan Intra
Uterin Device (IUD) adalah alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam rahin
yang bentuknya bermacam-macam, terdiri dari plastik (polyrthyline).Ada yang dililit tembaga (CU), adapula yang tidak,
adapula yang dililit tembaga bercampur perak (Ag).Selain itu ada pula yang
batangnya berisi hormon progesteron.
1)
Jenis
(a) IUD
generasi pertama
Disebut Lippesloop,
berbentuk spiral atau huruf S ganda, terbuat dari plastik (Poyethyline).
(b) IUD
generasi kedua
(1) CU
T 200 B
Berbentuk T yang
batangnya dililit tembaga (Cu) dengan kandungan tembaga.
(2) Cu
7
Berbentuk angka 7 yang
batangnya dililit tembaga.
(3) ML
Cu 250
Berbentuk 3/3 lingkaran
elips yang bergerigi yang batangnya dililit tembaga.
(c) IUD
generasi kedua
(1) Cu
T 380 A
Berbentuk huruf T
dengan lilitan tembaga yang lebih banyak perak.
(2) MI
Cu 375
Batangnya dililit
tembaga berlapis perak.
(3) Nova
T Cu 200 A
Batang dan lengannya
dililit tembaga.
(d) IUD
generasi keempat
Ginefix, merupakan AKDR
tanpa rangka, terdiri dari benang polipropilen monofilament dengan enam butir
tembaga.
(1) Cara
kerja
Ada beberapa cara kerja
IUD yang dikenal selama ini:
a)
Timbulnya reaksi radang
lokal yang non spesifik di dalam cavum uteri sehingga implantasi sel telur yang
telah dibuahi terganggu
b)
Produksi lokal
prostaglandin yang meninggi, yang menyebabkan terhambatnya implantasi
c)
Gangguan/terlepasnya blastocyst I yang telah berimplantaasi
di dalam endometrium
d)
Pergerakan ovum yang
bertambah cepat di dalam tuba fallop
e)
Immobilisasispermatozoa
saat melewati cavum uteri
2)
Keuntungan
(a) Sebagai
kontrasepsi, efektivitasnya tinggi
(b) AKDR
dapat efektif segera setelah pemasangan
(c) Metode
jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu diganti
(d) Sangat
efektif karena tidak perlu lagi mengingat
(e) Tidak
mempengaruhi hubungan seksual
(f) Meningkatkankenyamanan
seksual karena tidak perlu takut hamil
(g) Tidak
ada efek samping bermaksud dengan Ca AKDR (CuT-380A)
(h) Tidak
mempengaruhi kualitas dan volume ASI
(i) Dapat
dipasang segera setelah melahitkan atau sesudah abortus (apabila tidak terjadi
infeksi)
(j) Dapat
digunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih setelah haid terakhir)
(k) Tidak
ada interaksi dengan obat-obat.
(l) Membantu
mencegah kehamilan ektopik
3)
Keterbatasan
(a) Diperlukan
pemeriksaan dalam dan penyaringan infeksi genetalia sebelum pemasangan IUD
(b) Diperlukan
tenaga terlatih untuk pemasangan dan pencabutan IUD
(c) Klien
tidak dapt menghentikan sendiri setiap saat
(d) Pada
penggunaan jangka panjang bisa terjadi aminorhea
(e) Dapat
terjadi perforasi uterus pada saat insersi
(f) Kejadian
kehamilan ektopik relatif tinggi
(g) Bertambahnya
resiko mendapat penyakit radang panggul
(h) Terjadi
perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pemakaian)
(i) Tidak
bisa mencegah IMS termasuk HIV/AIDS
(j) Klien
harus memeriksa posisi benang IUD, sedangkan beberapa perempuan tidak mau
melakukan ini
A.
Standar Asuhan Kebidanan
1.
Pengertian
Standar Asuhan Kebidanan
Standar
asuhan kebidanan adalah acuan dalam proses pengambilan keputusan dan tindakan
yang dilakukan oleh bidan dengan wewenang dan ruang lingkup praktiknya
berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan. Mulai dari pengkajian, perumusan diagnose
dan atau kebidanan, perencanaan, implementasi, evaluasi dan pencatatan asuhan
kebidanan (Kepmenkes, 2015).
a.
Standar
I : Pengkajian
b.
Standar
II : Perumusan Diagnosa dan atau Masalah Kebidanan
c.
Standar
III: Perencanaan
d.
Standar
IV: Implementasi
e.
Standar
V : Evaluasi
f.
Standar
VI : Pencatatan Asuhan Kebidanan
B.
Asuhan Kebidanan
1. Kehamilan
a.
Pengkajian
Data Subjektif
1) Nama
Selain
sebagai identitas, upayakan agar bidan memanggil dengan nama panggilan sehingga
hubungan komunikasi antara bidan dan pasien menjadi lebih akrab (Sulistyawati, 2012, h. 220).
2) Umur
Umur perlu dikaji untuk
mengetahui apakah ibu termasuk resiko tinggi/tidak (Sondakh, 2013, h. 162).
3) Agama
Sebagai
dasar bidan dalam memberikan dukungan mental dan spiritual terhadap pasien dan
keluarga sebelum dan pada saat persalinan (Sulistyawati, 201, h. 221).
4) Suku/bangsa
Data
ini berhubungan dengan sosial budaya yang dianut oleh pasien dan keluarga (ibid, 2012, h. 221).
5) Pendidikan
Sebagai
dasar bidan dalam menentukan metode yang paling tepat dalam penyampaian
informasi. Tingkat pendidikan ini akan sangat mempengaruhi daya tangkap dan
tanggap pasien terhadap instruksi yang diberikan bidan.
6) Pekerjaan
Data
ini menggambarkan tingkat sosial ekonomi, pola sosialisasi, dan data pendukung
dalam menentukan pola komunikasi yang akan dipilih selama asuhan.
7) Alamat
Selain
sebagai data mengenai distribusi lokasi pasien, data ini juga memberi gambaran
mengenai jarak dan waktu yang ditempuh pasien menuju lokasi fasiltas pelayanan
kesehatan.
8) Keluhan utama
Keluhan
utama ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang
ke fasilitas pelayanan kesehatan (Sulistyawati, 2013, h. 181).
9) Riwayat menstruasi
Data ini memang tidak secara langsung berhubungan dengan masa kehamilan,
namun dari data ini
kita akan mempunyai gambaran tentang keadaan dasar dari organ reproduksinya
10) Gangguan kesehatan reproduksi
Data
ini sangat penting untuk digali karena akan memberikan petunjuk bagi kita
tentang organ reproduksinya. Ada beberapa penyakit organ reproduksi yang
berkaitan erat dengan personal hygiene
pasien, atau kebiasaan lain yang tidak mendukung kesehatan reproduksinya.
11) Riwayat kesehatan
Dari
data riwayat kesehatan ini dapat kita gunakan sebagai “warning” akan adanya penyulit. beberapa
data penting tentang riwayat kesehatan pasien yang perlu diketahui adalah
apakah pasien pernah atau sedang menderita penyakit seperti jantung, diabetes
mellitus, ginjal, hipertensi, hipotensi, hepatitis, atau anemia.
12) Pola kebutuhan sehari-hari
a) Pola makan
Ini
penting untuk dikaji supaya kita mendapatkan gambaran bagaimana pasien
mencukupi asupan gizinya selama hamil.
b) Pola istirahat
Istirahat sangat diperlukan oleh ibu hamil. Oleh karena itu, bidan menggali
kebiasaan istirahat klien supaya diketahui hambatan yang mungkin muncul jika
didapatkan data yang senjang tentang kebutuhan istirahat. Bidan dapat
menanyakan tentang berapa lama tidur di malam dan siang hari. Rata-rata tidur
malam 6-8 jam, tidak semua wanita hamil mempunyai kebiasaan tidur siang. Oleh
karena itu, dapat kita sampaikan bahwa tidur siang sangat penting untuk menjaga
kesehatan selama hamil.
c) Aktivitas sehari-hari
Kita perlu mengkaji aktivitas sehari-hari pasien karena data ini memberikan
gambaran tentang seberapa berat aktivitas yang biasa dilakukan pasien
dirumah.Jika kegiatan pasien terlalu berat sampai dikhawatirkan dapat
menimbulkan penyulit masa hamil.
Data objektif
a. Keadaan umum
Data
ini didapat dengan mengamatikeadaan pasien secara keseluruhan. Hasil pengamatan kita laporkan dengan
kriteria sebagai berikut.
1)
Baik
Jika klien memperlihatkan respons yang baik terhadap lingkungan dan orang
lain, serta secara fisik klien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan. (Sulistyawati
2013,h.188)
b.
Kesadaran
Untuk
mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien, kita dapat melakukan pengkajian
tingkat kesdaran mulai dari keadaan composmetris (keadaan maksimal) sampai
dengan koma (pasien tidak dalam keadaan sadar)(Sulistyawati2013,h.189)
c.
Tanda-tanda
vital
Dilakukan
pemeriksaan tanda-tnda vital untuk memantau tekanan darah, frekuensi nadi,
suhu, dan pernapasan pada ibu bersalin (Sulistyawati, 2012).
d.
Tinggi
badan
Pengukuran
tinggi badan untuk mendeteksi masalah penapisan kelainan panggul dengan tinggi
badan kurang dari 145 cm. (Sulistyawati,Op.cit,h.6)
e.
Berat
badan
Penimbangan
berat badan pada setiap kali kunjungan
antenatal dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan pertumbuhan
janin.(Mandang,et al.,Op.cit,h.204).
Rata-rata kenaikan berat badan Selama hamil adalah
10-20 Kg atau minimal 20 % dari berat
badan ideal sebelum hamil. (Ibid,h.86) dan 0,5 kg/minggu pada kehamilan
trimester II sampai III. (Sulistyawati,Op.cit.h.69)
f.
LILA
Pengukuran
LILA hanya dilakukan pada kontak pertama untuk skrining ibu hamil berisiko
kurang energi kronis (KEK). Kurang energi kronik disini maksudnya ibu hamil
yang mengalami kekurangan gizi dan telah berlangsung lama dimana LILA kurang
dari 23,5 cm. (Mandang,et al.,Lot.cit,h.205)
g.
Abdomen
Untuk
mengetahui bentuk, ada bekas luka operasi atau tidak, striae, linea, TFU, hasil
pemeriksaan palpasi Leopold, TBJ, dan DJJ.
h.
Pemeriksaan
labolatorium
Nilai
ambang batas yang digunakan untuk menentukan status enemia ibu hamil,
didasarkan pada krieria WHO tahun 1972 ditetapkan 3 kategori yaitu : normal
>11 gr/dl, ringan 8-11 gr/dl, berat <8 gr/dl (Rukiyah dan Yulianti,
2014,h.115)
b.
Interpretasi Data Dasar
a.
Diagnosa kebidanan
Pada
langkah ini dilakukan identifikasi terhadap
diagnosis, masalah, dan kebutuhan pasien berdasarkan intrerpretasi yang
benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Langkah awal dari perumusan
diagnosis atau masalah adalah pengolahan data analisis dengan menggabungkan
data satu dengan data lainnya sehingga tergambar fakta (Sulistyawati 2013 )
b.
Masalah
Dalam asuhan kebidanan istilah “masalah” dan “diagnosis” dipakai keduanya
karena beberapa masalah tidak dapat didefinisaikan sebagai diagnosis, tetapi
perlu dipertimbangkan untuk membuat rencana yang menyeluruh. Masalah sering berhubungan dengan bagaimana wanita itu mengalami
kenyataan terhadap dignosisnya.
c.
Kebutuhan
Dalam
bagian ini bidan menentukan kebutuhan pasien berdasarkan keadaan dan
masalahnya.
c.
Merumuskan Diagnosa/Masalah Potensial
Pada
langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosis potensial lain
berdasarkan rangkaian masalah yang lain juga. Langkah ini membutuhkan
antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil terus mengamati
kondisi klien. Bidan diharapkan bersiap-siap
bila diagnosis atau masalah potensial benar-benar terjadi.
d.
Antisipasi Masalah Potensial
Pada
langkah ini bidan mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial berdasarkan
rangkaian masalah dan diagnosis potensial berdasarkan rangkaian masalah dan
diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi bila
memungkinkan dilakukan pencegahan sambil mengawasi pasien bidan bersiap-siap
bila masalah potensial benar-benar terjadi.
e.
Merencanakan Asuhan Kebidanan
Pada
langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh berdasarkan langkah sebelumnya.
Semua perencanaan yang dibuat harus berdasarkan pertimbangan yang tepat,
meliputi pengetahuan, teori yang up to date, perawatan berdasarkan bukti
(evidence based care), serta divalidasikan dengan asumsi mengenai apa yang
diinginkan dan tidak diinginkan oleh pasien.
f.
Pelaksanaan Asuhan Kebidanan
Pada
langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah
kelima dilaksanakan secara efisien dan aman.
g.
Evaluasi
Untuk
mengetahui sejauh mana keberhasilan asuhan yang kita berikan kepada pasien.
2. Persalinan
a.
Pengkajian data
1)
Keluhan
utama
Keluhan
utama ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang ke fasilitas pelayanan
kesehatan. (Sulistyawati,Op.cit,h.181).
2)
Pola
makan
Data
ini penting untuk diketahui agar bisa mendapatkan gambaran bagaimana pasien
mencukupi asupan gizinya selama hamil sampai dengan masa awal persalinan. Data
fokus mengenai asupan makanan paisen adalah kapan atau jam berapa terakhir kali
makan, makanan yang dimakan, jumlah makanan yang dimakan, seandainya saat ini
ingin makan, apa yang ia inginkan sebelum masuk pada fase persalinan dimana ia
tidak akan mungkin atau tidak ingin lagi untuk makan (Sulistyawati, 2012
3)
Pola
minum
Pada
masa persalinan, data mengenai intake cairan saangat penting karena akan
menentukan kecenderungan terjadinya dehidrasi. Data yang kita tanyakan
berkaitan dengan intake cairan adalah kapan terakhir kali minum, berapa banyak
yang diminum, apa yang diminum.
4)
Pola
istirahat
Istirahat
sangat diperlukan oleh pasien untuk mempersiapkan energy menghadapi proses
persalinannya, hal ini akan lebih penting lagi jika proses persalinannya, hal
ini akan lebih penting lagi jika proses persalinannya mengalami pemanjangan
waktu pada kala I. Data yang perlu ditanyakan yang berhubunngan dengan
istirahat pasien adalah kapan terakhir
tidur dan berapa lama.
5)
Aktivitas
seksual
Data
yang kita perlukan berkaitan dengan aktivitas seksual adalah keluhan,
frekuensi, kapan terakhir melakukan hubungan seksual.
6)
Pemeriksaan
umum
a)
Keadaan
umum
Untuk
mengetahui data ini kita cukup dengan mengetahui keadaan pasien secara
menyeluruh. (Sulistyawati,Op.cit,h.188)
b)
Tanda-tanda
vital
Dilakukan
pemeriksaan tanda-tnda vital untuk memantau tekanan darah, frekuensi nadi,
suhu, dan pernapasan pada ibu bersalin (Sulistyawati, 2012).
c)
Pemeriksaan
abdomen
Pemeriksaan
abdomen bertujuan untuk menentukan tinggi fundus uteri, memantau kontrasi
uterus, memantau denyut jantung janin, menentukan presentasi,dan menentukan
penurunan bagian terbawah janin (Sondakh, 2013, h. 107).
i.
Pemeriksaan
dalam
Pemeriksaan
dalam adalah pemeriksaan genetalia bagian dalam mulai dari vagina sampai
serviks menggunakan dua jari, yang salah satu tehniknya adalah dengan
menggunakan skala ukur jari (lebar 1 jari berarti 1 cm) untuk menentukan
dilatasi serviks(porsio) (Sulistyawati, 2012).
b.
Interprestasi data
Langkah
ini dilakukan dengan mengidentifikasi data secara benar terhadap diagnosis atau
masalah kebutuhan pasien. Masalah atau diagnosis yang spesifik dapat ditemukan
berdasarkan interprestasi yang benar terhadap data dasar (Wildan dan
Hidayat,2013,h,37).
c.
Identifikasi diagnose dan masalah potensial
Langkah
ini dilakukan dengan mengidentifikasi masalah atau diagnosis potensial yang
lain berdasarkan beberapa masalah dan diagnosis yang sudah diidentifikasi
(Wildan dan Hidayat,2013,h,37).
d.
Identifikasi dan menetapkan kebutuhan yang memerlukan penanganan
segera
Tahap
ini dilakukan oleh bidan dengan melakukan identifikasi dan menetapkan beberapa
kebutuhan setelah diagnosis dan masalah ditegakkan. (Wildan dan
Hidayat,2013,h,38).
e.
Perencanaan asuhan secara menyeluruh
Setelah
beberapa kebutuhan pasien ditetapkan, diperlukan perencanaan secara menyeluruh
terhadap masalah dan diagnosis yang ada (Wildan dan Hidayat,2013,h,38).
f.
Pelaksanaan
Tahap
ini merupakan tahap pelaksanaan dari semua rencana sebelumnya, baik terhadap
masalah pasien ataupun diagnosis yang ditegakkan (Wildan dan Hidayat,2013,
h.39).
g.
Evalusi
Merupakan
tahap terakhir dalam manajemen kebidanan, yakni dengan melakukan evaluasi dari
perancanaan maupuan pelaksanaan yang dilakukan bidan. Evaluasi sebagai bagian
dari proses yang dilakukan secara terus-menerus untuk meningkatkan pelayanan
secara komprehensif dan selalu berubah sesuai dengan kondisi atau kebutuhan
klien. (Ibid,h,39).
3. Nifas
a.
Pengkajian data
Data Subjektif
1)
Keluhan
utama
Keluhan
utama ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang kefasilitas pelayanan
kesehatan (Sulistyawati,Op.cit,h.181).
Data Objektif
1)
Keadaaan
umum
Data
ini didapat dengan mengamati keadaan pasien secara keseluruhan, hasil
pengamatan baik jika klien memperlihatkan respons yang baik terhadap lingkunagn dan orang lain,
serta secara fisik klien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan. (sulistyawati,
2013).
2)
Kesadaran
Untuk
mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien, kita dapat melakukan pengkajian
derajat kesadaran pasien dari keadaan komposmentis (kesadaran maksimal)
sampai dengan koma (pasien tidak dalam
keadaan sadar) (sulistyawati, 2012)
3)
Tanda-tanda
vital
Dilakukan
pemeriksaan tanda-tnda vital untuk memantau tekanan darah, frekuensi nadi,
suhu, dan pernapasan pada ibu nifas (Sulistyawati, 2013).
4)
Payudara
Dilakukan
pemeriksaan payudara untuk mengetahuai keadaan payudara dan putting susu (Dewi,
2013).
5)
Abdomen
Dilakukan
pemeriksaan abdomen untuk mengetahui keadaan kandung kemih, uterus, dan TFU
(dewi, 2013).
6)
Anogenital
Dilakukan
pemeriksaan untuk mengetahui jenis lokia, keadaan bekas luka jahitan pada
perineum, tanda-tanda infeksi dan haemorid (Dewi, 2013).
b.
Interprestasi data
Langkah
ini dilakukan dengan mengidentifikasi data secara benar terhadap diagnosis atau
masalah kebutuhan pasien. Masalah atau diagnosis yang spesifik dapat ditemukan
berdasarkan interprestasi yang benar terhadap data dasar (Wildan dan
Hidayat,2013,h,37).
c.
Identifikasi diagnose dan masalah potensial
Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi masalah atau
diagnosis potensial yang lain berdasarkan beberapa masalah dan diagnosis yang
sudah diidentifikasi (Wildan dan Hidayat,2013,h,37).
d.
Identifikasi dan menetapkan kebutuhan yang memerlukan penanganan segera
Tahap
ini dilakukan oleh bidan dengan melakukan identifikasi dan menetapkan beberapa
kebutuhan setelah diagnosis dan masalah ditegakkan. (Wildan dan
Hidayat,2013,h,38).
e.
Perencanaan asuhan secara menyeluruh
Setelah
beberapa kebutuhan pasien ditetapkan, diperlukan perencanaan secara menyeluruh
terhadap masalah dan diagnosis yang ada (Wildan dan Hidayat,2013,h,38).
f.
Pelaksanaan
Tahap
ini merupakan tahap pelaksanaan dari semua rencana sebelumnya, baik terhadap
masalah pasien ataupun diagnosis yang ditegakkan (Wildan dan
Hidayat,2013,h,39).
g.
Evalusi
Merupakan
tahap terakhir dalam manajemen kebidanan, yakni dengan melakukan evaluasi dari
perancanaan maupuan pelaksanaan yang
dilakukan bidan. Evaluasi sebagai bagian dari proses yang dilakukan secara
terus-menerus untuk meningkatkan pelayanan secara komprehensif dan selalu
berubah sesuai dengan kondisi atau kebutuhan klien. (Ibid,h,39).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar